Mengenal Kategori Kista Ovarium dan Tanda Bahayanya

Mengenal Kategori Kista Ovarium dan Tanda Bahayanya

Gaya Hidup | okezone | Minggu, 12 Juli 2026 - 08:10
share

JAKARTA Kista ovarium menjadi salah satu masalah kesehatan reproduksi yang cukup sering dialami perempuan. Meski kerap menimbulkan kekhawatiran karena dikaitkan dengan operasi hingga risiko kanker, nyatanya tidak semua kista ovarium bersifat berbahaya atau membutuhkan tindakan pembedahan.

Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menjelaskan bahwa sebagian besar kista ovarium justru dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, ada beberapa kondisi yang harus diwaspadai karena berisiko menimbulkan komplikasi serius.

"Nggak semua kista ovarium itu berbahaya dan nggak semua itu harus dioperasi. Tapi memang ada kista yang cukup dipantau, ada juga yang justru nggak boleh disepelekan," kata dr. Aditya dalam unggahan video di akun Instagram-nya.

Jenis-Jenis Kista

Menurut dr. Aditya, jenis kista yang umumnya tergolong aman adalah kista fungsional, seperti kista folikel dan kista korpus luteum. Kista ini terbentuk sebagai bagian dari siklus menstruasi normal akibat proses ovulasi sehingga umumnya bersifat sementara dan bukan kanker.

Melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG), kista fungsional biasanya tampak berukuran kecil, hanya berisi cairan, berdinding tipis, dan memiliki permukaan yang halus. Pada banyak kasus, kista jenis ini dapat mengecil bahkan hilang dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan khusus.

"Yang biasanya lebih aman itu adalah kista fungsional, misalnya kista folikel atau kista korpus luteum. Dia muncul karena proses ovulasi, sehingga sering kali sifatnya sementara. Biasanya ukurannya kecil, isinya cairan, dindingnya tipis, dan pada banyak kasus bisa hilang sendiri dalam beberapa siklus haid. Kalau pasien tidak mengalami nyeri berat, tidak ada perdarahan, dan gambaran USG-nya sederhana, dokter biasanya memilih observasi terlebih dahulu sambil kontrol ulang," jelasnya.

Meski demikian, dr. Aditya mengingatkan agar perempuan tidak menganggap semua kista sebagai kondisi yang sepele. Ada sejumlah tanda yang menunjukkan bahwa kista memerlukan penanganan lebih lanjut.

Salah satunya adalah ukuran kista yang semakin besar atau terus bertambah. Kondisi tersebut dapat menekan organ di sekitarnya sehingga menimbulkan rasa penuh pada perut, nyeri panggul yang menetap, hingga meningkatkan risiko torsio ovarium, yaitu kondisi ketika ovarium terpuntir.

"Yang kedua, kalau muncul nyeri hebat secara tiba-tiba, apalagi disertai mual dan muntah, ini red flag karena bisa menandakan kistanya pecah atau ovarium terpuntir. Kedua kondisi ini termasuk kegawatdaruratan dan sering kali membutuhkan operasi secepatnya," ungkap dr. Aditya.

Selain gejala klinis, bentuk kista pada hasil USG juga menjadi pertimbangan penting. Dokter akan lebih waspada apabila kista memiliki struktur yang kompleks, seperti adanya sekat tebal, bagian padat, benjolan di dalam kista, atau dinding yang tidak rata. Karakteristik tersebut dapat meningkatkan kecurigaan terhadap kemungkinan keganasan.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kista yang tidak kunjung mengecil dalam waktu lama atau justru baru muncul setelah seorang perempuan memasuki masa menopause.

"Yang perlu diperhatikan juga kalau bentuk kistanya tidak sederhana di USG. Misalnya ada sekat tebal, ada bagian padat, ada benjolan di dalamnya, atau dindingnya tidak rata. Kista yang aman biasanya sederhana, berisi cairan, dan dindingnya halus," tambahnya.

Karena itu, penilaian terhadap kista ovarium tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan keberadaannya. Dokter akan mempertimbangkan ukuran, bentuk, gejala yang muncul, usia pasien, hingga hasil pemeriksaan penunjang sebelum menentukan apakah kista cukup dipantau atau memerlukan tindakan operasi.

"Jadi intinya, kista yang aman biasanya kecil, sederhana, dan bisa hilang sendiri. Sedangkan kista yang perlu dicurigai adalah yang berukuran besar, menyebabkan nyeri hebat, pecah, terpuntir, bentuknya kompleks, menetap lama, atau mengarah pada keganasan," jelas dr. Aditya.

Di akhir penjelasannya, dr. Aditya mengimbau perempuan agar tidak panik saat didiagnosis mengalami kista ovarium. Namun, ia juga mengingatkan agar tidak mengabaikan kondisi tersebut dan tetap rutin memeriksakan kesehatan reproduksi ke dokter.

"Jangan semua kista langsung bikin panik, tapi jangan juga semua kista dianggap sepele. Menentukan aman atau tidaknya kista bukan hanya dari ada atau tidaknya kista, tetapi juga dari bentuknya, ukurannya, gejalanya, dan kondisi pasien itu sendiri," pungkasnya.

Topik Menarik