Kenapa Imlek Selalu Identik dengan Warna Merah dan Emas? Ternyata Ini Alasannya
Perayaan Imlek selalu menjadi momentum yang banyak dinantikan, bukan hanya oleh masyarakat umum yang tertarik dengan dekorasi dan hiasan Imlek namun juga masyarakat Tionghoa sebagai hari spiritual mereka.
Perayaan Imlek sendiri identik dengan warna merah dan emas yang terdapat pada banyaknya hiasan dekorasi berupa lampion dan gantungan-gantungan khas China. Mereka banyak dipajang di berbagai titik, baik di tempat umum maupun rumah-rumah pribadi.
Lalu mengapa Imlek selalu identik dengan warna merah dan emas? Simak artikel berikut agar kamu tau alasannya.
Baca Juga : Riuh Imlek di Petak Sembilan: Lampion, Kuliner, dan Tradisi yang Tak Pernah Sepi
Melansir dari Confuse Institute for Scotland, warna merah yang selalu hadir setiap perayaan Imlek bermula dari legenda Iblis Nian. Iblis nian sendiri merupakan iblis berkepala singa dengan tanduk yang tajam dan sering meneror warga desa.
Iblis Nian hidup di laut dan akan muncul ke daratan setiap akhir tahun dalam penanggalan tahun lunar untuk meneror dan memangsa warga desa. Sehingga, warga desa ketakutan dan selalu menutup rumah rapat-rapat setiap akhir tahun.
Pada suatu hari, datang seorang pria tua berambut perak yang datang kepada tetua desa. Ia berjanji akan mengusir Iblis Nian agar tidak terus menerus mengganggu warga desa. Tapi, warga desa banyak yang tidak percaya terhadap janji pria tersebut dan tetap menutup rapat rumah mereka saat hari menjelang malam di akhir tahun.
Baca Juga : Melihat Ornamen Imlek di Bundaran HI saat CFD
Saat Iblis Nian datang, tiba-tiba terdengar suara petasan yang cukup kencang dan nyala api yang sangat menyala. Mendengar dan melihat hal itu, Nian tidak berani maju, namun pria tua tersebut tetap maju sembari mengenakan pakaian warna merah hingga membuat Nian mengamuk dan lari terbirit-birit.Pada hari berikutnya saat para penduduk desa membuka rumah dan turun dari gunung, mereka mendapati desa dan ternak mereka dalam keadaan aman. Akhirnya warga desa mulai mempercayai pria tua tersebut.
Sejak saat itulah banyak warga yang menggunakan warna merah berupa bait-bait dan lampion sebagai bentuk penjagaan dari Iblis Nian. Selain itu, saega juga turut menyalakan petasan, membiarkan lampu menyala serta begadang hingga pagi hari.
Seiring berjalannya waktu, warna merah menjadi hak identik setiap perayaan Imlek di akhir tahun dalam penanggalan lunar.
Sementara itu melansir dari royalmint.com, warna emas yang identik setiap perayaan Imlek sendiri dipercaya oleh masyarakat Tionghoa sebagai warna yang melambangkan supremasi kaisar. Selain itu warna emas juga dianggap sebagai pembawa keberuntungan, kekayaan, kemakmuran dan nasib baik.
Warna emas juga sering dianggap melambangkan alam spiritual karena warnanya yang positif dan dapat membantu Tahun Baru Imlek. Kepercayaan terhadap warna emas ini berasal dari mitos Iblis Sui, dimana iblis tersebut sering membuat kekacauan setiap akhir tahun. Bahkan Iblis Sui juga disebut-sebut akan meneror anak-anak. Iblis Sui akan menyentuh kepala seorang anak hingga menyebabkan mereka sakit parah.
Hal tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri sampai akhirnya ada satu anak yang diberi delapan koin emas untuk diberikan kepada orang tuanya. Anak tersebut kemudian membungkus koin emas dengan kertas merah dan membukanya lagi.
Ketika dia terlalu lelah untuk melanjutkan, orang tuanya membungkus koin-koin emas itu dengan kertas merah dan meletakkannya di bawah bantalnya. Saat Iblis Sui datang, ia diusir oleh cahaya terang dari koin emas tersebut.
Dari kisah itu, terciptalah kepercayaan bahwa warna emas bisa membawa keberuntungan, kemakmuran dan kejayaan disamping dipercaya sebagai warna supremasi kaisar.










