Awas Komorbid Kambuh! PPIH Minta Jemaah Haji Disiplin Minum Obat
Menghadapi kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 mengeluarkan imbauan kesehatan serius bagi jemaah haji Indonesia. Peringatan medis ini disampaikan demi mencegah ancaman penyakit komorbid dan dehidrasi akut.
Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Edi Supriyatna, menegaskan bahwa manajemen tenaga adalah kunci utama keselamatan fisik. Jemaah dituntut cerdas mengukur kemampuan tubuh agar tidak tumbang sebelum fase puncak haji di Armuzna tiba.
Baca juga: Cuaca Panas Ekstrem di Makkah dan Madinah, 67 Jemaah Haji Masih Jalani Perawatan
Sering Dicubit dan Ditampar, Anwar BAB Minta Fans Jangan Sentuh dan Grepe-Grepe saat Foto Bareng
Berdasarkan pemetaan lapangan oleh tim kesehatan, terdapat perbedaan tren risiko penyakit antara jemaah gelombang pertama dan kedua. Mitigasi penanganan medis pun dirancang khusus menyesuaikan dengan kondisi riwayat mobilitas para tamu Allah tersebut.
Rombongan gelombang kedua yang mendarat di Jeddah mayoritas didominasi oleh risiko penyakit penyerta bawaan dari Indonesia. Riwayat penyakit degeneratif seperti hipertensi, gangguan jantung, hingga kencing manis sangat rentan tercetus akibat faktor kelelahan perjalanan.Kedisiplinan menenggak obat bawaan dan mengatur ritme tidur menjadi lapis pertahanan pertama bagi jemaah gelombang kedua ini. Tanpa pengendalian yang ketat, komorbid tersebut dapat sewaktu-waktu meledak dan menghentikan seluruh aktivitas ibadah.
Baca juga: Haji Ifrad: Dalil, Keistimewaan dan Tata Caranya
Di sisi lain, jemaah gelombang pertama yang bergeser dari Madinah menghadapi ancaman kelelahan imbas sengatan suhu Kota Makkah. Fisik mereka dipaksa kembali beradaptasi secara intens setelah sembilan hari menetap di kota sebelumnya.
"Artinya jangan memaksa tenaga kita sampai kita lelah, karena kalau sudah lelah itu akan terjadi gangguan kesehatan," ungkap Edi Supriyatna saat berbincang dengan Tim Media Center Haji (MCH), Senin (11/5/2026).Kondisi kolaps di lapangan sering kali dipicu oleh kelalaian jemaah yang memaksakan diri mengejar pahala ibadah sunah secara sporadis. Padahal, tujuan paling hakiki dari kedatangan mereka adalah menunaikan wukuf yang kelak akan sangat menguras stamina fisik.
Selain ancaman kelelahan, rendahnya tingkat kelembapan udara di Arab Saudi membuat jemaah sangat rawan terserang dehidrasi. Cairan dan mineral tubuh menguap dengan cepat sehingga penanganannya membutuhkan solusi lebih dari sekadar air putih biasa.
"Setiap kita dehidrasi, ternyata yang keluar itu bukan hanya air tapi elektrolit, maka dalam minumnya kita tambahkan elektrolit," tegas Edi.
Konsumsi larutan elektrolit ini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan darurat yang wajib dipenuhi oleh jemaah setiap harinya. Takaran ideal yang sangat direkomendasikan medis adalah mencampur satu saset elektrolit ke dalam 200 mililiter air per jam.
Petugas kesehatan menegaskan agar racikan elektrolit yang telah disiapkan harus langsung dihabiskan pada hari yang sama. Kepatuhan mutlak pada anjuran hidrasi dan pembatasan aktivitas fisik ini akan menjadi garansi kebugaran jemaah haji nusantara hingga puncak ibadah nanti.










