Sajian di Atas Rakit Bambu Membawa Kisah Panjang Kuliner Nusantara ke Meja Makan

Sajian di Atas Rakit Bambu Membawa Kisah Panjang Kuliner Nusantara ke Meja Makan

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 4 Agustus 2026 - 20:00
share

Sepotong bambu yang dirangkai menjadi rakit ternyata menyimpan jejak panjang perjalanan kuliner Indonesia. Selama berabad-abad, sarana sederhana itu mengangkut padi, rempah, hasil kebun, hingga ikan menyusuri sungai menuju pelabuhan sebelum berlayar ke berbagai penjuru Nusantara.

Dari perjalanan itulah lahir pertemuan budaya, tradisi memasak, dan cita rasa yang terus bertahan hingga sekarang. Kisah tersebut Agustus ini kembali dihadirkan oleh Tugu Hotels & Restaurants melalui sajian yang disusun di atas rakit bambu melalui tema "Nenek Moyangku Seorang Pelaut".

Baca juga: Nikmati Perjalanan Rasa Indonesia lewat Kolaborasi Langka Dua Chef Ternama di Puncak

Di atas rakit bambu tersusun mangkuk-mangkuk kayu berisi beragam hidangan Nusantara lengkap dengan bendera Merah Putih yang berdiri tegak di salah satu sisinya. Penyajian itu bukan sekadar dekorasi, melainkan simbol jalur perdagangan yang pernah menyatukan ribuan pulau Indonesia. Setiap sajian kemudian terasa seperti singgahan dari daerah yang berbeda.

Nasi Kecombrang hadir di dalam wadah bambu memanjang yang mengingatkan pada perahu kecil pengangkut hasil bumi. Butiran nasinya tampak mengilap dengan taburan bunga kecombrang cincang berwarna merah muda serta sehelai daun kemangi segar di atasnya. Baca juga: Rumah Kue Peranakan Tuan Wen 1980: Bangkitkan Nostalgia Warisan Rasa Tionghoa Otentik

Kepulan hangat membawa wangi khas bunga kecombrang yang lembut, berpadu dengan kesegaran daun kemangi dan sentuhan bawang merah yang ditumis perlahan. Saat disuapkan, teksturnya pulen dengan rasa gurih yang ringan sehingga memberi ruang bagi karakter rempah dari lauk pendamping.

Di sisi lain, Bebek Ireng Ungkep menghadirkan kisah panjang dari Jawa Timur melalui bumbu yang dimasak perlahan hingga menghitam pekat. Potongan daging bebek tersusun di dalam mangkuk kayu bersama cabai rawit utuh, daun pisang, dan taburan bawang goreng keemasan.

Wangi ketumbar sangrai, lengkuas, serai, daun salam, cengkih, dan sedikit bunga lawang perlahan menguar ketika hidangan didekatkan. Lapisan bumbunya menempel rapat pada setiap serat daging, menghasilkan rasa gurih dengan sentuhan manis, pedas, serta sedikit pahit khas kluwek yang saling melengkapi. Dagingnya begitu empuk hingga mudah terlepas dari tulang, sementara bawang goreng memberikan tekstur renyah pada setiap suapan.

Perjalanan kuliner kemudian berlanjut menuju Flores melalui Molo Weti Nakeng yang terinspirasi tradisi nelayan pesisir. Potongan hasil laut segar dipadukan dengan bumbu yang mengangkat kesegaran laut sebagai cita rasa utama. Berikutnya, Blitar menghadirkan Mangasati yang dikenal sebagai salah satu hidangan favorit Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ketika pulang ke kota kelahirannya. Bali memperkenalkan Lawar Embung dengan perpaduan kelapa parut, rempah, dan hasil bumi lokal yang tetap mempertahankan resep turun-temurun.

Sementara itu, Lombok menyuguhkan Berengkes Laut Pantai Sire yang dibungkus daun pisang lalu dimasak perlahan hingga wangi kunyit, serai, daun jeruk, dan ikan segar menyatu dalam setiap suapan.

Ketika disandingkan di atas rakit bambu, setiap menu menjadi kepingan kisah yang saling melengkapi. ”Karena itu, meja makan menjadi ruang untuk menelusuri sejarah Indonesia melalui cita rasa kuliner Nusantara yang berkembang dari perjalanan yang tak pernah benar-benar berhenti,” kata Regional Sales & Marketing Manager Tugu Hotels, Rosiany T. Chandra.

Sajian tematik “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” pada Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini akan hadir serentak di sejumlah properti heritage milik Tugu Group yakni Hotel Tugu Bali, Hotel Tugu Lombok, Hotel Tugu Malang, Hotel Tugu Blitar, serta House of Tugu Old Town Jakarta.

Menurut Rosiany, resep tradisional merupakan warisan yang hanya akan tetap hidup apabila terus dimasak, dibagikan, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, pengalaman bersantap ini bukan sekadar menikmati hidangan dari berbagai daerah.

”Pengunjung diajak memahami bagaimana perdagangan, budaya, dan perjalanan manusia membentuk wajah kuliner Indonesia,” jelasnya. Di atas rakit sederhana itulah, kisah panjang Nusantara kembali berlayar hingga tiba di meja makan.

Topik Menarik