Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi, Ini Penjelasan Psikolog Forensik

Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi, Ini Penjelasan Psikolog Forensik

Gaya Hidup | okezone | Jum'at, 26 Juni 2026 - 17:05
share

KASUS dugaan penganiayaan yang dialami YTR oleh TH kembali memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Banyak yang bertanya, mengapa seseorang bisa tetap bertahan dalam hubungan yang diwarnai kekerasan, padahal pelaku mengaku mencintai korbannya?

Padahal, hubungan toksik yang terjalin seharusnya segera diakhiri. Dengan begitu, hal-hal yang tidak diinginkan takkan terjadi.

1. Alasan Korban Kekerasan Tak Selalu Bisa Pergi

Psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan bahwa fenomena tersebut bukanlah hal yang langka. Menurutnya, kekerasan dalam hubungan, baik dalam rumah tangga maupun pacaran, sebenarnya cukup sering terjadi dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

"Yang sedang kita bicarakan saat ini adalah fenomena yang jamak terjadi, namun dengan spektrum yang berat," ujar Reza di acara Morning Zone.

Reza menjelaskan bahwa ikatan emosional yang kuat kerap membuat korban sulit melepaskan diri dari hubungan yang sudah tidak sehat. Reza mengibaratkannya dengan ungkapan lama, love is blind atau cinta itu buta.

Menurutnya, ketika seseorang telah menaruh hati dan membangun kelekatan emosional yang mendalam, berbagai konflik hingga tindakan kekerasan sering kali tidak langsung membuat korban meninggalkan hubungan tersebut.

“Kenapa bisa terjadi relasi semacam ini? Ada lagu lama, Love is Blind gitu ya. Bahwa cinta itu buta, cinta itu membutakan. Dan pada saat yang sama, saya yang berusaha ya, korban ini adalah sosok yang kehilangan faktor protektif yang paling fundamental. Apa itu faktor protektifnya? Yaitu keluarga, tempat dia bisa pulang, tempat dia bisa kembali menemukan pertolongan dan sejenisnya,” ujar Reza.

“Nah, ketika kemudian hati telah tertambat pada seseorang, namun kemudian relasi itu problematik, relasi itu penuh dengan konflik, bahkan kemudian relasi itu diwarnai dengan kekerasan, berpulang,” lanjutnya.

 

2. Faktor Protektif

Selain ikatan emosional, Reza menilai hilangnya faktor protektif juga menjadi penyebab utama korban tetap bertahan. Faktor protektif yang dimaksud adalah keberadaan keluarga atau lingkungan terdekat yang dapat menjadi tempat berlindung, mencari pertolongan, serta memberikan dukungan.

Ketika hubungan telah dipenuhi konflik dan kekerasan, sementara korban tidak lagi memiliki sistem pendukung yang kuat, kondisi tersebut dapat memunculkan rasa pasrah dan ketidakberdayaan. Akibatnya, korban berisiko mengalami kekerasan secara berulang karena merasa tidak memiliki pilihan lain untuk keluar dari hubungan tersebut.

Reza menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dipandang sebagai bentuk kelemahan korban. Menurutnya, kelekatan emosional yang kuat ditambah hilangnya dukungan dari keluarga atau orang-orang terdekat membuat korban berada dalam situasi yang sangat sulit.

"Korban kehilangan faktor protektif yang paling fundamental, yaitu keluarga. Tempat dia bisa pulang, tempat dia bisa kembali menemukan pertolongan," jelas Reza.

“Ya, barangkali kepasrahan dalam kurung ketidakberdayaan jadi sebuah kondisi yang tidak terelakkan. Bersedia untuk kemudian berulang kali menjadi bulan-bulanan adalah sebuah risiko yang sangat pahit harus ditanggung akhirnya oleh orang sekali lagi yang berada dalam perubahan seperti itu yang ditandai oleh kelekatan emosi yang kuat pada orang lain,” lanjutnya.

“Dan pada saat yang sama juga kehilangan faktor protektif paling fundamental sebagaimana yang tadi saya sebut,” jelas Reza.

Kasus YTR dan TH pun menjadi pengingat bahwa penanganan kekerasan dalam hubungan tidak hanya berfokus pada proses hukum terhadap pelaku. Penting juga memastikan korban memperoleh perlindungan, pendampingan psikologis, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan agar dapat pulih dan terlepas dari relasi yang tidak sehat.

Topik Menarik