Apa Itu Grooming? Kondisi Dialami Aktris Aurelie Moeremans sejak Usia Remaja
JAKARTA, iNews.id - Aktris Aurelie Moeremans belakangan ini menyita perhatian publik setelah secara terbuka membagikan pengalaman pahitnya menjadi korban grooming sejak berusia 15 tahun. Kisah tersebut dia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, yang mengungkap potongan masa remaja yang hilang akibat manipulasi emosional.
Pengakuan istri Tyler Bigenho itu langsung menuai empati luas dari warganet. Dalam bukunya, Aurelie menceritakan proses manipulatif yang dialami, termasuk tekanan emosional dan trauma mendalam yang membekas hingga dewasa. Cerita tersebut sekaligus membuka diskusi publik tentang bahaya grooming yang kerap luput disadari.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan grooming seperti yang dialami Aurelie Moeremans?
Grooming merupakan pola pendekatan yang dilakukan seseorang untuk membangun kedekatan, rasa percaya, dan ikatan emosional dengan korban. Tujuan akhirnya adalah memanipulasi atau mengeksploitasi korban, yang umumnya terjadi dalam konteks kekerasan atau kejahatan seksual, terutama terhadap anak-anak dan remaja.
Dalam praktiknya, grooming dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital. Seiring pesatnya perkembangan media sosial dan teknologi komunikasi, modus ini semakin mudah dilakukan dan kerap sulit terdeteksi sejak awal.
Secara umum, tindakan grooming dilakukan melalui tahapan yang sistematis. Pelaku biasanya memulai dengan mencari target yang dianggap rentan, seperti anak atau remaja yang merasa kesepian, kurang perhatian, atau aktif di media sosial. Setelah itu, pelaku berupaya membangun kepercayaan dengan menunjukkan sikap perhatian, memberi pujian, hadiah, atau dukungan emosional.
Tahap berikutnya adalah menciptakan ikatan emosional, di mana korban dibuat merasa spesial dan bergantung secara perasaan kepada pelaku. Perlahan, pelaku mulai menormalisasi perilaku tidak pantas dengan menyisipkan pembicaraan, gambar, atau permintaan bernuansa seksual. Jika proses ini berhasil, eksploitasi pun terjadi, baik dalam bentuk pemaksaan, ancaman, maupun pemerasan secara online atau offline.
Dampak grooming tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sangat serius secara psikologis. Korban dapat mengalami trauma berkepanjangan, depresi, kecemasan, serta perasaan bersalah dan malu, meskipun mereka sama sekali bukan pihak yang bersalah.
Dalam kasus yang lebih berat, grooming dapat memicu gangguan stres pascatrauma atau PTSD, menurunkan rasa percaya diri, serta membuat korban sulit mempercayai orang lain. Kondisi ini berpotensi mengganggu kehidupan sehari-hari apabila tidak mendapatkan penanganan profesional.
Secara emosional, korban grooming juga kerap mengalami kebingungan. Rasa disayangi yang sengaja dibangun pelaku membuat korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Karena itu, dukungan dan pencegahan menjadi hal krusial. Korban grooming membutuhkan lingkungan yang aman, dukungan keluarga, serta bantuan tenaga profesional. Sementara upaya pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, pengawasan bijak terhadap aktivitas digital, dan komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa agar risiko grooming dapat diminimalkan sejak dini.










