Dokter Indonesia Ciptakan AI yang Bisa Cegah Pasien Gagal Jantung Bolak-balik Masuk RS

Dokter Indonesia Ciptakan AI yang Bisa Cegah Pasien Gagal Jantung Bolak-balik Masuk RS

Gaya Hidup | inews | Selasa, 14 Juli 2026 - 17:28
share

JAKARTA, iNews.id - Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Selain jumlah penderitanya yang terus meningkat, pasien gagal jantung juga menghadapi risiko tinggi mengalami rawat ulang karena kondisi yang kembali memburuk setelah pulang dari rumah sakit.

Melihat persoalan tersebut, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Primaya Hospital Tangerang dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), SubSp.Vas(K), FIHA, mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi dini tanda-tanda memburuknya kondisi pasien gagal jantung.

Inovasi ini diharapkan mampu membantu dokter mengambil keputusan yang lebih akurat sebelum pasien dipulangkan, sekaligus memungkinkan pemantauan kondisi pasien dari rumah sehingga risiko rawat ulang dapat ditekan.

Menurut dr. Rony, salah satu penyebab utama pasien gagal jantung kembali dirawat adalah masih adanya penumpukan cairan di paru-paru atau kongesti yang tidak terdeteksi saat pemeriksaan rutin menggunakan stetoskop.

"Setelah kami lihat, salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi atau rawat berulang itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya itu masih ada cairan atau kongesti yang subklinis," ujar dr. Rony, Selasa (14/7/2026).

Dia menjelaskan, kondisi tersebut sering kali tidak terdengar melalui pemeriksaan biasa karena keterbatasan pendengaran manusia.

"Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut," katanya.

Berangkat dari masalah tersebut, dr. Rony mengembangkan AI yang mampu menganalisis suara paru-paru pasien secara lebih sensitif dibandingkan pendengaran manusia. Teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi apakah masih terdapat cairan di paru-paru sebelum pasien diizinkan pulang.

"Kami mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini lho masih ada air, ini lho masih ada cairan, sehingga pasien yang kami periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu," jelasnya.

Ke depan, teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk digunakan di rumah sakit, tetapi juga dapat dimanfaatkan pasien secara mandiri di rumah. Pasien cukup menggunakan stetoskop portabel yang terhubung dengan aplikasi di ponsel untuk melakukan pemeriksaan sederhana.

"Nanti di gadget ada aplikasi, alatnya disambungkan, kemudian pasien bisa mendengarkan sendiri. Kalau hasilnya positif, pasien bisa segera ke rumah sakit," ungkap dr. Rony.

Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan tersimpan di sistem berbasis cloud sehingga dokter maupun tenaga kesehatan dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh. Konsep ini mendukung pengembangan layanan telemedicine dan home-based monitoring yang kini semakin berkembang.

Dengan pemantauan yang lebih mudah dan berkelanjutan, pasien gagal jantung diharapkan tidak perlu terlalu sering datang ke rumah sakit hanya untuk kontrol rutin. Selain meningkatkan kualitas hidup pasien, teknologi AI ini juga berpotensi mengurangi antrean layanan kesehatan dan menekan angka rawat ulang akibat gagal jantung.

"Pengobatan yang bisa dikerjakan sendiri oleh pasien di rumah. Tidak bolak-balik ke rumah sakit, tidak antre BPJS berjam-jam, itu yang ingin kita bantu," tutup dr. Rony.

Topik Menarik