DPK Tumbuh, Bunga Deposito Naik, Analis Wanti-Wanti Margin Bank
IDXChannel – Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang semakin kencang ternyata belum sepenuhnya menjadi kabar baik bagi industri.
Di balik perbaikan likuiditas, bank mulai menghadapi persaingan penghimpunan dana yang semakin mahal seiring kenaikan bunga deposito.
Kondisi ini berpotensi menggerus margin keuntungan, terutama bagi bank yang bergantung pada pendanaan korporasi dan deposito berjangka.
Analis Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai, perbaikan pertumbuhan DPK pada September 2026 belum mencerminkan penguatan likuiditas yang sepenuhnya berkelanjutan.
Pasalnya, pertumbuhan simpanan masih didominasi dana korporasi dan valuta asing, sementara biaya pendanaan mulai meningkat.
Dalam riset yang terbit pada 26 Oktober 2026, Nurkholis mencatat kredit perbankan mencapai Rp9.078 triliun pada September 2026, tumbuh 12,7 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 13,3 persen pada Agustus 2026.
Perlambatan terutama berasal dari kredit investasi yang pertumbuhannya turun menjadi 21 persen YoY dari sebelumnya 23,4 persen.
Secara bulanan (month-to-month/MoM), kredit investasi bahkan terkoreksi 0,2 persen, menjadi kontraksi bulanan pertama sepanjang tahun ini.
Sebaliknya, kredit modal kerja masih menunjukkan penguatan dengan pertumbuhan 12,7 persen YoY atau naik 1,5 persen secara bulanan.
Penyaluran kredit pada sektor utilitas, pertanian, dan jasa menjadi penopang pertumbuhan segmen tersebut.
Sementara itu, kredit konsumsi masih relatif lesu dengan pertumbuhan 4,7 persen YoY. Salah satu pemberatnya adalah kredit kendaraan bermotor yang masih terkontraksi 9,7 persen secara tahunan.
Secara kumulatif, kredit perbankan tumbuh 7,5 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Capaian ini masih mengarah pada pertumbuhan kredit di kisaran bawah target Bank Indonesia (BI) sebesar 8-12 persen untuk tahun ini.
Di sisi lain, penghimpunan DPK mulai menunjukkan akselerasi. Total simpanan perbankan mencapai Rp9.896 triliun pada September 2026, tumbuh 8,2 persen YoY dan 1,7 persen MoM.
Pertumbuhan tahunan tersebut menjadi yang tercepat dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan terutama ditopang giro yang tumbuh 10,9 persen YoY atau 3 persen MoM. Tabungan meningkat 9 persen, sedangkan deposito tumbuh lebih moderat sebesar 5,2 persen secara tahunan.
Komposisi tersebut mendorong rasio dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat menjadi 64,9 persen. Angka ini naik 101 basis poin secara tahunan dan 31 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, Nurkholis mengingatkan bahwa kualitas pertumbuhan DPK belum sekuat angka utamanya.
Penghimpunan dana masih didominasi simpanan korporasi yang tumbuh 11,3 persen YoY dan simpanan valuta asing yang melonjak 20,6 persen.
Sebaliknya, simpanan individu hanya tumbuh 3,6 persen, sementara simpanan dalam rupiah meningkat 6 persen.
Selain itu, sebagian lonjakan giro korporasi berpotensi berkaitan dengan penempatan dana menjelang akhir kuartal atau quarter-end positioning.
Dengan demikian, perbaikan DPK belum sepenuhnya mempersempit kesenjangan pertumbuhan antara kredit dan simpanan.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, kredit tumbuh 7,5 persen, sedangkan DPK hanya meningkat 4,5 persen.
Selisih keduanya masih mencapai 3 poin persentase, meskipun menyempit dari 4 poin persentase pada periode delapan bulan pertama.
Bunga Deposito Naik, Tekanan Margin Mengintai
Perbaikan penghimpunan dana tersebut memang membuat rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan turun menjadi 91,7 persen pada September 2026, dari 92,7 persen pada Agustus 2026.
Namun, rasio tersebut masih 369 basis poin lebih tinggi dibandingkan posisi September tahun lalu. Artinya, tekanan likuiditas belum sepenuhnya mereda.
Di saat bersamaan, biaya pendanaan mulai meningkat. Suku bunga deposito tenor satu bulan naik menjadi 5,3 persen dari 5,1 persen pada Agustus 2026.
Bunga deposito tenor tiga bulan meningkat menjadi 5,9 persen dari 5,8 persen, sedangkan tenor 24 bulan naik menjadi 4,4 persen dari 4,2 persen.
Sebaliknya, rata-rata tertimbang suku bunga kredit masih bertahan di level 8,9 persen.
Menurut Nurkholis, kenaikan bunga simpanan menunjukkan persaingan memperoleh tambahan pendanaan sudah mulai memengaruhi biaya dana perbankan.
"Hal ini mengindikasikan bahwa persaingan untuk memperoleh tambahan pendanaan sudah mulai tercermin dalam penetapan bunga deposito, dengan potensi tekanan terhadap margin," tulis Nurkholis dalam risetnya.
Tekanan tersebut diperkirakan lebih terasa bagi bank yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap deposito berjangka dan pendanaan korporasi.
Dia juga memandang penurunan LDR pada September lebih sebagai jeda sementara ketimbang perbaikan struktural likuiditas perbankan.
"Kami memandang penurunan LDR pada September sebagai kelonggaran sementara, bukan pelonggaran struktural likuiditas perbankan," tulis Nurkholis.
Pasalnya, permintaan kredit produktif masih relatif kuat meskipun terdapat ruang penurunan giro wajib minimum (GWM) hingga 2 poin persentase dalam beberapa bulan mendatang.
BBCA dan BRIS Lebih Menarik, Bank Himbara Perlu Dicermati
Menghadapi kondisi tersebut, Mirae Asset Sekuritas menyarankan investor tetap selektif dalam memilih saham perbankan.
Kekuatan pendanaan murah dan fleksibilitas neraca menjadi faktor pembeda ketika persaingan memperebutkan dana semakin ketat.
Nurkholis mempertahankan pandangan positif terhadap PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bank tersebut dinilai memiliki likuiditas yang memadai, basis pendanaan murah yang kuat, serta kemampuan mempertahankan NIM ketika bunga deposito meningkat.
Mirae juga bersikap positif terhadap PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), didukung peluang pertumbuhan permintaan produk keuangan syariah yang turut ditopang oleh bisnis emas perseroan.
Sebaliknya, Mirae masih berhati-hati terhadap saham-saham bank besar milik negara atau Himbara. Ada dua risiko utama yang menjadi perhatian.
Pertama, ketergantungan lebih besar terhadap pendanaan korporasi dan deposito berjangka membuat bank-bank tersebut lebih rentan terhadap kenaikan biaya dana.
Kedua, risiko kualitas aset dari sektor konstruksi perlu dicermati, seiring mulai melambatnya penyaluran kredit ke sektor tersebut.
"Kami tetap mengutamakan bank dengan basis pendanaan organik yang lebih kuat dan fleksibilitas neraca yang lebih besar," tulis Nurkholis. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.








