Bawa Kasus Fourniers Gangrene ke University of Groninge, Alumnus Unair Ini Raih Gelar PhD
Gelar dokter Yufi Aulia Azmi, SpU, MSi, MKed. Klin, bertambah. Di belakang namanya, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) itu bisa menyematkan gelar PhD. Gelar itu didapat dari kampus bergengsi, Department of Health Sciences, University of Groningen, University Medical Center Groningen, Groningen, the Netherlands.
Dokter Yufi berhasil mempertahankan disertasinya tentang Fournier's Gangrene. Penelitiantentang Fournier’s Gangrene yang dilakukan dr Yufi mengambil sampel 185 pasien selama 12 tahun sejak 2012 hingga 2024.
"Saya lakukan studi kasus ini mulai dari diagnosa, tata laksana, perawatan operasi hingga biaya yang dibutuhkan," ungkapnya.
Baca juga: 20 Jurusan Unair dengan Keketatan Tertinggi di SNBP 2025, Kedokteran Jadi Rebutan
Dikatakannya Fournier’s Gangrene adalah penyakit yang menyerang buah zakar yang disebabkan infeksi bakteri. Biasanya pasien yang mengalami gangguan ini buah zakarnya akan membengkak. Serta kulit di bagian itu menghitam. Biasanya disertai dengan demam. Serta menimbulkan bau yang tidak sedap. "Pasien banyak dirujuk ke rumah sakit karena sudah tidak bisa ditangani. Biasanya fakses pertama salah diagnosa sehingga menyebabkan abses pada buah zakar. Kadang pasien memberi terapi oles-oles sehingga bertambah parah kondisinya," tuturnya.
Biasanya, pasien yang mengalami Fournier’s Gangrene itu memiliki riwayat penyakit diabetes yang tidak tertangani dengan baik. Sehingga muncul komplikasi akibat infeksi di buah zakar. Sehingga mudah terserang bakteri. Juga dipicu penggunaan obat diabetes yang bisa menyebabkan kondisi itu terjadi. "Bisa juga karena kurang menjaga kebersihan di sekitar kelamin," ungkapnya.
"Pasien yang menyepelekan Fournier’s Gangrene akan mengabaikannya dan baru di bawa ke rumah sakit bila sudah kondisi parah," tambahnya.
Dengan tata laksana yang baik, pasien dengan kondisi ini bisa ditangani dengan baik dan bisa sembuh. "Kita harus bisa menegakkan diagnosa dengan baik agar tidak salah penanganan. Terutama di faskes tingkat pertama," ungkap dr Yufi.
Dokter Yufi berhasil mempertahankan disertasinya di depan para penguji. Dekan FK Unair, Prof Dr dr Eighty Mardiyan Kurniawati, SpOG, SubSp Urogin-RE. mengaku bangga, alumni FK Unair bisa lulus dengan sangat baik di kampus luar negeri. "Tentu saya bangga ada alumni FK Unair yang berprestasi. Ini bisa menjadi pemicu untuk adik-adik kelasnya agar mengikuti jejak dokter Yufi," tuturnya.
Pria yang kini mengabdi di RS Anwar Medica itu berhasil lulus dan meraih gelar PhD dalam jangka waktu 3 tahun 10 bulan. Waktu yang cepat menyelesaikan program S3 dibandingkan sejawatnya.










