Sampai Kapan Ekonomi Dunia Sanggup Melawan Gravitasi Sebelum Terhembas ke Jurang Resesi?
Di dalam ruang kaca nan megah Pusat Konferensi Queen Sirikit, Bangkok, suasana tampak tenang dan sejuk. Ratusan menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari ratusan negara berkumpul dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) pekan ini.
Namun, di balik ketenangan kopi dan jamuan dingin, tersimpan kecemasan mendalam, sampai kapan ekonomi dunia sanggup "melawan gravitasi" sebelum terhempas ke jurang resesi? Kata "ketahanan" (resilience) menjadi mantra yang diulang-ulang di setiap sesi diskusi. Meski dihantam lonjakan harga minyak akibat perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Iran, gejolak geopolitik, dan ancaman krisis utang, ekonomi global secara mengejutkan belum jatuh ke dalam jurang krisis massal.
"Kita menghadapi Covid-19, perang di Ukraina, guncangan rantai pasok, dan perang di Iran. Alarm bahaya terus berbunyi, namun krisis massal yang tersinkronisasi belum terjadi. Ada perasaan bahwa banyak negara dari berbagai tingkat pendapatan seolah-olah sedang melawan hukum gravitasi," ungkap Clemence Landers, Wakil Presiden Center for Global Development Washington.
Baca Juga: Ledakan Utang Rp6.200 Triliun dan Krisis Mengancam Negara Berkembang
Bencana Fiskal: Subsidi Energi Mencekik 0,5 PDB Dunia
IMF dengan cepat mengingatkan para delegasi bahwa "ketahanan" yang dinikmati selama enam bulan terakhir dibeli dengan harga yang sangat mahal dan tidak akan bertahan lama. Baca Juga: IMF Sebut Barat Makin Rentan Ambruk Dihantam Krisis Energi & Jeratan UtangDalam laporan utamanya, World Economic Outlook (WEO), IMF membeberkan bahwa pemerintah di seluruh dunia telah menghabiskan 0,5 dari PDB global hanya untuk menyuntikkan subsidi energi demi melindungi warga dari lonjakan harga minyak akibat Perang Iran.
Banyak negara kini mulai kehabisan napas dan terpaksa mencabut subsidi secara bertahap, membiarkan masyarakat menanggung langsung beban biaya perang. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva melontarkan teguran keras kepada para pemimpin dunia.
"Terlalu banyak negara yang tidak menggunakan pemulihan pasca-pandemi untuk membangun kembali benteng fiskal (fiscal buffers). Setiap guncangan baru terus mendorong tingkat utang lebih tinggi. Peringatan terkeras kami kepada pembuat kebijakan saat ini! Segera perbaiki rumah fiskal Anda sebelum retakannya kian membesar!" tegas Georgieva.
Utang publik di negara-negara kaya diproyeksikan melonjak tajam dari 108 dari PDB tahun lalu menjadi 115 dari PDB dalam lima tahun ke depan. Kondisi ini memicu aksi jual obligasi pemerintah secara masif dan mendongkrak imbal hasil (yield) serta suku bunga ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade.
Sementara itu retaknya kerja sama internasional makin kentara ketika Menteri Keuangan AS, Scott Bessent secara mengejutkan tidak hadir di Bangkok, padahal dirinya secara formal menjabat sebagai Ketua Menteri Keuangan G20 tahun ini.Menteri Keuangan Inggris, John Healey terpaksa mengambil alih posisi pimpinan rapat. Di tengah rasa tidak nyaman delegasi Inggris atas hadirnya utusan Rusia, pertemuan G20 kali ini berakhir tanpa mufakat bersama—sebuah sinyal kuat betapa sulitnya mencapai kesepakatan multilateral di tengah era fragmentasi geopolitik.
Selain ancaman utang, IMF melontarkan peringatan mematikan kedua yakni potensi pecahnya gelembung pasar kecerdasan buatan (AI). Investasi AI yang selama ini menjadi mesin penggerak utama ekspor dan PDB global terbukti dibiayai oleh utang tingkat tinggi (leverage) dan spekulasi investor.
Peringatan IMF tersebut dengan cepat terbukti di pasar finansial Asia. Indeks bursa saham Korea Selatan, Kospi, mencatatkan kejatuhan mingguan sebesar 14,5, untuk menjadi kemerosotan terparah sejak puncak Krisis Keuangan Global Oktober 2008.
Investor panik dan melepas saham-saham raksasa pembuat chip seperti Samsung dan SK Hynix akibat keraguan atas rentabilitas masa depan dan utang perusahaan AI.
Di Amerika Serikat, harga obligasi pusat data CoreWeave anjlok mendekati level distressed, sementara indeks Nasdaq terkoreksi 2 akibat lonjakan inflasi AS di tingkat konsumen dan produsen pada bulan September.
Jika fondasi "ketahanan" yang rapuh ini akhirnya runtuh dan ledakan AI berubah menjadi kebangkrutan, para pembuat kebijakan dunia tidak bisa lagi berdalih bahwa mereka tidak pernah diperingatkan.









