Azril Bocah Cemong yang Viral dari Temanggung, Kini Tampil Aktif dan Ceria di Momen Hardiknas 2026

Azril Bocah Cemong yang Viral dari Temanggung, Kini Tampil Aktif dan Ceria di Momen Hardiknas 2026

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 5 Mei 2026 - 06:30
share

Kisah Azril, bocah cemong yang viral di media sosial beberapa waktu lalu, kembali mencuri perhatian publik. Jika sebelumnya ia dikenal dengan wajah legam penuh debu arang saat membantu ibunya, kini Azril hadir sebagai anak yang ceria dan aktif di sekolah dalam momen Hardiknas 2026.

Dalam video, Azril terlihat datang dengan wajah cemong dan pakaian lusuh, membawa uang cicilan untuk diserahkan kepada penagih.

Setelah videonya viral, Azril dan ibunya pun mendapatkan bantuan dari pemerintah. Lalu pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 ini, Azril pun terlihat berbeda.

Baca juga: Pintu Masuk Belajar, Orang Tua Harus Tahu Apa Itu Sensori Anak

Dia termasuk salah satu dari puluhan anak-anak yang terlihat antusias dan wajah ceria datang ke sekolahnya di TK Dharma Wanita Gandulan, Kaloran, Temanggung, Jateng untuk mengikuti kegiatan Pagi Ceria dan Bermain Bersama.Suasana sekolah pagi itu dipenuhi keceriaan. Musik anak-anak terdengar bertalu, sementara berbagai permainan dan pertunjukan sederhana menghadirkan ruang belajar yang hangat dan menyenangkan bagi anak-anak.

Di tengah barisan anak-anak yang sedang menampilkan tarian kuda lumping, nampak lah Azril. Dengan gerakan lincah dan penuh semangat, ia mengikuti irama kendang bersama teman-temannya. Wajahnya bersih dan ceria, sangat berbeda dengan sosok Azril yang beberapa waktu lalu viral di media sosial karena wajahnya legam dipenuhi debu arang.

Baca juga: Mendikdasmen: 888.000 Murid TK akan Terima PIP Rp450.000 di 2026

Debu itu bukan berasal dari permainan, melainkan dari keseharian Azril yang sepulang sekolah menunggu ibunya bekerja di pabrik arang. Tempat tersebut menjadi ruang bermain sekaligus tempatnya berteduh di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Namun, di TK Dharma Wanita Gandulan, Azril hadir sebagai anak yang memiliki hak yang sama untuk belajar, bermain, tertawa, dan bermimpi. Tak hanya itu, saat anak-anak berlarian membawa kitiran mereka masing-masing, baling-baling itu berputar kencang tertiup angin pegunungan Temanggung. Di mata Azril dan teman-temannya, kitiran tidak hanya mainan biasa, melainkan simbol harapan yang terus bergerak dan tumbuh.Baca juga: Wamen Stella Tekankan Pentingnya Pola Pikir di Era AI untuk Pendidikan Anak Usia Dini

Saat sesi dongeng dimulai, suasana mendadak hening. Seorang pendongeng membawakan cerita dengan gaya jenaka yang mengundang perhatian anak-anak. Azril duduk di barisan paling depan dengan mata berbinar mengikuti setiap alur cerita. Ketika kisah mencapai bagian yang lucu, tawa Azril pecah dengan tulus dan lepas. Momen itu menjadi pengingat bahwa keceriaan adalah hak setiap anak, tanpa memandang kondisi sosial maupun ekonomi keluarganya.

Kegigihan Azril untuk terus bersekolah tidak lepas dari peran para pendidik di TK Dharma Wanita Gandulan. Guru dan kepala sekolah menjadi garda terdepan yang memastikan Azril tetap mendapatkan pendidikan dan perhatian yang layak.

Dukungan yang diberikan bahkan melampaui tugas mengajar di kelas. Para guru dengan sukarela kerap mengantarkan Azril pulang hingga ke pabrik arang agar ia dapat kembali dengan aman ke pelukan ibunya setelah kegiatan belajar selesai.

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kurniawan, menyampaikan apresiasi terhadap pola pengasuhan dan dukungan yang diberikan pihak sekolah kepada anak-anak. Menurutnya, kegiatan Pagi Ceria merupakan wujud nyata pendidikan yang inklusif dan berpihak pada tumbuh kembang anak.

“Kami memastikan bahwa anak-anak mendapat kesempatan bermain, apa pun kondisi latar belakang keluarganya. Bermain adalah cara belajar terbaik bagi mereka,” ujar Kurniawan, melalui siaran pers, Selasa (5/5/2026).

Ia juga menekankan pentingnya pelaksanaan program Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah yang terus didorong pemerintah. “Anak-anak seperti Azril harus terus berada di satuan PAUD. Dari PAUD, mereka mendapatkan stimulasi yang mendukung aspek kognitif, afektif, dan motorik. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi pembentukan karakter bangsa di masa depan,” tambahnya.

Topik Menarik