Pasang Tato Permanen? Ketahui Dulu Fakta Medis di Balik Tinta Menempel Seumur Hidup

Pasang Tato Permanen? Ketahui Dulu Fakta Medis di Balik Tinta Menempel Seumur Hidup

Gaya Hidup | inews | Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:28
share

JAKARTA, iNews.id - Tato semakin populer sebagai bagian dari gaya hidup dan bentuk ekspresi diri. Namun, sebelum memutuskan merajah tubuh secara permanen, ada baiknya memahami terlebih dahulu fakta medis di balik mengapa tinta tato bisa bertahan seumur hidup di kulit.

Selama ini, banyak orang mengira permanennya tato terjadi karena tinta yang menempel kuat dan mengendap di lapisan kulit. Padahal, menurut penjelasan medis, penyebabnya bukan sekadar sifat tinta, melainkan melibatkan sistem kekebalan tubuh yang terus bekerja selama bertahun-tahun.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Adam Prabata, mengungkapkan bahwa tato dapat bertahan lama karena adanya siklus peradangan kronis yang melibatkan sel-sel imun di bawah kulit. Penjelasan tersebut dia sampaikan melalui akun Threads miliknya dengan mengacu pada penelitian ilmiah Danish study of twins berjudul Tattoo ink exposure is associated with lymphoma and skin cancers.

"Tato bisa dibilang 'permanen' bukan karena tintanya melekat selamanya di kulit, melainkan karena ada siklus peradangan kronis yang terus berulang, melibatkan sel-sel imun di bawah kulit," tulis dr Adam, dikutip Sabtu (25/7/2026).

Dia menjelaskan, ketika jarum tato menusuk kulit, tubuh langsung menganggapnya sebagai luka sekaligus masuknya benda asing. Respons alami sistem imun pun segera aktif untuk mengatasi kondisi tersebut.

Sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik bergerak menuju area yang ditato untuk menangkap partikel pigmen yang masuk ke dalam kulit.

"Sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik pun langsung bergerak untuk 'menangkap' partikel pigmen tato yang masuk," katanya.

Menurut dr Adam, sel makrofag memegang peranan penting dalam membuat tato tampak permanen. Makrofag akan menelan pigmen tinta, tetapi tidak mampu menghancurkannya karena ukuran pigmen terlalu besar dan sifatnya sangat tahan lama.

"Masalahnya, partikel pigmen itu terlalu besar dan terlalu awet untuk benar-benar dicerna. Jadi ketika makrofag yang menelannya akhirnya mati, pigmen tadi terlepas lagi ke jaringan sekitar," ujarnya.

Pigmen yang kembali terlepas kemudian akan ditelan oleh makrofag baru. Siklus menangkap, melepaskan, lalu menangkap kembali atau capture, release, recapture inilah yang membuat tato tetap terlihat selama puluhan tahun.

"Jadi intinya, tato 'permanen' itu sebenarnya hasil dari relay makrofag yang terus-menerus menangkap ulang pigmen yang dilepas oleh makrofag sebelumnya, bukan karena tinta menempel statis di kulit," katanya.

Di balik mekanisme tersebut, dr. Adam juga mengingatkan adanya potensi risiko kesehatan yang masih terus diteliti. Beberapa penelitian terbaru menunjukkan akumulasi pigmen dalam jangka panjang diduga dapat memengaruhi fungsi normal sistem kekebalan tubuh.

"Yang menarik, beberapa riset terbaru menemukan bahwa penumpukan pigmen jangka panjang ini berpotensi mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, dan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma (kanker kelenjar getah bening) serta kanker kulit," ujarnya.

Meski demikian, hubungan tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kaitan sebab-akibat. Karena itu, siapa pun yang berencana memasang tato sebaiknya memahami manfaat dan risikonya, serta memastikan prosedur dilakukan di tempat yang menerapkan standar kebersihan dan keamanan yang baik.

Topik Menarik