Liverpool vs Real Madrid, Adu Mentalitas Comeback

Liverpool vs Real Madrid, Adu Mentalitas Comeback

Gaya Hidup | netralnews.com | Kamis, 26 Mei 2022 - 08:16
share

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Istilah comeback dalam sepak bola musim ini menjadi mantra keberhasilan suatu klub memenangi pertandingan. Contoh terbaru adalah Manchester City yang sukses menjuarai Liga Inggris setelah melakukan comeback melawan Aston Villa.

Keharusan memenangi pertandingan membuat Manchester City menggempur pertahanan Aston Villa sejak peluit babak pertama dibunyikan. Bukannya unggul, City justru kebobolan dua gol Matty Cash dan Philippe Coutinho.

Para pendukung Manchester City terlihat sudah putus asa karena tim kesayangannya tak kunjung mencetak gol. Beruntung sang juara bertahan mampu merespons situasi genting dengan membalikkan keadaan melalui dua gol lkay Gndoan dan satu gol dari Rodri.

Kepada harian Spanyol, Marca, Pep Guardiola mengatakan, Saya menghubungi Real Madrid untuk minta saran bagaimana cara melakukan comeback . Gurauan Guardiola ini merujuk pada kepiawaian Real Madrid yang dalam beberapa pertandingan berhasil melakukan comeback.

Musim ini Real Madrid menempuh jalan terjal untuk sampai puncak final Liga Champions. Dalam tiga laga lawan PSG, Chelsea, dan Manchester City, Madrid selalu bisa keluar dari tekanan di penghujung laga. Madrid selalu ada dalam kondisi nyaris tersingkir sebelum akhirnya keluar sebagai pemenang.

Minggu (29/5) dini hari nanti Real Madrid akan berhadapan dengan Liverpool dalam final Liga Champions. Keberhasilan Madrid melaju hingga final menjadi bukti mentalitas juara klub berjuluk Los Blancos ini. Mereka sukses mengalahkan pasukan Guardiola melalui comeback dramatis.

Seusai memenangkan laga semifinal Carlo Ancelotti berujar, Kami menjadi terbiasa melakoni situasi genting nyaris tersingkir. Sejarah klub ini yang membantu kami untuk terus maju. Saya senang berada di final. Ini akan menjadi pertandingan fantastis.

Liverpool lawan yang akan dihadapi Madrid di final nanti juga tak kalah mentereng soal comeback . Mereka juga berpengalaman lolos dari situasi nyaris tersingkir. Final Liga Champions 2005 tercatat sebagai salah satu pertandingan dramatis. Liverpool berhasil juara sesudah tertinggal 0-3 dari AC Milan.

Waktu Chronos dan Kairos

Dalam sepak bola ada pembatasan waktu bermain normal selama 90 menit yang bergerak maju secara linear. Waktu demikian dalam pemikiran Yunani disebut sebagai chronos . Chronos dipahami secara suksesif yang diukur dengan detik, menit, jam, dan seterusnya. Selain chronos orang Yunani juga menyebut waktu secara kairos yang merujuk pada momen kualitatif dan cenderung bersifat psikologis.

Dua tim sepak bola yang tengah berlaga seringkali bersentuhan dengan pusaran waktu chronos dan kairos ini. Bagi tim yang sedang unggul, tambahan waktu injury time merupakan penderitaan dengan durasi yang diperpanjang. Sementara bagi tim yang tengah tertinggal waktu tampak berkontraksi semakin cepat.

Dalam pertandingan besar, kemampuan tim sepak bola mengontrol manajemen waktu, terutama pada saat genting, baik ketika sedang unggul atau pun tertinggal, seringkali bergantung pada individu tertentu.

Peran Benzema

Real Madrid beruntung karena memiliki pemain yang mampu mengontrol waktu permainan dalam diri Karim Benzema. Ketika Ronaldo memutuskan hijrah ke Juventus, banyak orang berpendapat Real Madrid kehilangan maskot dan ruh permainan. Siapa sangka, Benzema mampu mengambil alih peran Ronaldo dan menjelma menjadi figur sentral permainan Madrid.

Claude Jacques Puel, mantan pelatih Leicester City, kagum dengan peran Benzema sekarang. "Selama pertandingan liga domestik dan Liga Champions terakhir, dia telah memikul semua tanggung jawab. Itulah yang paling membuat saya kagum. Ia mendorong rekan satu timnya dan memimpin sebagai kapten. Sangat luar biasa untuk menikmati tidak hanya kualitasnya, tetapi juga kharisma yang telah melengkapi kedewasaannya sebagai pesepakbola", tegas Puel.

Benzema sudah membuktikan bagaimana menempatkan kairos di atas chronos . Tanpa peran Karim Benzema mustahil Real Madrid lolos dari hadangan PSG, Chelsea, dan Manchester City.

Kharisma Henderson

Bagaimana dengan Liverpool? Apakah The Red memiliki sosok pemain yang mampu menentukan jalannya pertandingan? Hingga kini di kubu Liverpool belum ada yang menggantikan peran Jordan Henderson.

Sejak ditetapkan sebagai kapten tim pada 2015 Henderson mampu memikul tanggung jawab besar sebagai penentu laga. Dengan kualitas kepemimpinan, kerja keras, dan keuletannya Henderson telah membuat Liverpool menjadi salah satu tim sepak bola terbaik Eropa.

Saat bertandang ke Estadio de la Ceramica, Rabu (4/5/2022) pada semifinal leg kedua melawan Villarreal, Liverpool tertinggal 0-2. Kendati tidak diturunkan sejak menit pertama, namun Henderson mampu mengobarkan semangat rekan-rekannya agar tidak patah arang.

Saat turun minum babak pertama, di ruang ganti Henderson meminta pemain Liverpool untuk tidak frustasi menghadapi tembok pertahanan Villarreal yang kokoh.

Kita harus bisa melakukannya, ini adalah semifinal Liga Champions. Jika kita tidak mau berlari selama 90 menit, lalu kapan? kata Andrew Robertson mengutip nasihat Henderson.

Mengendalikan Situasi

Epictetus, dedengkot filsafat Stoa, mengajarkan dikotomi kontrol. Menurut Epictetus apa yang ada dalam kendali kita adalah apa yang dapat kita lakukan sendiri. Apa yang tidak berada dalam kendali kita adalah apa yang bukan perbuatan kita sendiri.

Untuk mampu mengatur dan mengendalikan situasi tidak bisa dipelajari secara instan. Butuh waktu dan pengalaman. Dengan memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, kita tidak akan terpengaruh oleh hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan.

Dalam permainan sepak bola yang dapat dikendalikan hanyalah kinerja individu, yaitu bagaimana individu tersebut bermain. Bukan bagaimana tim lain bermain. Dengan kalimat saat pemain turun menginjak lapangan ia harus berjuang mengendalikan situasi.

Tim yang mampu melakukan comeback adalah individu-individu yang tidak tertekan oleh faktor di luar dirinya dan mampu mengendalikan situasi. Kendati Liverpool dan Madrid sama-sama berekspektasi tinggi dalam final nanti, namun di akhir laga mereka akan mengamini kata-kata Marcus Aurelius: To accept it without arrogance, to let it go with indifference .

Penulis: Triatmoko Kusdiarto

Guru St. Ursula, Bandung

Topik Menarik