Wall Street Berakhir Lebih Tinggi Seiring Lonjakan Saham Microsoft dkk
IDXChannel - Wall Street berakhir lebih tinggi pada perdagangan Jumat (25/9/2026) waktu setempat, didorong oleh Microsoft dan saham teknologi terkait AI lainnya.
Penguatan tersebut juga terjadi di tengah tingginya harga minyak dan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) baru-baru ini membuat investor was-was.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (26/9/2026), indeks S&P 500 naik 0,51 persen dan menutup sesi perdagangan di level 7.743,41 poin. Kemudian, Nasdaq menguat 0,48 persen menjadi 27.068,72 poin, sementara Dow Jones Industrial Average menanjak 0,93 persen menjadi 51.828,62 poin.
Kenaikan pada indeks S&P 500 dan Nasdaq menutup pekan yang penuh volatilitas, terutama dipicu oleh ketidakpastian mengenai industri mana yang akan diuntungkan atau dirugikan oleh kecerdasan buatan (AI), serta kekhawatiran terkait konflik AS dengan Iran dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Saham Microsoft melonjak 3,7 persen, sehingga menjadikan kenaikan tahunannya mencapai 7 persen. Hal itu terjadi setelah raksasa perangkat lunak tersebut memperkenalkan beberapa kemampuan baru dalam aplikasi Copilot-nya, termasuk alat bantu pemrograman (coding) dan agen AI yang selalu aktif.
Produsen chip Qualcomm naik 4 persen dan Dell menguat 5 persen.
Akamai Technologies melonjak 3,2 persen setelah menyepakati kontrak layanan cloud senilai USD11,6 miliar dengan perusahaan pemimpin di bidang AI, Anthropic. Kesepakatan tersebut mencakup opsi (warrant) yang dapat memberikan Anthropic kepemilikan hingga 5 persen saham Akamai.
"Itu adalah hal positif dari sudut pandang bahwa orang-orang masih berinvestasi dan kesepakatan bisnis masih terus terjadi," ujar Manajer Portofolio Senior di Globalt Investments, Thomas Martin.
Saham Meta Platforms turun 3,3 persen. Saham perusahaan media sosial tersebut sempat melonjak sekitar 13 persen pada pekan ini berkat sambutan positif terhadap agen AI Muse miliknya; menurut para analis, teknologi ini berpotensi menguntungkan saham infrastruktur teknologi sekaligus menjadi tantangan bagi sektor perbankan, platform belanja daring, dan bisnis konsumen lainnya.
Rupiah Menguat ke Rp17.695 per USD Jelang Fit and Proper Test Calon Gubernur BI Destry Damayanti
Selain itu, sentimen pasar terbantu oleh laporan bahwa negosiator AS dan Iran terus menjajaki jalan keluar bertahap dari perang; langkah ini mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Teheran dan pencabutan blokade ekonomi oleh Washington.
Data juga menunjukkan belanja modal yang kuat terkait AI telah mendorong permintaan akan barang modal manufaktur utama, melampaui ekspektasi pada Agustus.
Harga minyak mentah Brent sedikit turun namun tetap berada di atas USD100 per barel. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun mencapai level tertinggi baru dalam 19 tahun dan terakhir tercatat naik 3,4 basis poin menjadi 5,20 persen.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, para pedagang melihat adanya peluang sebesar 66 persen bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin pada Oktober, naik dari sekitar 50 persen pada awal pekan ini.
Presiden AS Donald Trump menyatakan telah melakukan pertemuan yang sangat produktif dengan Presiden Xi Jinping, menyusul KTT tiga hari yang lebih menonjolkan diplomasi personal ketimbang terobosan besar dalam hubungan ekonomi.
Groundbreaking PLTS 100 GW Diresmikan Prabowo, Emiten Mana Saja yang Berpotensi Kecipratan Proyek?
Volume perdagangan di bursa AS tergolong rendah, dengan 14,9 miliar saham diperdagangkan, dibandingkan dengan rata-rata 16,8 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.
(Dhera Arizona)









