Waspada Hantavirus, Kenali Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya
Ramai menjadi kekhawatiran warga dunia terkait munculnya hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Di Indonesia sendiri telah teridentifikasi sebanyak 23 kasus hantavirus pada manusia sejak tahun 2024 lalu.
Hal itu bukan menjadi hal baru dan harus menjadi perhatian kembali terkait risiko penyakit zoonosis yang meningkat di tengah padatnya pemukiman di beberapa wilayah di Indonesia. Sebab, karakteristik penularan dan tingkat fatalitasnya tak bisa dipandang rendah.
Penularan Hantavirus
Menurut dokter Spesialis Penyakit Dalam dan dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Zulistian Nurul Hidayati dr SpPD, hantavirus memiliki karakteristik penularan yang unik namun berisiko.“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” ungkapnya, melalui siaran pers, Senin (11/5/2026).
Gejala Awal Hantavirus
Dokter Spesialis Penyakit Dalam tersebut mengungkapkan bahwa sulit mengidentifikasi gejala awal saat terjangkit virus ini. Sebab, indikasi awal jika terpapar virus ini cukup umum seperti pada flu. “Oleh karena itu, tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab,” terang Zulistian.Meski gejala awalnya cenderung general, seperti batuk, flu, demam, dan nyeri otot. Namun perlu menjadi perhatian jika terjadi penurunan kondisi mendadak dan terjadinya kegagalan respirasi atau kegagalan pernapasan.
Lebih lanjut, terdapat dua dampak serius akibat paparan hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyebabkan gangguan pernapasan akut. Kemudian Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang masuk pada kategori demam berdarah yang disertai dengan gangguan ginjal akut.
Pencegahan Hantavirus
Hingga kini diketahui bahwa hantavirus memiliki lebih dari 40 varian virus dan 20 diantaranya bersifat patogenik yang memungkinkan terjadi penularan pada manusia. Pertumbuhan virus sangat berisiko terjadi di wilayah pemukiman padat penduduk dengan sanitasi yang rendah.Valencia Tanoesoedibjo Serahkan Piala Sportstive+ Badminton ke Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid
Zulistian juga menyampaikan bahwa jenis virus ini berbeda dengan COVID 19 yang persebarannya cenderung masif. Sehingga, masyarakat hanya perlu lakukan langkah preventif berupa sterilisasi dan peningkatan sanitasi di lingkungan rumah.
“Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” ungkapnya.










