Penyegaran Kabinet, Industri Perlu Kebijakan Baru Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai penyegaran kabinet terkait pergantian menteri perindustrian baru, perlu menjadi momentum untuk mengubah arah kebijakan industri yang dinilai belum mampu mendorong pertumbuhan sektor manufaktur secara optimal. Penguatan sektor industri menjadi salah satu prasyarat penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 6 pada 2027 dan ambisi pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun-tahun berikutnya.
"Jawabannya mutlak tidak menjalankan kebijakan as usual seperti selama dua tahun ini. Kebijakan yang berjalan justru menghasilkan sektor industri yang semakin lemah dan tidak bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi," kata Didik dalam pernyataan tertulis yang diterima SindoNews, Kamis (1/10/2026).
Baca Juga:Sarmuji Jabat Menperin, Saleh Husin Titip 4 PR Besar di Sektor Industri
Teknologi Mengubah Wajah Industri Perasuransian, APARI Perkuat Profesional Hadapi Perubahan
Didik mengatakan pertumbuhan sektor industri pengolahan yang menjadi salah satu motor utama perekonomian perlu mendapat perhatian serius. Ia menyoroti pertumbuhan industri yang menurutnya melambat dari 5,48 pada kuartal II 2025 menjadi sekitar 4,5 pada kuartal II 2026, sementara perekonomian nasional pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 secara tahunan.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan terhadap target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pemerintah dan DPR telah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 dengan strategi fiskal 2027 diarahkan untuk mempercepat industrialisasi dan hilirisasi.
Didik juga menyoroti momentum industrialisasi yang menurutnya berisiko hilang apabila kebijakan tidak mengalami perubahan. Selain laju pertumbuhan yang belum tinggi, dia menyebut pertumbuhan antarsubsektor industri masih tidak merata, sedangkan indikator manufaktur sempat berada di bawah level 50 sebelum kembali menunjukkan ekspansi; BPS mencatat Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) kuartal II 2026 berada pada level 52,31.
Baca Juga:Muhammad Sarmuji Dilantik Jadi Menperin Gantikan Agus Gumiwang, Ini Rekam Jejaknya
Menurut Didik tantangan tersebut perlu dijawab melalui kebijakan yang lebih fokus pada sektor produktif, terutama industri, termasuk penguatan investasi, produktivitas, daya saing, dan hilirisasi. Ia menilai besarnya defisit anggaran tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya ekspansi produktif apabila belanja belum cukup diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi.
Dengan bobot industri pengolahan yang sekitar 19 terhadap PDB dan pertumbuhan sekitar 4,5, Didik memproyeksikan kontribusi langsung sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi secara sederhana sekitar 0,86 poin persentase. Sebab itu, penyegaran kabinet perlu diikuti perubahan desain kebijakan industri agar sektor manufaktur kembali mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.










