Kornea Implan dari Kolagen Kulit Babi Mampu Atasi Kebutaan
Saat ini hanya 1 dari 70 pasien kerusakan kornea yang berhasil menerima transplantasi. Kornea sintetis dari kolagen babi dapat menjadi alternatif dengan tingkat pemulihan penglihatan dengan baik bagi para tunanetra.
P ada mata, kornea berada pada bagian paling depan, berwarna transparan dan tidak memiliki pembuluh darah. Tebal kornea pada orang dewasa adalah sekitar 0,5 milimeter. Kornea memiliki 5 lapisan yaitu epitel, membran Bowman, stroma, membran descemet (lapisan tipis), dan endotelium.
Diperkirakan 12,7 juta orang di seluruh dunia mengalami kebutaan karena terjadi masalah pada kornea karena lapisan terluar transparan dari mata mereka mengalami kerusakan, kelainan sejak lahir, dan atau penyakit.
Untuk mengatasi kerusakan pada kornea, para peneliti dan pebisnis telah mengembangkan implan yang terbuat dari protein kolagen dari kulit babi, yang menyerupai kornea manusia. Dalam studi percontohan, implan dapat mengembalikan penglihatan pada 20 orang dengan penyakit kornea, yang sebagian besar buta sebelum menerima implan.
Satu-satunya cara untuk bisa melihat atau mendapatkan kembali penglihatan adalah dengan menerima transplantasi kornea dari donor manusia. Masalahnya hanya 1 dari 70 pasien yang dapat menerima transplantasi kornea. Apalagi sebagian besar dari mereka yang membutuhkan transplantasi kornea tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan akses ke perawatan mata sangat terbatas.
Studi bersama yang dipimpin oleh para peneliti di Linkping University (LiU) dan LinkoCare Life Sciences AB, Swedia, mendapatkan hasil yang menjanjikan bagi mereka yang menderita kebutaan kornea dan penglihatan rendah. Hasil studi dapat menyediakan implan bioteknologi sebagai alternatif transplantasi kornea manusia yang disumbangkan di negara-negara dalam kategori tersebut.
"Hasilnya menunjukkan bahwa amat mungkin untuk mengembangkan biomaterial yang memenuhi semua kriteria untuk digunakan sebagai implan manusia, yang dapat diproduksi secara massal dan disimpan hingga dua tahun dan dengan demikian menjangkau lebih banyak orang dengan masalah penglihatan," kata Neil Lagali, profesor di Fakultas Ilmu Biomedis dan Klinis di LiU, salah satu peneliti di balik penelitian ini.
Ia menuturkan, implan yang dibuat dari protein kolagen dari kulit babi menyerupai kornea manusia. Cara ini dapat mengatasi masalah kekurangan jaringan kornea yang disumbangkan dari pendonor dan akses ke perawatan lain untuk penyakit mata.
"Keamanan dan efektivitas implan bioteknologi telah menjadi inti dari pekerjaan kami," kata Mehrdad Rafat, peneliti dan pengusaha di balik desain dan pengembangan implant tersebut, sekaligus merangkap sebagai asisten profesor (dosen senior) di Fakultas Teknik Biomedis LiU dan pendiri dan CEO perusahaan LinkoCare Life Sciences AB, yang memproduksi kornea bioteknologi yang digunakan dalam penelitian ini.
"Kami telah melakukan upaya yang signifikan untuk memastikan bahwa penemuan kami akan tersedia secara luas dan terjangkau oleh semua dan bukan hanya oleh orang kaya. Karena itulah teknologi ini dapat digunakan di seluruh belahan dunia," ujar dia seperti dilaporkan laman The Brightside News .
Rafat mengatakan, kornea terdiri dari protein kolagen. Untuk membuat alternatif dari kornea asli, para peneliti menggunakan molekul kolagen yang berasal dari kulit babi yang sangat murni dan diproduksi di bawah kondisi yang ketat untuk digunakan manusia.
