Industri Manufaktur Jadi Penggerak Utama Ekonomi, Tumbuh 5,32 di Triwulan II-2026

Industri Manufaktur Jadi Penggerak Utama Ekonomi, Tumbuh 5,32 di Triwulan II-2026

Ekonomi | sindonews | Senin, 26 Oktober 2026 - 18:14
share

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri manufaktur tumbuh 5,32 pada triwulan II-2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29. Sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian nasional dengan kontribusi hampir seperlima dari total ekonomi Indonesia.

“Indonesia adalah salah satu negara pertama yang membuat instrumen kebijakan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur dari dampak pandemi,” ujar mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan pers, Senin (26/10/2026).

Baca Juga:PMI Manufaktur September Melonjak ke 52,4, Sektor Industri Kembali Ekspansif

Menurut keterangan tersebut, pemulihan industri manufaktur didukung sejumlah kebijakan pada masa pandemi COVID-19, antara lain Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI), insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), serta penguatan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Hingga pertengahan Juni 2020, pemerintah menerbitkan 17.466 IOMKI yang dinilai membantu melindungi sekitar 4,9 juta pekerja dari risiko pemutusan hubungan kerja. Sementara itu, insentif PPnBM DTP pada sektor otomotif didorong untuk memulihkan permintaan, dengan penjualan mobil nasional meningkat 88 sebulan setelah kebijakan diberlakukan.

Kinerja manufaktur juga ditopang peningkatan investasi. Data BPS menunjukkan investasi sektor manufaktur naik dari Rp259 triliun pada 2020 menjadi Rp697 triliun pada 2024, atau meningkat 169 dalam periode 2020–2025.

Kementerian Perindustrian mencatat realisasi investasi baru di sektor manufaktur selama 2024–2026 mencapai Rp1.002 triliun, didukung hampir 3.500 fasilitas produksi baru. Peningkatan investasi tersebut sejalan dengan bertambahnya tenaga kerja manufaktur dari 17,44 juta orang pada 2020 menjadi 20,26 juta orang pada 2025.

Pada Februari 2026, sektor manufaktur menyerap 13,57 dari total 147,67 juta penduduk bekerja. Survei PMI September 2026 juga mencatat penambahan tenaga kerja pabrik berlangsung dengan laju tercepat sejak Februari 2025.

Baca Juga:Batam Jadi Tuan Rumah Manufacturing Series Hadirkan 200 Showcase Pameran

Di tingkat global, nilai tambah manufaktur (manufacturing value added/MVA) Indonesia meningkat dari 210,4 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 265,07 miliar dolar AS pada 2025. Berdasarkan data Bank Dunia, capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-13 dunia sekaligus posisi teratas di ASEAN.

Topik Menarik