Menkes Budi Gunadi Soroti Tren FOMO Lari Maraton: Tak Masalah Asal Sehat!
JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, soroti tren ikut-ikutan atau fear of missing out (FOMO) dalam olahraga lari. Teranyar, tren ini terjadi dalam sebuah ajang lari maraton.
Fenomena lari kini memang semakin digandrungi masyarakat. Tetapi, Menkes Budi tak masalah dengan munculnya tren FOMO lari.
1. Tren FOMO Lari
Menurut Budi, FOMO dalam olahraga justru bisa menjadi hal positif jika mampu mendorong masyarakat menjalani gaya hidup sehat. Ia juga mengaku takjub melihat antusiasme puluhan ribu peserta yang rela bangun sejak dini hari demi mengikuti ajang marathon lari.
“Ini karena ada puluhan ribu orang yang bangun sekitar jam 3 pagi untuk hadir di BTN Jakarta International Marathon untuk lari. Memang yang lari ini beberapa ada yang benar-benar serius lari, tapi ada juga ikut-ikutan karena FOMO,” kata Budi.
Menurut Menkes Budi, FOMO bisa menjadi pintu masuk masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup sehat. Jadi, dia tak masalah dengan tren tersebut.
“Nggak papa juga, bagus buat FOMO itu jadi gaya hidup atau lifestyle yang keren,” ujarnya.
2. Motivasi Berbeda
Menurut Menkes Budi, setiap peserta yang mengikuti lomba lari memiliki motivasi yang berbeda. Ada yang serius mengejar catatan waktu terbaik, namun ada pula yang sekadar mengikuti tren yang sedang populer.
“Dari puluhan ribu peserta yang turun ke jalanan hari ini, saya perhatikan beberapa memang ada yang benar-benar serius lari untuk mengejar waktu terbaik harian mereka. Tapi, di sisi lain, ada juga yang mungkin sekadar ikut-ikutan karena terkena tren FOMO,” tulis Budi.
Bagi Budi, motivasi awal seseorang bukanlah hal yang paling utama. Ia menekankan bahwa manfaat kesehatan yang diperoleh dari aktivitas fisik justru jauh lebih utama.
Menkes Budi pun mengingatkan bahwa rutin berlari dapat membantu menjaga kesehatan dan menurunkan risiko berbagai penyakit. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat untuk tetap bergerak dan konsisten hidup sehat.
“Apa pun motivasi awal kalian, baik karena memang serius berlatih ataupun sekadar ikut-ikutan tren, hal yang paling esensial adalah dampaknya bagi tubuh,” tutupnya.









