Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree

Kamboja Targetkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Indonesia, Fokus Double Degree

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 18 Juni 2026 - 19:46
share

Upaya memperkuat kolaborasi pendidikan tinggi di kawasan ASEAN terus didorong. Salah satunya melalui seminar internasional bertajuk Bridging ASEAN Member States Through Higher Education yang digelar MNC University di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Di mana kegiatan tersebut mempertemukan akademisi dan pemangku kepentingan pendidikan dari Indonesia dan Kamboja untuk membahas peluang kerja sama lintas negara. Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pendidikan Kamboja, Ith Vuthy.

Baca juga: Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN

Dalam sambutannya, Ith Vuthy mengungkapkan pihaknya ingin menghidupkan kembali program double degree antara perguruan tinggi Indonesia dan Kamboja. Di mana program tersebut sempat terhenti sejak pandemi Covid-19.

Ia menilai, program itu pernah berjalan aktif dan menjadi salah satu bentuk kerja sama pendidikan yang memberikan manfaat bagi kedua negara.“Biasanya saya melakukan program double degree antara Indonesia dan Kamboja dari tahun 2012 sampai pandemi. Setelah pandemi program ini terhenti,” kata Vuthy dalam sambutannya pada Kamis (18/6/2026).

Baca juga: MNC University Siapkan Program Double Degree dan Pertukaran Mahasiswa dengan Kampus ASEAN

Karena itu, ia berharap kerja sama yang dibangun dapat menjadi momentum untuk mengaktifkan kembali program-program akademik lintas negara.

“Kita harus melakukan inisiatif lagi agar program ini terlaksana setelah kita menandatangani MoU,” ujarnya.

Vuthy juga menjelaskan, kerja sama pendidikan tinggi tidak boleh berhenti hanya pada penandatanganan nota kesepahaman. Ia menilai kerja sama ini harus diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata seperti penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga program profesor tamu.Dalam kesempatan itu, Ith Vuthy juga mengungkapkan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan dalam membangun kolaborasi pendidikan lintas negara. Mulai dari perbedaan kurikulum, bahasa, budaya, hingga keterbatasan pendanaan.

Karena itu, ia menilai kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu faktor penting bagi mahasiswa maupun dosen yang ingin terlibat dalam program internasional.

“Bahasa adalah hambatan besar bagi kami. Karena itu peserta harus memiliki kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang baik,” katanya.

Topik Menarik