Viral! Perempuan Ini Tidak Bisa Tidur dengan Mata Tertutup Gegara Oplas Gagal
JAKARTA - Kisah seorang perempuan di China viral menjadi perhatian publik setelah mengaku mengalami gangguan serius akibat operasi plastik kelopak mata yang dijalaninya enam tahun lalu. Akibat prosedur tersebut, ia disebut tidak dapat menutup mata secara sempurna saat tidur dan harus menghadapi berbagai masalah kesehatan serta psikologis.
Perempuan bermarga Wang itu ramai diperbincangkan di media sosial Tiongkok setelah membagikan perjuangannya mencari keadilan terhadap klinik kecantikan yang melakukan tindakan operasi tersebut pada akhir Mei lalu.
Menurut laporan Shanghai Morning Post, Wang menjalani operasi pembentukan kelopak mata ganda di Klinik Bedah Kosmetik Meixi, Suzhou, Provinsi Jiangsu, pada Juni 2020. Prosedur tersebut menghabiskan biaya sekitar 12.000 yuan atau setara Rp27 juta.
Operasi dilakukan oleh seorang perempuan bernama Meng yang mengaku sebagai direktur pemasaran klinik tersebut. Namun, setelah tindakan dilakukan, Wang langsung mengalami keluhan serius.
Pada malam setelah operasi, ia merasakan nyeri hebat pada mata, kelopak mata mengalami perubahan posisi yang tidak normal, serta terjadi penumpukan cairan di area mata. Kondisinya membuat Wang harus segera mendapatkan penanganan darurat di rumah sakit lain.
“Saya menelepon Meng yang mengatakan bahwa saya akan baik-baik saja dalam beberapa hari. Setelah itu, dia selalu menolak panggilan telepon saya,” ujar Wang.
Operasi Plastik yang Gagal
Dokter yang menangani Wang kemudian menemukan adanya kesalahan prosedur operasi. Menurut Wang, dokter menyebut kelenjar lakrimalnya terpotong dan tindakan pada kelopak mata dilakukan secara tidak tepat. Ia pun disarankan menjalani operasi lanjutan untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Meski telah menjalani tindakan korektif, kondisi matanya tidak kembali normal. Wang mengaku hingga kini masih kesulitan menutup kedua matanya secara sempurna.
Pada 2022, hasil penilaian forensik setempat menyatakan kondisi yang dialami Wang masuk kategori disabilitas tingkat sembilan.
Penyelidikan otoritas kesehatan setempat juga menemukan bahwa Meng tidak memiliki sertifikat dokter yang sah. Selain itu, klinik tempat operasi dilakukan disebut tidak memiliki izin usaha resmi. Beberapa bulan setelah kasus tersebut mencuat, klinik itu akhirnya ditutup.
“Operasi ini meninggalkan saya dengan masalah serius. Saya merasa malu untuk bekerja atau bertemu siapa pun. Saya menderita depresi dan insomnia setelah itu,” kata Wang.
Merasa dirugikan, Wang membawa kasus tersebut ke jalur hukum. Sebelum persidangan berlangsung, pihak Meng melalui pengacaranya menawarkan penyelesaian damai berupa kompensasi sebesar 850.000 yuan.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Wang diminta menghapus seluruh unggahan terkait kasus tersebut serta tidak lagi membahasnya kepada media maupun pihak berwenang. Dalam perjanjian itu juga tercantum klausul bahwa Wang harus mengembalikan 400.000 yuan jika melanggar kesepakatan.
Setelah menerima uang kompensasi, Wang mengaku mengetahui bahwa Meng justru mengunggah sejumlah video di media sosial yang berisi tudingan dan komentar negatif terhadap dirinya serta keluarganya.
Praktik Medis Ilegal
Keluarga Wang kemudian membalas dengan membagikan dokumen yang menunjukkan dugaan praktik medis ilegal yang dilakukan Meng. Wang juga muncul dalam beberapa video untuk menceritakan pengalamannya secara langsung kepada publik.
Tindakan tersebut membuat Meng menggugat Wang karena dianggap melanggar isi perjanjian.
Pada awal 2026, pengadilan memutuskan Wang harus mengembalikan 400.000 yuan sesuai kesepakatan yang telah ditandatangani sebelumnya. Wang kemudian mengajukan permohonan peninjauan kembali ke tingkat yang lebih tinggi, namun ditolak pada 23 Mei 2026.
“Sangat sulit untuk melindungi hak-hak saya,” kata Wang. “Saudari-saudari, tolong ambillah pelajaran dari saya. Pikirkanlah dengan sangat, sangat hati-hati sebelum melakukan operasi kosmetik karena itu bisa menjadi penyesalan seumur hidup Anda.”
Kasus Wang kembali memicu perdebatan mengenai keamanan prosedur operasi kosmetik di Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kasus komplikasi serius hingga kematian akibat tindakan kecantikan yang gagal kerap menjadi sorotan publik.
Salah satunya terjadi pada 2021 ketika seorang selebritas internet di wilayah Guangxi meninggal dunia setelah menjalani prosedur sedot lemak yang menyebabkan infeksi parah. Sementara pada awal 2026, seorang perempuan di Shanghai dilaporkan mengalami kerusakan saraf wajah setelah menjalani operasi kosmetik untuk mengubah bentuk telinganya agar menyerupai telinga peri.










