Ketika Sampah Organik Disulap Jadi Sumber Penghasilan

Ketika Sampah Organik Disulap Jadi Sumber Penghasilan

Ekonomi | okezone | Sabtu, 12 September 2026 - 09:36
share

JAKARTA - Tumpukan sisa makanan dari rumah tangga dan pelaku usaha kecil selama ini kerap berakhir sebagai sampah. Namun, di Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, limbah organik mulai mendapat jalan hidup baru.

Sisa makanan yang sebelumnya dibuang kini dipilah dan dimanfaatkan termasuk melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), guna mengurangi timbulan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Dari sana, sampah tidak lagi sekadar menjadi persoalan lingkungan, tetapi mulai berubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Pemanfaatan tersebut dikembangkan melalui fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Sekarbela yang melayani masyarakat di tiga kelurahan. Salah satu sumber bahan bakunya berasal dari sampah organik rumah tangga dan pelaku UMKM di kawasan Pantai Bagek Kembar.

Konsepnya sederhana. Sampah yang datang tidak langsung dibuang, melainkan dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah organik kemudian masuk ke proses pengolahan, salah satunya untuk mendukung budidaya maggot.

Maggot BSF memiliki kemampuan mengurai bahan organik sehingga dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus dibuang. Pada saat yang sama, hasil budidayanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan dan memiliki potensi ekonomi bagi kelompok masyarakat yang mengelolanya.

Ketua Kelompok Bale Maggot Muhammad Ridwan mengatakan pemanfaatan sampah organik memberikan perspektif baru bagi masyarakat dalam melihat limbah.

“Melalui pelatihan ini kami belajar bagaimana sampah organik yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Harapannya kegiatan ini bisa terus berkembang sehingga selain membantu mengurangi sampah, juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok dan masyarakat,” kata Ridwan dikutip dari keterangan resmi PLN EPI, Jakarta, Sabtu (11/9/2026).

Menurut dia, pengolahan sampah menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya bergantung pada pola kumpul-angkut-buang. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan sejak awal sehingga lebih banyak material yang bisa dimanfaatkan kembali.

Perspektif serupa disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Mataram Lalu Martawang yang mewakili Wali Kota Mataram. Menurutnya, keberadaan TPS3R harus diikuti perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah.

“Pembangunan TPS3R ini bukan sekadar menyediakan sarana pengelolaan sampah. Lebih dari itu, kita berharap fasilitas ini menjadi bagian dari perubahan perilaku dan budaya masyarakat dalam memperlakukan sampah,” kata Martawang.

Dia menilai sampah semestinya tidak selalu dipandang sebagai barang yang harus segera dibuang. Sebagian sampah, terutama yang masih memiliki nilai guna, dapat dikelola menjadi sumber daya.

“Bantuan yang paling berarti adalah bantuan yang menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

 

Dari Sampah ke Ekonomi Sirkular

Pengolahan sampah organik melalui maggot menjadi menarik karena mempertemukan dua persoalan sekaligus: mengurangi beban lingkungan dan membuka peluang ekonomi.

Sampah makanan dari rumah tangga maupun aktivitas UMKM dapat menjadi bahan baku budidaya. Maggot yang dihasilkan kemudian memiliki nilai guna sehingga terbentuk sebuah siklus pemanfaatan yang lebih panjang.

Model seperti ini menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular, ketika sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kembali masuk ke dalam rantai pemanfaatan dan menghasilkan nilai baru.

Di kawasan Pantai Bagek Kembar, pendekatan tersebut juga memiliki arti penting. Kawasan pesisir yang menjadi ruang aktivitas masyarakat dan UMKM membutuhkan pengelolaan sampah yang tidak hanya mengandalkan pengangkutan menuju tempat pembuangan akhir.

Dengan pemilahan dari sumber, sebagian sampah dapat diolah di tingkat komunitas. Sampah organik masuk ke pengolahan, sementara material lain yang masih memiliki nilai dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali.

Pengembangan pengolahan sampah ini mendapat dukungan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama anak usahanya, PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg), melalui pembangunan fasilitas TPS3R di sekitar wilayah proyek gasifikasi PLTMGU Lombok Peaker.

Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarawati mengatakan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat agar pengelolaannya dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Persoalan sampah ini menjadi masalah kita semua. Karena itu, kita tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga mendorong bagaimana masyarakat bersama-sama mengelola sampah sehingga manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Erma.

Menurut Erma, program tersebut juga menjadi bagian dari upaya PLN EPI menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar wilayah pengembangan infrastruktur energi.

“Harapannya multiplier effectnya tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga ada pemberdayaan lainnya. Kita ingin kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat ini semakin erat, termasuk melalui program-program pelatihan dan kerja sama yang dapat terus ditingkatkan,” ujarnya.

Topik Menarik