Profil Imam Tantowi, Penulis Skenario Tukang Bubur Naik Haji yang Meninggal Dunia

Profil Imam Tantowi, Penulis Skenario Tukang Bubur Naik Haji yang Meninggal Dunia

Gaya Hidup | inews | Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:38
share

JAKARTA, iNews.id – Dunia perfilman Indonesia kehilangan salah satu sineas seniornya. Imam Tantowi meninggal dunia pada Jumat (21/8/2026) petang di Karawaci, Tangerang, Banten, dalam usia 80 tahun.

Kabar wafatnya Imam Tantowi disampaikan Humas Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Evry Joe. Jenazah sang sineas kemudian disemayamkan di rumah duka di kawasan Karawaci, Tangerang. 

"Telah berpulang, meninggal dunia, Bapak Imam Tantowi. Beliau adalah sutradara besar kita, berpulang pada sore ini di usia 80 tahun," kata Evry Joe, belum lama ini.

Kepergian Imam Tantowi meninggalkan jejak panjang. Selama lebih dari lima dekade, dia berkarya di berbagai bidang, mulai dari panggung sandiwara, pekerja belakang layar film, penulis skenario, sutradara, hingga penulis cerita sinetron.

Namanya pun melekat pada sejumlah karya populer, termasuk Saur Sepuh, Soerabaia 45, hingga cerita yang kemudian dikenal luas melalui Tukang Bubur Naik Haji. 

Lantas, seperti apa perjalanan karier Imam Tantowi hingga akhirnya tutup usia di usia 80 tahun? Simak informasi selengkapnya hanya di artikel ini. 

Profil Imam Tantowi

Imam Tantowi lahir di Tegal pada 13 Agustus 1946. Sebelum dikenal sebagai sutradara, dia lebih dulu mengasah kemampuan di panggung sandiwara.

Pada 1966 hingga 1969, Imam Tantowi aktif sebagai pemain sekaligus sutradara sandiwara. Dari dunia teater inilah pengalaman kreatifnya mulai terbentuk. 

Dia kemudian pernah bekerja sebagai pembuat poster film sebelum hijrah ke Jakarta dan mulai mendapatkan kesempatan masuk ke industri perfilman.

Perjalanan tersebut membuat Imam Tantowi tidak langsung duduk di kursi sutradara. Dia melewati berbagai posisi di balik layar untuk memahami proses produksi film dari bawah.

Pada 1971, dia terlibat dalam film Biarkan Musim Berganti sebagai dekorator. Dua tahun kemudian, dia dipercaya menjadi penata artistik film Si Rano (1973). 

Dari Asisten Sutradara hingga Penulis Skenario

Karier Imam Tantowi terus berkembang. Pada 1977, dia mulai dipercaya menjadi asisten sutradara melalui film Jalal Kawin Lagi.

Setahun kemudian, Imam Tantowi mulai menulis skenario untuk film Dang Ding Dong (1978). Sejak saat itu, kemampuannya sebagai penulis cerita dan skenario semakin diperhitungkan di industri film Indonesia.

Langkah panjang tersebut akhirnya membawanya ke kursi sutradara.

Pada 1982, Imam Tantowi melakukan debut penyutradaraan melalui film Pasukan Berani Mati. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal lewat film-film bergenre laga dan kolosal. Arsip Festival Film Indonesia mencatat film-film yang disutradarainya pada umumnya memang berada dalam genre laga.

Saur Sepuh hingga Soerabaia 45

Imam Tantowi kemudian melahirkan berbagai karya yang menjadi bagian dari perjalanan film Indonesia.

Beberapa film yang disutradarainya antara lain Pasukan Berani Mati, Lebak Membara, Dia Sang Penakluk, Carok, Residivis, Menumpas Teroris, Kelabang Seribu, hingga Tujuh Manusia Harimau.

Namanya juga semakin identik dengan karya-karya kolosal seperti Saur Sepuh dan Soerabaia 45. 

Salah satu pencapaian terbesar Imam Tantowi datang melalui Soerabaia 45. Film tersebut mengantarkannya meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik pada Festival Film Indonesia 1991. 

Namun, sebelum mendapatkan penghargaan sebagai sutradara, Imam Tantowi lebih dulu membawa pulang Piala Citra sebagai penulis.

Pada FFI 1989, dia meraih penghargaan Penulis Cerita Asli Terbaik melalui film Si Badung. Dua tahun berselang, dia kembali mendapatkan Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik lewat Soerabaia 45. 

