Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Tradisi Rebo Wekasan kembali menjadi perbincangan setiap memasuki penghujung Bulan Safar. Di berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa, sebagian masyarakat mengisi hari tersebut dengan salat sunnah, doa bersama, hingga berbagai amalan yang diyakini sebagai ikhtiar memohon perlindungan dari bala atau musibah.
Lantas, mengapa ada tradisi Rebo Wekasan di Bulan Safar? Apakah amalan tersebut memiliki dasar dalam Islam? Berikut penjelasan mengenai asal-usul, pandangan ulama, dan hadis-hadis yang berkaitan dengan Bulan Safar.
Apa Itu Rebo Wekasan?
Rebo Wekasan merupakan istilah yang populer di Indonesia, terutama dalam tradisi masyarakat Jawa. Kata Rebo Wekasan berarti Rabu terakhir pada Bulan Safar dalam kalender Hijriyahatau kalender Jawa.Berdasarkan Kalender Hijriyah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 1 Safar 1448 Hijriah bertepatan dengan Kamis, 16 Juli 2026. Bulan Safar tahun ini berumur 29 hari, sehingga 29 Safar 1448 H jatuh pada Kamis, 13 Agustus 2026.Momentum inilah yang oleh sebagian masyarakat diperingati dengan berbagai ritual keagamaan dan doa bersama.
Baca juga:Teladan Rasulullah SAW kepada Tetangga: Akhlak Mulia yang Tetap Relevan hingga Kini
Keyakinan tentang Turunnya Bala pada Rebo Wekasan
Tradisi Rebo Wekasan berkembang dari pendapat sebagian ulama dan ahli makrifat yang meyakini bahwa Allah SWT menurunkan berbagai bala atau musibah pada Rabu terakhir Bulan Safar.Salah satu pendapat tersebut dinukil oleh Abdul Hamid Quds dalam kitab Kanzun Najah was-Surur fi Fadhail al-Azminah wash-Shuhur. Dalam kitab itu disebutkan bahwa pada hari Rabu terakhir Bulan Safar turun sekitar 320.000 bala.Karena keyakinan tersebut, sebagian umat Islam melaksanakan salat sunnah empat rakaat, membaca surat-surat tertentu setelah Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan doa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari berbagai musibah selama satu tahun.
Namun demikian, keyakinan tersebut merupakan pendapat sebagian ulama dan bukan ajaran yang disepakati seluruh ulama Islam.
Islam Menolak Anggapan Bulan Safar Membawa Kesialan
Dalam ajaran Islam, Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah sebagaimana bulan-bulan lainnya. Tidak ada satu bulan pun yang secara zat membawa keberuntungan maupun kesialan.Pada masa jahiliah, masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa Bulan Safar merupakan bulan sial. Islam kemudian meluruskan keyakinan tersebut melalui sabda Rasulullah SAW.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:"Tidak ada wabah (yang menular dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak ada ramalan kesialan, tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada Bulan Safar." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena waktu atau bulan tertentu.
Para ulama menjelaskan, maksud hadis "laa 'adwaa" bukan menolak adanya penularan penyakit secara medis, tetapi membantah keyakinan jahiliah yang menganggap penyakit menular dengan sendirinya tanpa izin Allah.
Karena itu, Islam tetap memerintahkan umatnya melakukan ikhtiar.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:"Janganlah orang yang sakit dicampurkan dengan orang yang sehat." (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tetap diperintahkan menjaga sebab-sebab keselamatan sambil bertawakal kepada Allah SWT.
Apakah Ada Perayaan Rebo Wekasan dalam Islam?
Tidak terdapat dalil yang secara khusus memerintahkan umat Islam merayakan Rebo Wekasan ataupun menetapkannya sebagai hari ibadah tertentu.Meski demikian, tradisi ini telah berkembang lama sebagai bagian dari budaya masyarakat Muslim Nusantara.
Dalam penelitian berjudul "Tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci", Siti Mahmudah Yanti menjelaskan bahwa tradisi tersebut telah melekat dalam budaya Jawa dan sering dikaitkan dengan dakwah Sunan Giri.
Menurut penjelasannya, istilah Rebo Wekasan berasal dari kata Arab Arba'a yang berarti Rabu dan dipahami sebagai waktu untuk memperbanyak amal saleh. Sementara dalam bahasa Jawa, Rebo Wekasan berarti Rebo Pungkasan, yakni Rabu terakhir Bulan Safar.Ia juga menyebut adanya pendapat sebagian ulama yang menyatakan bahwa pada Bulan Safar Allah SWT menurunkan ratusan ribu musibah atau penyakit. Karena itulah sebagian masyarakat mengisinya dengan tirakat, salat sunnah, zikir, serta doa sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah.
Tradisi Rebo Wekasan di Kalangan Pesantren
Tradisi Rebo Wekasan juga masih dijumpai di sejumlah pesantren di Jawa. Dalam penelitian "Living Hadis: Tradisi Rebo Wekasan di Pondok Pesantren MQHS Al-Kamaliyah Babakan Ciwaringin Cirebon", Siti Nurjannah menjelaskan bahwa tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.Menurut keterangan Nyai Fatimah selaku pengasuh Pondok MQHS Al-Kamaliyah, tradisi Rebo Wekasan dipandang sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar terhindar dari bala atau musibah pada penghujung Bulan Safar.
Tradisi itu terus dilestarikan karena telah menjadi bagian dari budaya keagamaan masyarakat pesantren setempat.
Kesimpulan
Rebo Wekasan merupakan tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Muslim Nusantara, khususnya di Jawa. Sebagian kalangan memaknainya sebagai momentum memperbanyak doa, zikir, sedekah, dan salat sunnah untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.Namun, dari sisi syariat, Islam tidak mengajarkan bahwa Bulan Safar adalah bulan sial atau Rabu terakhir Safar pasti menjadi waktu turunnya musibah. Hadis-hadis sahih justru menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Seorang Muslim diperintahkan untuk bertawakal kepada Allah, memperbanyak amal saleh, dan tetap berikhtiar menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan.
Baca juga:5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya









