P2G Soroti Dampak Instruksi Penerapan Bahasa Prancis di Sekolah, Khawatir Bebani Siswa
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) ikut buka suara soal Presiden Prabowo Subianto yang menginstuksikan bahasa Prancis diajarkan di semua jenjang sekolah. P2G menilai kebijakan ini akan menambah beban murid.
"Mewajibkan pelajaran Bahasa Prancis di semua jenjang sekolah artinya mulai SD, SMP, SMA/sederajat akan menambah beban kurikulum bagi murid, mengingat struktur kurikulum nasional masih relatif padat mata pelajaran," kata Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim, dalam keterangan resmi, Sabtu (30/5/2026).
Baca juga: Prabowo ke Macron: Saya Sudah Instruksikan Sekolah di Indonesia Harus Belajar Bahasa Prancis
Satriwan menjelaskan, mata pelajaran bahasa Prancis dan bahasa asing lainnya yaitu bahasa Arab, Korea, Mandarin, Jerman, dan Jepang sudah menjadi mata pelajaran pilihan bagi murid yang berminat dan sudah masuk dalam struktur kurikulum nasional sejak Kurikulum 2006 lalu hingga Kurikulum Merdeka sekarang.
"Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris sudah termaktub eksplisit dalam struktur kurikulum nasional jenjang SMA/MA/SMK berdasarkan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 tentang Kurikulum Pada Jenjang PAUD DIKDASMEN," ungkap Satriwan.Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Sekolah Ajarkan Bahasa Prancis, DPR: Ada Tidak Sumber Dayanya?
Bahkan di jenjang SMK jurusan perhotelan dan pariwisata, mata pelajaran Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris sudah masuk dalam mata pelajaran bagi murid, sebagai program keahlian untuk mendukung keterampilan (skill) mereka dalam menghadapi dunia kerja, mengingat SMK disiapkan untuk bekerja.
Bahkan Mei 2026 ini Kemendikdasmen berencana meluncurkan Program Sertifikasi Bahasa Asing Non-Bahasa Inggris yang mencakup Bahasa Arab, Mandarin, Jepang, Korea, Jerman, dan Prancis. Skema ini telah dibuka dan menjangkau lebih dari 120 SMK dengan sasaran 13.000 siswa.
Kabid Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri menambahkan, sebagai solusi P2G merekomendasikan bahwa Kemendikdasmen dan Kemenag dapat menjadikan pelajaran Bahasa Prancis sebagai bagian dari "Kegiatan Esktrakurikuler" di sekolah seperti halnya klub bahasa Inggris, klub sepakbola, klub klub basket, KIR, Paskibra, klub bahasa Prancis, dan lainnya.
"Sebagai solusi, pemerintah dapat menjadikan bahasa Prancis dan Portugis sebagai kegiatan ekstrakurikuler murid di sekolah, jadi bentuknya klub siswa, bagi yang berminat saja, tidak wajib," pungkas Iman.Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan telah menginstruksikan sekolah-sekolah di Indonesia untuk mempelajari bahasa Prancis. Penegasan tersebut diungkapkan Prabowo saat Joint Press Statement bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Istana Elysee, Paris, Kamis (28/5/2026).
Awalnya, Prabowo mengatakan bahwa dalam beberapa hal Indonesia dan Perancis memiliki hubungan bilateral yang sangat baik. Hal ini, kata Kepala Negara, tidak lain adalah karena dukungan langsung dari Presiden Macron.
Prabowo pun menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Prancis di bidang pertahanan hubungan sangat baik. Kemudian, di bidang kerja sama sains dan teknologi pun sangat baik. Dirinya mengatakan ingin meningkatkan hubungan kerja sama di bidang pendidikan.
"Sekarang saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo.










