Tren Whip Pink, Waspada Hipoksia Setara Anastesi Medis
JAKARTA - Whip Pink kini menjadi sebuah barang yang tengah menjadi sorotan banyak pihak. Barang berupa tabung berisi kandungan NO2 ini malah disalahgunakan untuk kesenangan (dopamine) sesaat dengan cara dihirup.
Namun, di balik tren tersebut, ternyata ada bahaya yang mengincar paru-paru seseorang yang menyalahgunakan Whipe Pink. dr. Samuel Sunarso, dokter spesialis paru menegaskan bahwa gas ini sebetulnya adalah zat anestesi medis yang kini sudah mulai jarang digunakan karena tergolong metode lama.
"Secara medis, gas N2O itu kan memang untuk anestesi. Tapi terus terang sekarang ini sudah mulai agak jarang juga dipakai. Biasanya digunakan dokter gigi atau dokter anestesi untuk operasi," kata dr. Samuel dalam podcast Deny Sumargo, dikutip Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, menghirup N2O atau kandungan dalam Whip Pink secara langsung tanpa pengawasan medis bisa mengakibatkan minimnya oksigen pada aliran darah hingga menyebabkan hipoksia. Hal itu dikarenakan kandungan NO2 dari whip pink yang mendominasi dan menggeser posisi oksigen.
"Penyerapan nitrogen itu lebih cepat dibanding oksigen karena tekanan parsialnya lebih tinggi. Begitu terhirup, dari paru-paru langsung masuk ke darah. Kalau nggak barengan (dengan oksigen), pasiennya bisa jatuh dalam kondisi hipoksia atau kadar oksigen berkurang," jelas dia.
Jika hal itu terjadi, maka pengguna akan merasakan sensasi "fly" atau kegembiraan berlebih. Ia menyebut, para penyalahguna sebenarnya adalah hasil dari terhambatnya reseptor saraf tertentu dan pelepasan hormon dopamin.
Selain itu, gas ini masuk ke susunan saraf pusat dengan sangat cepat karena sifatnya yang tidak terikat oleh hemoglobin, berbeda dengan oksigen yang secara alami berikatan dengan darah.
"Dia cepat masuk ke susunan saraf pusat, ke otak, dan menghambat reseptor yang namanya NMDA. Itu yang bikin rasa sakit berkurang, ada rasa disosiasi, jadi happy dan ringan kayak fly. Selain itu, dia men-trigger pengeluaran dopamin," tutur dr. Samuel.
dr. Samuel menerangkan bahwa penggunaan N2O langsung dari tabung bertekanan tinggi memiliki risiko fisik berupa luka bakar dingin atau frostbite pada area pernapasan. Karena efek senangnya yang sangat singkat, pengguna cenderung menghirupnya berulang kali, yang justru menumpuk dampak negatif bagi kesehatan dalam jangka panjang.
"Karena tekanan yang tinggi dia biasanya dingin, jadi kalau langsung (dihirup) kadang-kadang bisa bikin frostbite. Karena efeknya enggak lama, orang memakainya berulang-ulang. Efek setelah itu, karena kurang oksigen, lama-lama bisa sakit kepala hingga mual," pungkas dia.










