Hari AIDS Sedunia UNAIDS Bentuk Aliansi Nasional Bebas AIDS Anak Indonesia Di 2030

Hari AIDS Sedunia UNAIDS Bentuk Aliansi Nasional Bebas AIDS Anak Indonesia Di 2030

Gaya Hidup | BuddyKu | Kamis, 1 Desember 2022 - 20:43
share

Hari AIDS sedunia yang jatuh hari ini pada 1 Desember, harus dimaknai sebagai perjuangan bersama seluruh pihak untuk mengakhiri penyebaran HIV AIDS, sehingga tak ada lagi korban terutama yang terjadi pada anak-anak. Indonesia sendiri menargetkan bebas AIDS pada 2030.

Di Indonesia, hanya 25 persen dari anak-anak yang hidup dengan HIV menjalani pengobatan ARV yang menyelamatkan jiwa. UNAIDS Indonesia, Jaringan Indonesia Positif (JIP), Ikatan Perempuan Positif Indonesia, Lentera Anak Pelangi, dan Yayasan Pelita Ilmu menginisiasi aliansi baru untuk memperbaiki salah satu masalah yang paling mencolok dalam respon penanggulangan AIDS.

Analisis oleh PBB di Hari AIDS Sedunia mengungkapkan, ketidaksetaraan menghalangi berakhirnya AIDS. Dengan tren yang terjadi saat ini, dunia tidak akan memenuhi target global AIDS yang telah disepakati.

Namun laporan UNAIDS Global yang baru, Dangerous Inequalities, menunjukkan bahwa tindakan mendesak untuk mengatasi ketidaksetaraan dapat membuat program penanggulangan AIDS kembali pada jalur yang seharusnya.

Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima mengatakan, di awal tahun ini, UNAIDS Global menyatakan bahwa program penanggulangan AIDS dalam bahaya, dengan meningkatnya infeksi baru dan kematian yang terus berlanjut di berbagai bagian dunia.

Laporan baru dari UNAIDS Global menunjukkan bahwa ketidaksetaraan adalah alasan yang mendasarinya.

Laporan ini juga menunjukkan bagaimana para pemimpin dunia dapat mengatasi ketidaksetaraan itu, dan meminta mereka untuk berani mengikuti apa yang diungkapkan oleh bukti, ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/12).

Dangerous Inequalities membongkar dampak terhadap AIDS dari ketidaksetaraan gender, ketidaksetaraan yang dihadapi oleh populasi kunci, dan ketidaksetaraan antara anak-anak dan orang dewasa.

Laporan ini juga menunjukkan bagaimana kendala keuangan yang memperburuk situasi dalam mengatasi ketidaksetaraan. Laporan tersebut menunjukkan bagaimana ketidaksetaraan gender dan norma terkait gender yang diskriminatif dapat menghambat berakhirnya pandemi AIDS.

Dunia tidak akan mampu mengalahkan AIDS jika patriarki masih kuat, ucap Byanyima.

Meningkatkan program transformatif gender di banyak bagian dunia adalah kunci untuk menghentikan pandemi. Memajukan kesetaraan gender akan menguntungkan semua orang.

Sementara, laporan terbaru dari Global juga menunjukkan bahwa penanggulangan AIDS tertahan oleh ketidaksetaraan dalam akses pengobatan antara orang dewasa dan anak-anak.

Sementara lebih dari tiga perempat orang dewasa yang hidup dengan HIV menggunakan terapi antiretroviral, lebih dari separuh anak yang hidup dengan HIV menggunakan obat yang menyelamatkan jiwa. Hal ini memiliki konsekuensi yang memprihatinkan.

Pada tahun 2021, anak-anak menyumbang 4 persen dari semua orang yang hidup dengan HIV tetapi 15 persen dari semua kematian terkait AIDS. Situasi yang sama juga terjadi di Indonesia di mana pada tahun 2021, anak-anak menyumbang 12 persen dari 27.000 infeksi HIV baru, dan 9 persen dari 26 ribu kematian terkait AIDS di Indonesia, sebutnya.

Cakupan pengobatan pada anak sangat rendah yaitu hanya 25 persen. Hambatan untuk mengakses perawatan bagi anak-anak sangat jauh dari jangkauannya. Tidak cukup obat HIV yang dikembangkan secara khusus untuk kebutuhan anak. Selain itu, juga menutup kesenjangan perawatan untuk anak-anak akan menyelamatkan nyawa.

Kita masih jauh dari mengakhiri infeksi HIV baru pada perempuan dan anak-anak. Untuk membenahi salah satu disparitas yang paling mencolok dalam penanggulangan AIDS, tahun ini UNAIDS Indonesia bersama komunitas dan organisasi tersebut, menginisiasi Aliansi Nasional untuk mengakhiri AIDS pada Anak, ujar Byanyima.

Aliansi Nasional untuk akhiri AIDS pada Anak di Indonesia ini, diharapkan dapat menjadi kendaraan untuk konsolidasi dukungan dan sumber daya untuk lebih meningkatkan kualitas program HIV bagi kelompok perempuan, anak, dan juga remaja.

Dalam satu kata, Equalize. Persamaan hak, pemerataan akses pelayanan, termasuk pemerataan akses ilmu pengetahuan. Menyetarakan tidak hanya akan membantu mereka yang mengalami stigma dan diskriminasi saja, tapi itu juga akan membantu semua orang, tegasnya.

UNAIDS Country Director of Indonesia Krittayawan Boonto menambahkan, penguatan multi sektoral menjadi penting untuk dilakukan agar mendapatkan dukungan yang cukup untuk program HIV. Negara juga harus prioritaskan pembiayaan program HIV.

Saya mengundang mitra yang tertarik menjadi anggota aliansi nasional untuk dapat bekerja sama menutup kesenjangan dan bersama menyelamatkan nyawa untuk mengakhiri AIDS di Indonesia pada tahun 2030, ujarnya.

Kampanye Film Pendek

Ketua Sekretariat Nasional Jaringan Indonesia Positif Meirinda Sebayang mengatakan, anak-anak yang lahir dari orangtuan HIV saat ini turut mendapat stigma dan diskriminasi negatif dari masyarakat. Bahkan bagi anak-anak memiliki tantangan tersendiri dalam pengobatan HIV.

Ini tantangan bersama, kita harus saling bergandengan tangan membantu. Karena setiap nyawa adalah berharga. Kami turut mendorong agar bisa mengakhiri HIV AIDS di tahun 2030, ujarMeirinda dalam acara bertajuk Equalize Our Child: Raise The Light of The Future sekaligus Gala Premier Seperti Seharusnya di Jakarta, Kamis (1/12).

Untuk itu UNAIDS Indonesia bersama, IPPI, LAP, YPI dan Jaringan Indonesia Positif (JIP) bersama berkomitmen untuk menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang denga HIV di tengah masyarakat.

Tak hanya itu, JIP melakukan kampanye publik melalui film pendek berjudul Seperti Seharusnya yang dibintangi oleh Yama Carlos dan Putri Ayudya. Di mana film tersebut mengangkat fenomena stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV di masyarakat.

Kami berharap, momentum ini menjadi komitmen bersama, di mana respon penanggulangan AIDS di Indonesia bukan hanya dibebankan kepada Pemerintah dam layanan kesehatan. Tetapi juga semua aspek di dalam sistem kewarganegaraan juga harus terlibat, swasta, media maupun komunitas lainnya, ungkap Meirinda.

Topik Menarik