Kenapa Gen Z Gampang Overthinking? Psikolog Ungkap Penyebab Utamanya

Kenapa Gen Z Gampang Overthinking? Psikolog Ungkap Penyebab Utamanya

Gaya Hidup | inews | Selasa, 26 Mei 2026 - 05:05
share

JAKARTA, iNews.id - Fenomena overthinking semakin sering dikaitkan dengan generasi muda, terutama Gen Z yang tumbuh di era media sosial. Mulai dari membandingkan pencapaian hidup hingga memikirkan komentar orang lain, banyak anak muda mengaku sulit menghentikan pikirannya sendiri.

Psikolog Klinis Veny Oktaviani mengatakan, media sosial menjadi salah satu pemicu terbesar overthinking pada generasi saat ini.

"Gen Z tumbuh ketika media sosial sudah sangat masif. Mereka sangat terpapar dengan pencapaian orang lain yang terus muncul setiap hari," ujar Veny dalam podcast Hola Dok, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, kebiasaan melihat unggahan pencapaian orang lain sering memicu kecemasan dan rasa tertinggal. "Lihat teman sudah sampai titik ini, terus merasa ‘aku belum’. Itu akhirnya memunculkan cemas dan overthinking," katanya.

Veny menjelaskan, overthinking sebenarnya bukan diagnosis klinis dalam buku DSM, melainkan istilah populer yang menggambarkan pikiran berulang dan berlebihan terhadap berbagai hal.

"Apa pun dipikirkan terus-menerus. Masa depan dipikirkan, masa lalu dipikirkan, bahkan hal kecil juga dipikirkan," jelasnya.

Selain media sosial, ekspektasi dari diri sendiri maupun lingkungan juga menjadi faktor kuat munculnya overthinking.

"Orang lain memberi ekspektasi, kita juga memberi ekspektasi ke diri sendiri. Ketika merasa tidak mampu memenuhi itu, akhirnya dipikirkan terus," ujarnya.

Ia menambahkan, overthinking yang dibiarkan berlarut-larut bisa berkembang menjadi kecemasan, depresi, hingga gangguan tidur. "Kalau overthinking berlebihan bisa memicu anxiety, depresi, bahkan insomnia," katanya.

Tidak hanya berdampak pada mental, kurang tidur akibat overthinking juga bisa memengaruhi kesehatan fisik. "Kalau cemas berlebih bisa ke fisik juga, misalnya GERD," ujar Veny.

Solusi Mengatasi Overthinking Menurut Psikolog Klinis

Untuk mengurangi overthinking, Veny menyarankan masyarakat mulai membatasi paparan gadget terutama sebelum tidur.

"Satu jam sebelum tidur coba jauhkan handphone dan gadget. Kalau belum bisa, minimal 30 menit," katanya.

Selain itu, teknik grounding dan mindfulness juga dinilai efektif membantu pikiran kembali fokus pada kondisi nyata.

"Fokus pada apa yang ada di sekitar kita. Sebutkan benda yang dilihat, suara yang didengar, atau bau yang dirasakan. Itu membantu otak kembali ke kondisi saat ini," jelasnya.

Veny juga mengingatkan pentingnya menjaga pola tidur dan makan sebagai fondasi kesehatan mental.

"Tidur dan makan itu paling utama. Kalau itu saja sudah berantakan, kesehatan mental biasanya ikut terganggu," ujarnya.

Topik Menarik