Rupiah Tertekan ke Rp17.758, Perang Timur Tengah hingga The Fed Bayangi Pasar

Rupiah Tertekan ke Rp17.758, Perang Timur Tengah hingga The Fed Bayangi Pasar

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 18 September 2026 - 16:35
share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Jumat, dengan penurunan 5 poin atau 0,03 ke level Rp17.758 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal terkait ketegangan geopolitik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, serta perhatian pasar terhadap kondisi fiskal dan risiko inflasi domestik.

"Pasar justru lebih mencermati tanda-tanda bahwa Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu," tulis Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).

Baca Juga:The Fed Nekat Naikkan Suku Bunga AS, Donald Trump Murka

Ibrahim menjelaskan, pertempuran baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menambah risiko terhadap pasokan minyak dunia di tengah konflik yang sebelumnya telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz. Namun, prospek pasokan masih tidak pasti setelah Iran melaporkan serangan terhadap kapal tanker berbendera Togo yang disebut melakukan pelayaran ilegal di Selat Hormuz.

Sentimen geopolitik turut dipengaruhi perkembangan diplomasi dan kebijakan Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan keputusan terkait aksi militer terhadap Iran, sementara China mendorong Washington dan Teheran menahan diri serta membuka kembali Selat Hormuz.

Dari sisi kebijakan moneter, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00. Sikap hawkish pejabat The Fed, termasuk pandangan bahwa inflasi masih terlalu tinggi, menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga dan likuiditas global.Dari dalam negeri, defisit APBN hingga akhir Agustus 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau 0,9 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp2.055,6 triliun dan belanja negara Rp2.295,7 triliun, dengan keseimbangan primer tercatat positif Rp154 triliun.

Baca Juga:Arab Saudi Upayakan Gencatan Senjata 2 Pekan dengan Houthi Lewat Oman

Pemerintah sebelumnya memperkirakan defisit APBN 2026 mencapai sekitar 2,85 PDB atau Rp734,3 triliun, sedikit di atas target awal sebesar 2,68 PDB. Selain itu, risiko kenaikan harga minyak mentah dan fenomena El Nino menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor pangan, ketersediaan air, serta inflasi.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada perdagangan berikutnya dalam rentang Rp17.750-Rp17.800 per dolar AS. Untuk perdagangan pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.650-Rp18.000 per dolar AS.

Topik Menarik