Bahaya Air Banjir bagi Kesehatan: Iritasi hingga Infeksi Kulit
JAKARTA - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera kembali menjadi perhatian publik. Selain menelan korban jiwa, banyak warga kini harus bertahan dalam genangan air banjir yang keruh dan penuh risiko.
Tak hanya saat bencana besar, banjir juga kerap muncul di berbagai kota besar saat musim hujan. Meski terlihat seperti genangan biasa, air banjir ternyata menyimpan sederet bahaya serius bagi kesehatan. Dilansir dari Emergency Clean UK, air banjir merupakan campuran berbahaya dari limbah, bahan kimia, hingga ancaman listrik yang dapat membahayakan keselamatan.
Air banjir kerap tercampur dengan limbah selokan, kotoran manusia dan hewan, serta cairan industri. Kondisi ini membuat air banjir sarat bakteri, virus, dan parasit yang dapat memicu infeksi kulit, iritasi, hingga penyakit pencernaan.
Sisa kelembapan setelah banjir juga bisa memicu pertumbuhan jamur berbahaya seperti black mould, yang berpotensi mengganggu pernapasan dan memicu masalah kesehatan bagi penghuni rumah.
Selain ancaman kesehatan, risiko tersetrum menjadi bahaya lain yang sering tidak disadari. Kabel listrik, stop-kontak, hingga alat elektronik yang terendam air dapat menghantarkan arus berbahaya. Bahkan setelah banjir surut, sistem kelistrikan yang rusak tetap dapat menimbulkan risiko kejutan listrik.
Air yang meresap ke fondasi dan struktur kayu juga dapat melemahkan bangunan. Kerusakan ini sering tidak terlihat langsung, namun berpotensi menyebabkan bangunan runtuh di kemudian hari.
Genangan air banjir pun dapat membawa puing-puing tajam yang meningkatkan risiko cedera fisik ketika warga terpaksa melintasinya.
Karena itulah, diperlukan penanganan profesional untuk memastikan rumah benar-benar bersih dari patogen, bahan kimia, dan jamur setelah banjir surut, guna mencegah dampak kesehatan jangka panjang.