Beralih ke Dunia Sinetron

Ketika industri film nasional menghadapi masa sulit, Imam Tantowi ikut mencari ruang baru untuk tetap berkarya.

Kemunculan sejumlah stasiun televisi swasta membuka kesempatan baginya untuk memperluas kiprah ke dunia sinetron. Dia kemudian aktif menulis cerita dan skenario untuk berbagai produksi televisi. 

Kiprahnya di televisi pun tidak kalah gemilang. Imam Tantowi meraih penghargaan sebagai Penulis Cerita Asli Terbaik Festival Sinetron Indonesia 1994 melalui Madu Racun dan Anak Singkong.

Setahun kemudian, dia kembali meraih penghargaan serupa lewat Jejak Sang Guru. Pada Festival Sinetron Indonesia 1996, Imam Tantowi bahkan memborong penghargaan melalui Suami-Suami Takut Istri, masing-masing sebagai penulis cerita dan penyusun skenario.

Jejak Imam Tantowi di Tukang Bubur Naik Haji

Salah satu karya yang membuat nama Imam Tantowi tetap dikenang lintas generasi adalah Tukang Bubur Naik Haji. Namun, cerita ini memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar sinetron yang populer pada era 2010-an.

Arsip Festival Film Indonesia mencatat Imam Tantowi sebagai penulis cerita Bang Jagur dan Maha Kasih. Salah satu episodenya yang fenomenal adalah Tukang Bubur Naik Haji pada 1996.

Episode tersebut bahkan langsung menduduki peringkat pertama rating saat penayangan perdana. Ketika ditayangkan ulang seminggu kemudian, episode tersebut masih berada di posisi kedua. 

Cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi Tukang Bubur Naik Haji The Series pada Mei 2012. Serial tersebut mampu bertahan hingga ratusan episode dan meraih berbagai penghargaan. 

Karena itu, nama Imam Tantowi memiliki keterkaitan penting dengan lahirnya cerita Tukang Bubur Naik Haji yang kemudian berkembang menjadi salah satu sinetron panjang populer di Indonesia.

Imam Tantowi Tetap Berkarya di Berbagai Generasi

Kiprah Imam Tantowi tidak berhenti pada film dan sinetron era 1980-an atau 1990-an. Dia tetap aktif menulis cerita dan skenario hingga melewati beberapa generasi perfilman. 

Imam Tantowi terlibat sebagai penulis dalam sejumlah film seperti Ketika Cinta Bertasbih (2009), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (2013), hingga Pengabdi Setan (2017). 

Hal tersebut menunjukkan bagaimana Imam Tantowi mampu bertahan melewati perubahan besar industri hiburan Indonesia, dari era film layar lebar, kebangkitan televisi swasta, hingga perfilman modern.

Imam Tantowi Mendapat Lifetime Achievement Sebelum Berpulang

Setelah puluhan tahun mengabdi, penghargaan seumur hidup akhirnya diberikan kepada Imam Tantowi.

Pada Festival Film Indonesia 2024, Imam Tantowi mendapatkan penghargaan Pengabdian Seumur Hidup untuk Film (Lifetime Achievement). Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasinya terhadap perfilman Indonesia selama puluhan tahun. 

Penghargaan itu sekaligus menjadi salah satu penghormatan besar di penghujung perjalanan kariernya.

Kini, hampir dua tahun setelah menerima penghargaan tersebut, Imam Tantowi telah berpulang.

Imam Tantowi Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun

Imam Tantowi meninggal dunia pada Jumat (21/8/2026) petang di Karawaci, Tangerang, Banten.

Sebelum meninggal dunia, kondisi kesehatannya sempat menurun. Berdasarkan informasi keluarga yang diberitakan sejumlah media, Imam Tantowi mengalami komplikasi penyakit jantung dan paru-paru serta beristirahat di kediaman anaknya, bukan menjalani perawatan di rumah sakit.

Dari panggung sandiwara, poster film, dekorasi, penata artistik, asisten sutradara, penulis skenario, hingga sutradara peraih Piala Citra, Imam Tantowi menutup perjalanan panjangnya dengan meninggalkan warisan besar bagi perfilman dan televisi Indonesia.

Selamat jalan, Imam Tantowi. Karya-karyamu akan terus hidup dalam ingatan penonton Indonesia.

Topik Menarik