Kulit babi yang digunakan merupakan hasil sampingan industri pangan sehingga mudah diperoleh dan murah. Dalam proses pembuatan implan, para peneliti menstabilkan molekul kolagen lepas yang membentuk bahan yang kuat dan transparan yang dapat menahan penanganan dan implantasi di mata.
"Jika kornea yang disumbangkan harus digunakan dalam waktu dua pekan setelah diambil, kornea yang direkayasa secara biologis dapat disimpan hingga dua tahun sebelum digunakan," ujar Rafat dalam studi yang diterbitkan jurnal Nature Biotechnology .
Di samping memanfaatkan protein dari kolagen kulit babi, para peneliti juga telah mengembangkan metode invasif minimal baru untuk mengobati penyakit keratoconus , sebuah penyakit penipisan kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Saat kornea pasien keratoconus stadium lanjut diangkat melalui pembedahan dan diganti dengan kornea donor dengan cara dijahit setelah dilakukan pembedahan.
Operasi kornea pada pasien keratoconus bersifat invasif, dan biasanya hanya dilakukan di rumah sakit universitas yang lebih besar. Para peneliti mengembangkan metode baru yang kurang invasif dengan membuat sayatan kecil dengan laser canggih untuk memasukkan implan ke dalam kornea, meski bisa dilakukan dengan bedah sederhana.
"Metode yang kurang invasif dapat digunakan di lebih banyak rumah sakit, sehingga membantu lebih banyak orang. Dengan metode kami, ahli bedah tidak perlu mengangkat jaringan pasien sendiri. Sebagai gantinya, sayatan kecil dibuat, di mana implan dimasukkan ke dalam kornea yang ada," kata Neil Lagali, yang memimpin kelompok penelitian yang mengembangkan metode bedah ini.
Tidak diperlukan jahitan dengan metode bedah baru ini. Sayatan di kornea dapat dibuat dengan presisi tinggi berkat laser canggih, tetapi juga, bila diperlukan, dengan tangan dengan instrumen bedah sederhana. Metode ini pertama kali diuji pada babi dan ternyata lebih sederhana dan berpotensi lebih aman daripada transplantasi kornea konvensional.
Hasil Sempurna
Tujuan utama dari studi klinis percontohan adalah untuk menyelidiki apakah implan aman untuk digunakan. Namun, para peneliti terkejut dengan apa yang terjadi dengan implan tersebut. Ketebalan dan kelengkungan kornea kembali normal.
Pada tingkat kelompok, penglihatan peserta meningkat drastis setelah transplantasi kornea dengan jaringan yang disumbangkan. Sebelum operasi, 14 dari 20 peserta mengalami kebutaan. Setelah dua tahun, tidak ada lagi yang buta. Tiga dari peserta India yang buta sebelum penelitian memiliki penglihatan yang sempurna (20/20) setelah operasi.
Sebuah studi klinis yang lebih besar diikuti dengan persetujuan pasar oleh pihak berwenang diperlukan sebelum implan dapat digunakan dalam perawatan kesehatan. Para peneliti juga ingin mempelajari apakah teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengobati lebih banyak penyakit mata, dan apakah implan dapat disesuaikan dengan individu untuk kemanjuran yang lebih besar. hay/I-1
Kornea Sintetis untuk Atasi Edema
T ransplantasi kornea mata dengan bahan sintetis menjadi cara untuk mengatasi rendahnya donor kornea. Salah satu masalah yang terjadi pada kornea selain penyakit keratoconus atau penipisan kornea adalah edema kornea.
Edema kornea berupa pembengkakan yang disebabkan oleh penumpukan cairan di tempat itu. Bila tidak diobati, edema kornea dapat menyebabkan penglihatan kabur. Bahkan pada kondisi yang sangat parah, salah satu jalan keluarnya adalah mengganti kornea dengan cara transplantasi dari donor.
