Memaknai Kecerdasan Emosional Diponegoro

Memaknai Kecerdasan Emosional Diponegoro

Gaya Hidup | BuddyKu | Sabtu, 22 Oktober 2022 - 09:42
share

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tentu para pembaca sangat setuju bahwa belajar sejarah mulai sekarang harus menghilangkan hafalan-hafalan yang akan membelenggu pemaknaan terhadap peristiwa sejarah. Belajar sejarah itu harus belajar menganalisis dan memaknai segala peristiwa masa lalu.

Sekarang ini banyak orang yang belajar sejarah, tetapi banyak juga yang tidak belajar dari sejarah. Bisa jadi perilaku seperti itu karena didasari belajar sejarahnya hanya bersifat hafalan.

Belajar sejarah penangkapan Pangeran Diponegoro jika dilakukan dengan hafalan maka yang didapat hanya tempat, tokoh, waktu, dan peristiwa setelah itu mudah hilang tidak berbekas bagai orang menulis pasir di bibir pantai kemudian diterpa ombak maka dalam sekejap tulisan itu hilang.

Jika belajar penangkapan Diponegoro di kediaman Residen Magelang dengan analisis dan pemaknaan maka dapat ditemukan kecerdasan emosional Sang Pangeran yang sangat tinggi.

Saat itu Sang Pangeran tidak membawa keris pusakanya Kiai Bondoyudo karena Sang Pangeran sudah mempercayai Jenderal De Kock yang selama bulan Ramadhan bersikap baik kepadanya.

Hadiah kuda, pemberian sejumlah uang, pemberian kain untuk para pengikutnya, dan kunjungan beberapa kali Jenderal De Kock ke Meteseh sudah cukup membuat Sang Pangeran harus membalasnya dengan bersikap baik. Sifat Sang Pangeran memang jika seseorang baik kepadanya, maka Sang Pangeran akan lebih berbuat baik kepada orang tersebut.

Kebaikan Sang Jenderal itu semakin membuat Diponegoro tidak berprasangka buruk kepada Jenderal De Kock karena Kolonel Cleerens atas nama Jenderal De Kock pernah berkata saat perundingan di Remokamal bahwa jika perundingan di Magelang gagal maka Sang Pangeran dipersilahkan kembali ke Kacawang di hulu Sungai Cingcingguling Banyumas.

Kebaikan Jenderal De Kock yang menunjukkan bahwa Sang Jenderal ingin memperbaiki hubungan baik dengan Diponegoro juga ditunjukkan dengan memberikan tempat dan membangun perumahan untuk para pengikut Sang Pangeran di Meteseh agar Sang Pangeran beserta pengikutnya bisa menikmati dan beribadah khusuk di Bulan Ramadhan sebelum digelar perundingan di Magelang.

Tapi apa yang terjadi, semua kebaikan dan janji-janji manis yang dilontarkan Sang Jenderal hanyalah palsu belaka. Tujuan Jenderal De Kock adalah menjebak Sang Pangeran dengan memberikan janji manis dan kebaikan-kebaikan selama ini.

Jenderal De Kock memang sudah merencanakan dari awal bahwa untuk menangkap Diponegoro mustahil dilakukan di medan pertempuran. Untuk itulah Diponegoro harus ditangkap di tempat perundingan.

VDB (Van Den Bosch) selaku gubernur jenderal sendiri sudah mewanti-wanti kepada De Kock, untuk menghentikan penderitaan keuangan Kolonial Belanda yang semakin menuju ke jurang kebangkrutan, maka Diponegoro harus ditangkap atau dibunuh.

Apa yang dilakukan Diponegoro setelah mengetahui bahwa dia dijebak Jenderal De Kock? Dalam Babad Diponegoro dikatakan Jika saya membunuh jenderal itu, akibatnya akan timbul masalah karena akan merendahkan martabat saya. Bagaimana mungkin seorang pangeran berkelahi bagai seorang pengamuk? Hal ini akan membawa malu pada diri saya. Belanda sedang melakukan penghianatan yang belum pernah ada taranya. Meskipun demikian, saya tidak mempunyai kawan dan lebih baik saya berserah diri pada takdir saya.

Sikap berhati-hati yang dilandasi pikiran yang jernih dan tenang dalam menghadapi situasi genting dan menegangkan itu menunjukkan bahwa Sang Pangeran tidak saja memiliki kecerdasan intelektual tetapi juga memiliki kecerdasan emosional.

Pembaca dapat membayangkan jika seandaianya Sang Pangeran karena merasa ditipu kemudian mengamuk di perundingan itu, maka bisa jadi Sang Pangeran ditembak di tempat atau setidaknya diperlakukan dengan kasar seperti kolonial memperlakukan kasar kepada rakyat jelata.

Tentunya jika Sang Pangeran ditembak di tempat maka masyarakat Indonesia tidak dapat menikmati hasil-hasil karyanya seperti Babad Diponegoro yang ditulis di pengasingan Manado dan Hikayat Tanah Jawa yang ditulis di pengasingan Makassar.

Belajar sejarah penangkapan Diponegoro harus terus diasah untuk menganalisis dan memaknai sejarah, bukan sekedar hafalan. Dengan sikap seperti itu maka pembelajar sejarah tidak mudah marah, tidak mudah emosional, dan tidak mudah membenci dan mendendam sekalipun.

Lihat saja bagaimana Diponegoro tidak pernah mendendam kepada Jenderal De Kock dan Kolonel Cleerens. Bahkan Sang Pangeran saat dipengasingan Makassar tetap berkorespondensi dengan Kolonel Cleerens yang saat itu sudah menjadi seorang jenderal.

Dari sikap berjiwa besar itulah maka orang-orang yang ada di sekitar Sang Pangeran di pengasingan, menganggap bahwa Diponegoro tetap memiliki kekuatan mistik. Menurut sejarawan militer Belanda, EB. Kielstra yang sering menulis artikel mengenai Perang Jawa dan kepribadian Diponegoro, selama pengasingan di Makassar sisa-sisa makanannya saja dianggap dapat menyembuhkan penyakit.

Perkataan sejarawan Belanda itu tentu saja ada benarnya karena orang seperti Diponegoro pasti mempunyai karomah seperti halnya para santri yang berebutan ingin minum sisa kopi Sang Kiai karena dipercaya memiliki karomah memudahkan santri menyerap ilmu-ilmu agama yang diberikan Sang Kiai.

Sudah saatnya pembaca mengajarkan kepada semua orang termasuk siswa-siswa pembelajar sejarah, bahwa belajar sejarah tidak sekedar hafalan tetapi harus menganalisis dan memaknai.

Penulis Lilik Suharmaji

Founder PUSAM (Pusat Studi Mataram) tinggal di Yogyakarta

Topik Menarik