Menhaj Gus Irfan Lepas Keberangkatan Musyrif Diny yang Dipimpin Kiai Cholil Nafis

Menhaj Gus Irfan Lepas Keberangkatan Musyrif Diny yang Dipimpin Kiai Cholil Nafis

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 13 Mei 2026 - 11:20
share

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) melepas keberangkatan Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis ke Tanah Suci. Gus Irfan memberikan amanah kepada Kiai Cholil Nafis sebagai Ketua Musyrif Diny yang beranggotakan 32 orang.

Mereka bertugas sebagai pembimbing dalam pelaksanaan ibadah haji 2026. “Hari ini Selasa 12 Mei 2026 saya melepas 32 Anggota Musyrif Diny untuk bertugas sebagai pembimbing dalam pelaksanaan ibadah haji 2026," kata Gus Irfan dalam akun Instagram pribadinya ketika melepas Musyrif Diny di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2026).

Gus Irfan menuturkan bahwa 32 anggota Musyrif Diny terdiri dari berbagai unsur ormas Islam. Dia memastikan semua anggota Musyrif Diny memiliki tingkat keilmuan fikih dan pengetahuan haji yang mumpuni.

Baca juga: BRIN Prediksi Iduladha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026, Berpotensi Serentak

"Sebanyak 32 anggota Musyrif Diny sendiri terdiri dari berbagai unsur ormas Islam yang tentunya memiliki tingkat keilmuan fikih dan pengetahuan haji yang mumpuni," ujar Gus Irfan.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa tahun ini jamaah haji asal Indonesia mencapai 221 ribu orang. Mereka berasal dari berbagai aliran dan ajaran Islam di Indonesia. Melalui bimbingan Musyrif Diny di bawah kepemimpinan KH Cholil Nafis, Gus Irfan berharap seluruh jamaah haji asal Indonesia bisa terwadahi dengan rukun dan fikih haji yang baik dan benar.

“Kami berharap 221 ribu jamaah haji asal Indonesia yang berasal dari berbagai aliran dan ajaran Islam di Indonesia bisa terwadahi dengan rukun dan fikih haji yang baik dan benar," tegasnya.

Di bawah kepemimpinan KH Cholil Nafis, Gus Irfan menegaskan bahwa Musrif Diny memiliki peran strategis sebagai konsultan ibadah. Mereka hadir untuk memastikan jemaah memperoleh pendampingan manasik secara benar, sahih, dan menenangkan selama menjalankan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

“Musyrif Diny bukan sekadar pendamping ibadah, melainkan penjaga kualitas manasik jemaah. Mereka memiliki tugas mulia untuk memastikan ibadah haji dilaksanakan secara sahih, tertib, dan tetap memberi kemudahan bagi jamaah sesuai prinsip syariat,” ungkap Menhaj saat melepas Musyrif Diny di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2026). Menhaj berpendapat, kehadiran Musyrif Diny menjadi penguat pilar pertama dalam konsep Tri Sukses Haji, yaitu sukses ritual. Dua pilar lainnya adalah sukses ekosistem ekonomi haji serta sukses peradaban dan keadaban.

Karena itu, Musyrif Diny diharapkan tidak hanya memahami aspek teknis manasik, tetapi juga mampu menghadirkan bimbingan yang mencerahkan, menenteramkan, dan memperkuat kesadaran spiritual jamaah.

“Dalam Tri Sukses Haji, Musyrif Diny berada di garda penting untuk memastikan sukses ritual. Mereka bertugas menjaga kesucian ibadah, membimbing manasik secara sahih, serta memastikan jemaah memahami kemudahan-kemudahan syariat tanpa kehilangan makna spiritual haji,” ungkapnya.

Menhaj pun menekankan pentingnya penguatan pemahaman fiqh taisir atau fikih kemudahan dalam layanan bimbingan ibadah. Hal ini menjadi sangat penting mengingat kondisi jamaah haji Indonesia yang beragam, termasuk jamaah lanjut usia, jamaah dengan keterbatasan fisik, serta jemaah yang menghadapi kondisi darurat di lapangan.

“Jamaah kita tidak semuanya berada dalam kondisi fisik yang sama. Ada lansia, ada yang memiliki keterbatasan kesehatan, dan ada situasi lapangan yang membutuhkan keputusan cepat. Di sinilah Musyrif Diny harus hadir dengan pemahaman fikih yang kokoh, tetapi tetap adaptif dan memberi solusi,” jelasnya.

Menhaj mengatakan, sejumlah skema layanan ibadah seperti Safari Wukuf Khusus, Murur di Muzdalifah, dan Tanazul di Mina memerlukan pendampingan yang kuat dari para pembimbing ibadah. Skema tersebut harus dijelaskan kepada jamaah secara tepat agar tidak menimbulkan keraguan dalam pelaksanaan ibadah.

“Safari Wukuf, Murur, maupun Tanazul bukan sekadar pengaturan teknis. Di dalamnya ada landasan fikih yang harus dipahami dan disampaikan dengan baik kepada jamaah. Musrif Diny harus menjadi rujukan yang menenteramkan,” pungkasnya.

Topik Menarik