Ekspor Minyak Selat Hormuz Rebound Nyaris Normal, Kenapa Harga BBM & Diesel Malah Meledak?
Fenomena paradoks tengah melanda pasar energi global. Di satu sisi, arus ekspor minyak mentah dari Selat Hormuz dilaporkan telah pulih (rebound) mendekati level sebelum pecahnya Perang Iran. Namun di sisi lain, harga bahan bakar minyak (BBM) olahan, khususnya diesel justru meroket tajam hingga menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Berdasarkan data intelijen perdagangan global Kpler, volume pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk menyentuh angka 16,5 juta barel per hari (bpd) pada bulan September 2026. Angka ini menyamai rata-rata harian sebelum perang (di luar pasokan Iran) dan melonjak drastis sebesar 10,5 juta bpd dibandingkan rata-rata bulanan pada Maret lalu saat awal mula konflik AS-Iran meletus.
Suhu politik sejak perang meletus pada 28 Februari 2026 sempat membuat Teheran memblokir Selat Hormuz. Namun, hegemoni kontrol Iran dilaporkan kian melonggar setelah produsen minyak dan industri pelayaran menemukan berbagai cara kreatif untuk menerobos hambatan logistik.
Baca Juga: Ekspor LNG via Selat Hormuz September Melonjak, Tertinggi sejak Perang AS-Iran
Salah satu jurus yang dilakukan dengan peralihan ke pipa darat. Sekitar 40 minyak mentah kawasan kini diangkut tanpa melintasi Selat Hormuz (dibandingkan hanya 17 sebelum perang), memanfaatkan pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Pengoperasian kembali pipa East-West Arab Saudi di Laut Merah (Pelabuhan Yanbu) menjadi pendorong utama.Lalu ada juga fenomena armada 'Kapal Hantu' (Shuttle Fleet), saat mayoritas minyak melintasi Hormuz menggunakan kapal tanker raksasa (VLCC) yang mematikan transponder satelit. Cara lain yang dipakai yakni transfer antar-kapal (Ship-to-Ship). Lebih dari 70 minyak mentah yang melewati Hormuz pada Agustus dialihkan (ship-to-ship) ke tanker lain di perairan terbuka lepas pantai Oman atau Fujairah (UEA)-praktik yang hampir tidak pernah terjadi sebelum perang.
Meski ekspor minyak mentah membaik, pemulihan ini sangat tidak seimbang. Pasokan produk minyak olahan (refined products) seperti diesel justru berada dalam kondisi paling kritis.
Data Kpler mencatat arus pengiriman produk olahan yang melintasi Hormuz tersisa kurang dari 20 dibanding level pra-perang-hanya sebesar 677.000 bpd dibandingkan 3,6 juta bpd sebelum konflik. Baca Juga: China Bikin Geger Pasar Energi! Ekspor BBM Disetop Selama Oktober 2026
Dampaknya langsung dihantamkan kepada konsumen global. Di Inggris, harga rata-rata diesel menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar 199,18 pence per liter, bahkan melampaui 2 pounds per liter di beberapa SPBU. Situasi ini makin diperparah oleh kebijakan China yang membekukan ekspor produk BBM ke luar wilayah Hong Kong dan Macau pada Oktober.Kenaikan harga minyak mentah acuan Brent yang kembali menembus USD101 per barel mencerminkan ketakutan pasar yang belum surut. Pemimpin redaksi media pelayaran terkemuka Lloyd's List, Richard Meade memberikan peringatan keras terhadap Ilusi keamanan di Selat Hormuz.
"Alur minyak pulih karena pelaku pasar bersedia menerima kompleksitas operasional yang lebih rumit dan biaya yang jauh lebih tinggi. Rute baru muncul, kargo dialihkan, dan risiko diperhitungkan. Namun bahayanya adalah jika kita menganggap ketahanan ini sebagai rasa aman (security). Ketahuilah, bahaya mendasar itu masih sangat nyata," tegas Richard Meade.
Ancaman itu terbukti nyata ketika tiga kapal tanker berbendera Liberia kembali dihantam proyektil misterius saat berlayar di Selat Hormuz. Hal itu menegaskan bahwa jalur vital energi dunia ini masih berada di bibir jurang krisis.









