BCA Bidik Asuransi Jiwa Berdenominasi Dolar AS
JAKARTA - Kebutuhan finansial dan proteksi saat ini terus berkembang. Di mana selain membangun dan mengakumulasi kekayaan secara jangka panjang, nasabah juga mengutamakan keamanan dengan melindungi aset, mengantisipasi risiko, serta mempersiapkan keberlanjutan finansial bagi generasi berikutnya.
Wealth Prestige Pro asuransi jiwa untuk perlindungan diri dan strategi menjaga keberlangsungan kekayaan, serta menyiapkan warisan bagi generasi berikutnya.
Produk asuransi jiwa tersebut menggunakan denominasi dolar Amerika Serikat (USD) dan menyasar segmen premium atau high net worth individual (HNWI). Terdapat kebutuhan untuk melindungi kekayaan yang telah dibangun sekaligus memastikan aset tersebut dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Managing Director Consumer Banking BCA, Haryanto Budiman, menyatakan bahwa wealth management setidaknya mencakup tiga komponen, yakni asset accumulation, asset protection, dan asset transfer dari generasi pertama kepada generasi berikutnya.
Menurut dia, Wealth Prestige Pro berkaitan dengan dua kebutuhan terakhir, yakni proteksi dan transfer aset atau legacy. Berbeda dari produk sebelumnya yang menggunakan rupiah, Wealth Prestige Pro hadir dalam denominasi USD. BCA menjelaskan bahwa salah satu pertimbangannya adalah kebutuhan nasabah premium terhadap diversifikasi aset, termasuk diversifikasi dalam mata uang.
"Untuk segmen premium, nasabah membutuhkan diversifikasi aset bukan hanya di satu mata uang, tapi di mata uang yang lain. Makanya produk ini dalam denominasi USD," kata Haryanto dikutip, Sabtu (3/10/2026).
Penggunaan denominasi USD juga dibahas dalam konteks kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Perubahan ekonomi global yang cepat membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi semakin kompleks.
Dengan demikian, penggunaan USD dalam Wealth Prestige Pro diposisikan sebagai bagian dari upaya memberikan pilihan perlindungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan finansial nasabah premium yang memiliki portofolio kekayaan yang lebih beragam.
Sementara itu, Presiden Direktur AIA, Harsya Prasetyo menyampaikan, kebutuhan nasabah pun bergerak dari sekadar membangun aset menuju bagaimana aset tersebut dapat dilindungi dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
"Karena itu, perencanaan warisan perlu menjadi bagian dari strategi keuangan jangka panjang," jelasnya.









