Hepatitis B Kronis Tak Bisa Sembuh Total, Penderita Harus Minum Obat Seumur Hidup

Hepatitis B Kronis Tak Bisa Sembuh Total, Penderita Harus Minum Obat Seumur Hidup

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 2 Juni 2026 - 14:11
share

Penyakit Hepatitis B kronis tak bisa sembuh total. Namun, pengobatan yang sudah ada dapat membantu mengurangi gejala, menekan produksi virus, serta menurunkan risiko komplikasi yang serius.

Hal itu disampaikan Budi saat menghadiri talkshow Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 bertema Solid Habits Strong Liver di Kementerian Kesehatan Jakarta pada Selasa (2/6/2026).

Menurut Budi, penyakit hati kronis masih menjadi masalah kesehatan besar di dunia. Di mana lebih dari 300 juta orang hidup dengan penyakit hati kronis dan sekitar 2 juta orang meninggal setiap tahun akibat kondisi tersebut.

Baca Juga : 5 Imunisasi Wajib Hepatitis B

“Penyakit yang berkaitan dengan hati ini luar biasa. Di dunia, lebih dari 300 juta orang terkena penyakit hati kronis. Meninggalnya setahun 2 juta orang,” kata Budi.Dari total kematian tersebut, lebih dari separuhnya disebabkan infeksi virus, terutama Hepatitis B dan Hepatitis C. Budi pun mengaku cukup terkejut ketika mengetahui karakteristik Hepatitis B berbeda dengan Hepatitis C.

Hepatitis B ternyata tidak bisa disembuhkan dan pasien harus minum obat setiap hari seumur hidup. Sementara Hepatitis C masih bisa disembuhkan dengan obat yang diminum selama 12 minggu.

“Saya kaget juga, ternyata saya pernah Hepatitis B juga. Saya baru tahu bahwa itu nggak bisa disembuhkan. Kalau Hepatitis C bisa disembuhkan, ada obatnya diminum selama 12 minggu. Tapi kalau Hepatitis B nggak bisa sembuh, harus minum obat setiap hari seumur hidup,” ujarnya.

Baca Juga : Bukan Sekadar Penyakit Kuning, Cegah Hepatitis

Bahkan Budi menyebut pola pengobatan Hepatitis B mirip dengan penyakit kronis lain seperti HIV maupun diabetes. Di mana dua penyakit ini memerlukan terapi jangka panjang untuk mengendalikan kondisi pasien.

Selain virus, penyebab kematian akibat penyakit hati juga berasal dari konsumsi alkohol serta gangguan metabolik seperti obesitas dan perlemakan hati. Menurut Budi, tingginya angka kasus menjadi alasan pemerintah perlu memberikan perhatian lebih terhadap upaya pencegahan dan deteksi dini penyakit hati.

“Sebagai Menteri Kesehatan saya melihat prevalensinya tinggi. Karena itu harus menjadi salah satu prioritas,” katanya.

Topik Menarik