Gencatan Dagang Diperpanjang, AS Masih Bergantung pada Rare Earth China

Gencatan Dagang Diperpanjang, AS Masih Bergantung pada Rare Earth China

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 25 September 2026 - 07:53
share

Upaya Amerika Serikat (AS) mengurangi ketergantungan terhadap China dalam pasokan mineral tanah jarang atau rare earth diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang, meski pemerintahan Presiden Donald Trump telah mempercepat pembangunan fasilitas tambang dan pengolahan domestik. Produksi dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 42 permintaan AS, sementara dalam lima tahun ke depan negara tersebut masih diperkirakan mengandalkan impor untuk hampir seperempat kebutuhannya.

Analis ING Coco Zhang mengatakan tujuan AS bukan menggantikan China sebagai pemasok rare earths global, melainkan membangun rantai pasokan alternatif yang cukup untuk melindungi sektor strategis ketika terjadi gangguan geopolitik.

"Tujuannya bukan agar AS menggantikan China sebagai pemasok global yang dominan. Tujuan yang lebih realistis adalah membangun rantai pasokan alternatif yang berarti dan dapat melindungi sektor-sektor strategis selama periode gangguan geopolitik," kata Coco dikutip dari Reuters, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga:Indonesia Tetap Lanjutkan Impor Minyak Rusia Meski Terancam Tarif AS 100

Ketergantungan tersebut menjadi salah satu persoalan strategis dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada Kamis (24/9/2026). Pasokan rare earths menjadi isu penting dalam hubungan dagang kedua negara karena mineral tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan magnet dan berbagai material yang digunakan dalam industri persenjataan, otomotif, komputer, hingga produk teknologi lainnya.China masih menjadi negara dominan dalam penambangan dan pemurnian rare earths dunia. Beijing sebelumnya menyepakati penundaan pembatasan ekspor mineral tersebut hingga 10 November, sementara Gedung Putih menetapkan target Januari 2027 untuk menghentikan impor rare earths dari China, meski berdasarkan proyeksi kebutuhan dan kapasitas produksi saat ini target tersebut dinilai sulit dicapai.

Pemerintah AS telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendukung perusahaan seperti MP Materials, USA Rare Earth dan Energy Fuels guna mengurangi dominasi China dalam rantai pasok mineral tersebut. Sejumlah investasi mulai menghasilkan kapasitas baru, tetapi pembangunan kembali industri rare earths AS menghadapi tantangan karena negara tersebut sempat meninggalkan sektor itu pada akhir abad ke-20.

"Kita harus membangun ini dengan benar dan dengan urgensi. Dan ketika kita membangun kapasitas ini, kita akan mampu memenuhi permintaan tersebut," kata Kunal Sinha, pendiri perusahaan rintisan pengolahan mineral Valor.

Tantangan AS juga tidak berhenti pada aktivitas penambangan karena proses pengolahan rare earths membutuhkan teknologi dan keahlian khusus. Sebanyak 17 unsur rare earths harus dipisahkan melalui proses kimia dan mekanis yang kompleks, sementara AS masih memiliki kapasitas terbatas untuk mengolah jenis heavy rare earths yang digunakan dalam aplikasi militer.

Analis mineral dari Project Blue Todd Downing mengatakan negara-negara Barat memiliki peluang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, tetapi menggantikan pasokan China di seluruh rantai nilai merupakan tantangan yang jauh lebih besar. "Negara-negara Barat berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap China, tetapi menggantikan pasokan China di seluruh rantai nilai jauh lebih sulit," ujarnya.

Baca Juga:Ini Reaksi Penjahat Perang Netanyahu saat Pidato di PBB Disambut Walk Out MassalSejumlah perusahaan AS mulai memperluas kapasitasnya. MP Materials pada awal September mulai mengirimkan magnet yang dibuat dari rare earths hasil pemurniannya sendiri kepada General Motors, sementara USA Rare Earth melakukan ekspansi melalui akuisisi tambang di Brasil dan fasilitas pengolahan di Prancis.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap China masih menjadi risiko bagi industri AS. Sejumlah pemasok China dilaporkan mulai menahan pengiriman ke AS karena khawatir tindakan mereka dapat memicu persoalan dengan Pemerintah Beijing, sementara gangguan pasokan sebelumnya bahkan membuat Ford Motor menghentikan sementara operasi sejumlah pabriknya di AS.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski AS terus meningkatkan investasi dan kapasitas domestik, pengurangan ketergantungan terhadap China membutuhkan waktu. Bagi AS, tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi tambang, tetapi juga membangun seluruh ekosistem rare earths mulai dari penambangan, pemurnian, pemrosesan hingga produksi magnet dan material akhir yang dibutuhkan industri strategis.

AS dan China pun sepakat memperpanjang gencatan dagang selama dua bulan hingga 10 Januari 2027 dari jadwal sebelumnya berakhir pada 10 November untuk memberi ruang bagi perundingan kesepakatan ekonomi yang lebih luas. Kesepakatan tersebut dicapai menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington di saat ketergantungan AS terhadap pasokan mineral tanah jarang China masih menjadi isu strategis.

Topik Menarik