Rupiah Lemas Sambut Akhir Pekan di Posisi Rp17.903 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau masih sulit keluar dari zona merah, usai pada akhir perdagangan, Jumat (24/9/2026) merayap naik 13 poin atau sekitar 0,07 ke level Rp17.903 per dolar AS. Sedangkan data JISDOR BI masih menunjukkan pelemahan kurs rupiah di posisi Rp17.917/USD, dari sesi sebelumnya Rp17.898.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Para negosiator AS dan Iran di New York sedang menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik yang mencakup langkah Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan langkah Washington untuk mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.
Sebelumnya Presiden Iran menyatakan bahwa keputusan mengenai kapan konflik dengan Iran akan berakhir sepenuhnya bergantung pada AS. Baca Juga: Rupiah Terkapar Makin Parah, Hari Ini Dekati Rp18.000 per Dolar AS
BLT Pekerja Rp900.000 Cair Lagi di 2026
“Arab Saudi mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, sehingga menggagalkan serangan terhadap provinsi Taif di wilayah selatan dan kawasan Yanbu di tepi Laut Merah; demikian pernyataan koalisi pimpinan Saudi di Yaman,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi bahwa Washington dan Beijing sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan mereka hingga 10 Januari 2027. Presiden Trump menjamu pemimpin Tiongkok Xi Jinping dalam sebuah jamuan makan malam kenegaraan, kunjungan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade di mana kedua pemimpin menyoroti kecerdasan buatan (AI) sebagai topik pembahasan utama.Baca Juga: Uang Kertas Bertanda Tangan Purbaya dan Perry Warjiyo Diburu Kolektor, BI: Fenomena Numismatik
Selain itu para pejabat Federal Reserve juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan,Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menyatakan, "Kita perlu mengembalikan inflasi ke tingkat target dalam waktu yang tepat," seraya menambahkan bahwa "wajar jika kita melihat adanya kenaikan suku bunga lagi sebelum akhir tahun."
Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, juga memperingatkan bahwa "semakin lama inflasi tetap tinggi, semakin sulit untuk mengembalikannya ke target.
Ditambah lagi, data Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global AS yang kuat. PMI Komposit secara tak terduga naik ke level tertinggi dalam lima tahun di angka 58,4 pada bulan September. Sementara Data klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 197.000 pada pekan yang berakhir 19 September, di bawah ekspektasi pasar sebesar 201.000.Dari sentimen dalam negeri, Ekonomi global dalam tekanan akibat lonjakan harga minyak. Lembaga keuangan global, International Monetar Fund (IMF) mengingatkan semua pemangku kepentingan dunia akan kondisi ekonomi global yang bakal semakin tertekan. Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari.
Kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan kenaikan harga. Namun, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. Peningkatan beban bunga utang berpotensi mempersempit ruang fiskal negara untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak.
Guna untuk meredam kondisi tersebut maka Kementerian Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia melakukan kolaborasi fiscal dan moneter guna untuk meredam pelemahan mata uang rupiah, Pertama, optimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara padu guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kedua adalah penguatan Sektor Eksternal menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows).
Ketiga, pengelolaan Likuiditas Perekonomian adalah memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil, termasuk merespons dinamika perebutan dana yang memicu kenaikan beban biaya dana (cost of fund).
Keempat yakni pengendalian Inflasi dengan memperkuat koordinasi penanganan inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID). Kelima, pendalaman Pasar Keuangan yakni mempercepat pendalaman pasar uang demi memperlancar transmisi kebijakan serta memperluas basis pembiayaan pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.900-Rp17.950 per dolar AS. Sedangkan untuk perdagangan pekan depan berada di kisaran Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS.










