Menkes Budi Gunadi Sadikin Ingatkan Bahaya Bukber saat Ramadan
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa aktivitas bukber (buka puasa bersama) yang sering muncul pada waktu buka Ramadhan bisa menjadi kebiasaan yang tidak sehat. Hal tersebut ia ungkapkan melalui unggahan video di akun instagramnya @bgsadikin pada Sabtu, 28 Februari 2026.
“Siapa di sini yang kalendernya sudah penuh dengan jadwal buka bersama atau bukber? Dan bukber bagus sih buat silaturahmi tapi bisa jadi tidak sehat loh,” kata Budi, dikutip Minggu (1/3/2026).
Baca juga: Momen Presiden Prabowo Berbuka Puasa Bersama Pangeran MBZ
Budi menuturkan bahwa alasan dibalik tidak sehatnya buka bersama lantaran menu makanan berat yang sering kali disantap dalam jumlah banyak sekaligus. Apalagi jika makanan tersebut mengandung karbohidrat dan gula seperti beberapa makanan yang ia tunjukan di dalam video diantaranya seperti gorengan, nasi dan juga kolak.
“Kalau kita bukber, begitu bedug berbunyi, apa yang kita lakukan? Langsung makan ini semua sekali dalam waktu yang sangat singkat. Itu nggak sehat banget loh,” ucap dia.Baca juga: Tips Buka Puasa Sehat Ala Ade Rai: Olahraga Sebelum Magrib hingga Atur Karbohidrat
Menurutnya, kebiasaan menyantap makanan berat dengan kandungan karbo tinggi bisa menyebabkan berbagai penyakit dan gangguan pencernaan, salah satunya adalah Gerd (Gastroesophageal Reflux Disease) atau biasa disebut asam lambung.
“Nah, kalau kita makan sebanyak ini dalam waktu singkat, itu akan menyebabkan penyakit genzi sekarang namanya Gerd. Nah, kalau kita kena Gerd, perut kita tuh jadi Ini enggak enak. Apalagi kalau lihat makanannya kayak gini kan, banyak karbo-nya, banyak gulanya,” jelas Budi.
Baca juga: Music Zone Meriahkan Anjungan Sarinah, Booth AQUA Segarkan Penonton saat Buka Puasa
Selain berpotensi terkena Gerd, memakan makanan berat pada saat berbuka puasa dalam jumlah banyak sekaligus akan membuat efek mengantuk yang cukup berat. Sehingga aktivitas ibadah pada malam bulan Ramadhan bisa saja terganggu.“Ini nanti akan membuat kita ngantuk. Jadi pada saat kita shalat tarawih udah pasti enggak dengerin ustaznya. Jadi ingat ya, pada saat kita puasa itu tujuannya bukan untuk makan enak tapi untuk ibadah dan kalau kita ibadah insya Allah kita juga sehat,” tutur dia.
Mengutip dari Mayo Clinic, Gerd sendiri merupakan kondisi di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan (refleks asam) dan menyebabkan sensasi terbakar pada bagian kerongkongan dan dada.
Harvard Health Publishing menuliskan bahwa asam yang naik ke kerongkongan tersebut bersifat korosif dan dapat menyebabkan peradangan. Jika tidak segera diobati, maka bisa menimbulkan kerusakan permanen pada kerongkongan.
Sementara itu, Melansir dari laporan Cleveland Clinic Abu Dhabi, keluhan Gerd mengalami peningkatan yang cukup signifikan saat Ramadhan. Hal itu dikarenakan peradangan pada lapisan lambung akibat mengkonsumsi makanan berlemak dan pedas dalam jumlah banyak sekaligus saat berbuka puasa.
Mengutip juga dari Gulf News, Gerd atau gangguan pencernaan lainnya saat puasa memang dipengaruhi oleh porsi serta menu makanan yang dikonsumsi saat berbuka.Hal tersebut dikarenakan kondisi perut yang lebih sensitif dan asam saat berpuasa, sehingga perut akan kesulitan mencerna makanan berat yang dikonsumsi dalam jumlah banyak sekaligus. Akhirnya, perut harus menghasilkan asam yang berlebih dan menyebabkan sensasi terbakar di perut serta dada.
Maka dari itu, kebiasaan makan, komposisi atau menu dan porsi makanan saat berbuka puasa sangat menentukan kemampuan dan kesehatan pencernaan saat berpuasa.
Agar pencernaan tetap aman dan tidak terkena Gerd maupun gangguan pencernaan lainnya, alangkah baiknya menghindari makanan yang digoreng atau pedas, minuman berkarbonasi, teh atau kopi, buah jeruk dan saus berbahan dasar tomat serta makanan dengan lemak berlebih atau saus kental.










