Jangan Salah Kaprah! Ini Hubungan Ejakulasi Rutin dan Risiko Kanker Prostat
JAKARTA, iNews.id - Dokter umum sekaligus influencer kesehatan ternama di Indonesia, Tirta Mandira Hudhi atau yang dikenal sebagai dr Tirta menjelaskan kaitan antara ejakulasi rutin dengan risiko kanker prostat pada pria.
Menurutnya, sejumlah penelitian menunjukkan ejakulasi yang dilakukan secara rutin dalam jangka waktu tertentu dapat membantu menurunkan risiko kanker prostat. Namun, dia mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami informasi tersebut.
dr Tirta mengatakan, ejakulasi rutin memang dianjurkan, tetapi bukan berarti harus dilakukan setiap hari atau bahkan berkali-kali dalam sehari. Dia menilai pemahaman seperti itu justru berpotensi menimbulkan masalah baru bagi kesehatan.
“Nah, terus jawaban netizen ‘Berarti kalau rutin dikeluarkan kan daripada seks bebas, co** adalah kunci’. Tetapi jangan co*** sak gon-gon, coli setiap saat dan co*** setiap jam. Nah, itu berbahaya,” kata dr Tirta dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya @dr.tirta, dikutip Selasa (7/6/2026).
Dia menjelaskan, penelitian yang membahas ejakulasi rutin sebenarnya merujuk pada interval waktu tertentu. Dalam penelitian tersebut, ejakulasi dianjurkan dilakukan sekitar tiga hingga empat hari sekali.
Frekuensi tersebut dinilai dapat membantu menjaga kesehatan sistem reproduksi pria sekaligus menurunkan risiko gangguan pada kelenjar prostat.
“Itu bisa tiga sampai empat hari sekali, paper-nya (hasil penelitian) mengatakan. Tiga sampai empat hari sekali rutin dikeluarkan, itu akan membuat produksi sperma menjadi bagus dan mengurangi faktor resiko CA prostat,” ucapnya.
Menurut dr Tirta, salah satu alasan ejakulasi rutin dikaitkan dengan kesehatan prostat adalah karena proses tersebut membantu mengeluarkan cairan semen yang diproduksi tubuh. Jika terlalu lama tidak dikeluarkan, cairan tersebut bisa menumpuk dalam sistem reproduksi.
Penumpukan tersebut terjadi di epididimis atau saluran penyimpanan sperma yang berada di dekat testis. Kondisi ini berpotensi mengganggu kualitas sperma sekaligus berdampak pada kesehatan prostat.
“Jadi karena kelamaan nggak dikeluarin, dia membantu di epididymis, di tampungan testis ya, jadi yang ganggu. Kedua, bisa mengurangi faktor resiko CA prostat itu betul. Dan itu ada paper-nya,” katanya.
Temuan terkait hubungan ejakulasi dan kesehatan prostat juga pernah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Translational Andrology and Urology Volume 15 Nomor 2 pada 28 Februari 2026.
Penelitian tersebut menyebut pria yang tidak melakukan ejakulasi selama lebih dari empat hingga tujuh hari cenderung mengalami penumpukan semen dalam sperma. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan motilitas atau kemampuan gerak sperma.
Selain itu, risiko kerusakan DNA pada sperma juga dapat meningkat. Akibatnya, meskipun jumlah sperma terlihat lebih banyak, kualitasnya justru menurun.
Sebaliknya, masa pantang ejakulasi yang lebih pendek diketahui dapat menjaga kualitas sperma tetap baik. Hal ini bahkan sering dianjurkan bagi pria yang sedang menjalani program kehamilan.
Sementara itu, laporan ilmiah yang dihimpun dari National Library of Medicine juga menyebut pria yang rutin melakukan ejakulasi memiliki kemungkinan lebih kecil terkena kanker prostat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa menjaga frekuensi ejakulasi dalam batas wajar dapat memberikan manfaat bagi kesehatan reproduksi pria. Meski begitu, para ahli tetap menekankan pentingnya memahami penelitian tersebut secara bijak.
dr Tirta mengingatkan masyarakat agar tidak menafsirkan hasil penelitian secara berlebihan. Dia menegaskan frekuensi ejakulasi yang disarankan adalah dalam interval tertentu, bukan dilakukan secara terus-menerus.