Transplantasi kornea pada edema kornea bisa dilakukan dalam dua pilihan baik secara total atau sebagian saja tergantung tingkat keparahannya. Untuk memberi kesempatan pada penderita mendapatkan penglihatan kembali, perusahaan rintisan EyeYon Medical menciptakan kornea sintetis bagi penderita edema kornea.
Perusahaan asal Israel itu bahkan baru-baru ini berhasil mengumpulkan uang sebesar 25 juta dollar AS atau sekitar 359,6 miliar rupiah dalam pendanaan Seri C. Dana ini oleh EyeYon Medical akan digunakan untuk memperluas uji klinis implan kornea sintetis pertama di dunia yang akan membantu dokter mengobati edema kornea kronis.
Produk unggulan EyeYon Medical adalah EndoArt. Produk ini akan memungkinkan dokter untuk merawat kondisi edema kornea dengan prosedur invasif minimal. Selain itu cara sebagai terobosan dalam penggunaan jaringan manusia atau donasi kornea yang sulit didapat.
Biasanya pembengkakan yang disebabkan oleh edema kornea menjadi cukup parah sehingga merusak penglihatan. Pembedahan diperlukan untuk mengganti seluruh kornea atau hanya lapisan endotel dengan jaringan kornea yang sehat dari donor.
"Dalam prosedur invasif minimal, implan kornesi sintetis EyeYon menempel pada permukaan di bagian belakang kornea, menggantikan jaringan yang tidak berfungsi penyebab aliran cairan berlebih di kornea. Teknologi ini menawarkan solusi yang lebih aman untuk kondisi yang mengancam penglihatan," tulis startup tersebut seperti dikutip Times of Israel .
Salah satu pendiri dan CEO EyeYon Medical, Nahum Ferera mengatakan, saat ini diperkirakan lebih dari 13 juta orang di seluruh dunia menunggu transplantasi kornea. Dengan kornea sintetis dari EyeYon EndoArt, diharapkan dapat memperbaiki kekurangan donasi kornea serta dapat menghindari orang-orang dari risiko kebutaan.
Uji klinis implan EyeYon EndoArt, sedang berlangsung di Jerman, Belanda dan Spanyol. Di Israel, uji coba berlangsung di Pusat Medis Soroka, Kampus Perawatan Kesehatan Rambam, Pusat Medis Tel Aviv Sourasky, dan Pusat Medis Barzilai.
Ferera menjelaskan, putaran pendanaan terakhir ini, dipimpin oleh peserta seperti Global Health Sciences (GHS) Fund (Quark Venture LP dan GF Securities), BPC dan investor yang ada Triventures, Rimonci, Pontifax dan Diamond BioFund, membawa jumlah total dana yang dikumpulkan oleh perusahaan menjadi 36 juta dolar AS.
"Minat yang luar biasa untuk bergabung dengan putaran pendanaan terbaru kami mencerminkan kepercayaan yang dimiliki investor terhadap teknologi kami yang unik dan mengganggu," kata ujar Ferera.
Didirikan pada 2011 oleh Ferera, Ofer Daphna dan Arie Marcovich, EyeYon Medical mengembangkan teknologi untuk menangani masalah di dunia mata. Perusahaan juga telah mengembangkan lensa kontak yang bertindak sebagai pilihan terapi untuk kondisi kornea yang memerlukan pengobatan tetes mata, menyimpan obat mata di dalam reservoir darurat di dalam lensa untuk jangka waktu yang lebih lama untuk memaksimalkan penyembuhan.
Dengan pendanaan baru, EyeYon Medical ingin memperluas uji klinis dengan harapan menerima persetujuan peraturan di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok. Pada Februari 2020, EyeYon Medical EndoArt menerima penunjukan perangkat terobosan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), membantu mempercepat persetujuan teknologi.
"Perkiraan peluncuran kornea sintetis diharapkan pada 2022 di Eropa, dan pada 2023-2024 di Tiongkok dan AS," demikian pernyataan resmi dari perusahaan itu. hay/I-1










