Tega Sekap dan Aniaya Pacar, Apakah Taufik Hidayat Psikopat? Ini Penjelasan Psikolog

Tega Sekap dan Aniaya Pacar, Apakah Taufik Hidayat Psikopat? Ini Penjelasan Psikolog

Gaya Hidup | inews | Minggu, 28 Juni 2026 - 15:12
share

JAKARTA, iNews.id - Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan Taufik Hidayat terhadap kekasihnya, YTR, selama tiga tahun terus menjadi perhatian publik. Kekerasan yang diduga dialami korban hingga menyebabkan luka fisik serius memunculkan pertanyaan, apakah pelaku memiliki gangguan psikologis, termasuk psikopat?

Psikolog dari Unit Layanan Psikologi Terpadu (ULPT) Universitas Islam Bandung, Yunita Sari, menilai perilaku yang ditunjukkan Taufik Hidayat memang memiliki sejumlah karakteristik yang mengarah pada kecenderungan psikopat. Namun, dia menegaskan bahwa seseorang tidak dapat langsung diberi label psikopat tanpa pemeriksaan profesional.

"Perilaku TH ada kemungkinan memiliki kecenderungan psikopat yang ditandai dengan ketiadaan empati, manipulasi, dan pelanggaran hak orang lain secara terus-menerus tanpa rasa bersalah," kata Yunita saat dihubungi iNews.id, Minggu (28/6/2026). 

"Selain itu, adanya penyiksaan yang sadis juga menunjukkan kemungkinan kecenderungan gangguan sadisme seksual," tambahnya.

Meski demikian, Yunita menekankan bahwa diagnosis psikopat hanya dapat ditegakkan melalui asesmen klinis yang dilakukan oleh tenaga profesional. Karena itu, penilaian terhadap Taufik Hidayat masih sebatas dugaan berdasarkan perilaku yang muncul ke publik.

Menurut Yunita, tindakan yang diduga dilakukan pelaku bukan sekadar kekerasan dalam hubungan, melainkan sudah mengarah pada bentuk ekstrem 'coercive control' atau kontrol paksa serta 'extreme intimate partner violence'. 

Dalam kondisi seperti ini, pelaku memandang pasangan sebagai objek yang harus dikuasai sepenuhnya, bukan sebagai individu yang memiliki hak dan kebebasan.

Dia menilai dugaan penyiksaan yang menyebabkan korban mengalami luka serius, seperti gangguan pada mata hingga bibir yang diduga digunting, memperlihatkan adanya unsur kekerasan yang sangat sadis. Selain itu, penyekapan selama tiga tahun juga menunjukkan adanya perampasan hak dasar korban untuk hidup bebas.

Yunita menjelaskan bahwa hubungan yang berujung pada penyekapan umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Pelaku biasanya memulai dengan kontrol yang terlihat sebagai bentuk perhatian, seperti cemburu berlebihan, membatasi pergaulan, mengontrol aktivitas hingga memutus hubungan korban dengan keluarga maupun teman-temannya.

"Awalnya mungkin berupa cemburu yang dianggap perhatian. Kemudian berkembang menjadi pembatasan terhadap lingkungan sosial korban hingga akhirnya korban berada dalam kondisi isolasi yang parah," jelasnya.

Sementara itu, Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, menjelaskan bahwa kasus tersebut juga memperlihatkan pola 'abusive relationship' atau hubungan yang dipenuhi kekerasan.

Menurut Stephani, korban dalam hubungan abusif seringkali bertahan karena terjebak dalam siklus yang terus berulang. Setelah melakukan kekerasan, pelaku biasanya meminta maaf, bersikap romantis, lalu mengulangi tindakan yang sama ketika konflik kembali muncul.

"Hubungan yang abusif memiliki siklus. Setelah terjadi kekerasan biasanya ada fase rekonsiliasi, pelaku meminta maaf, hubungan kembali terasa baik, lalu kekerasan terjadi lagi. Pola ini membuat korban sulit keluar dari hubungan tersebut," ungkap Stephani.

Dari penjelasan ini, penting bagi pembaca untuk mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sejak dini. 

Sikap posesif, mengontrol aktivitas pasangan, membatasi komunikasi dengan keluarga dan teman, hingga melakukan intimidasi bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan gejala awal hubungan yang berpotensi berkembang menjadi kekerasan.

Topik Menarik