Wall Street Melemah Sepanjang Pekan Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Spekulasi Kenaikan Suku Bunga

Wall Street Melemah Sepanjang Pekan Akibat Lonjakan Harga Minyak dan Spekulasi Kenaikan Suku Bunga

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 12 September 2026 - 09:00
share

IDXChannel - Wall Street berakhir menguat cukup signifikan pada Jumat (11/9/2026) seiring turunnya harga minyak. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor pendek naik setelah laporan inflasi konsumen utama menunjukkan angka yang sesuai atau sedikit lebih tinggi dari perkiraan, sehingga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed)

Namun, secara mingguan, indeks-indeks utama saham AS ditutup jauh di zona negatif, tertekan oleh aksi jual yang terus berlanjut di pasar obligasi, meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga, dan lonjakan harga minyak.

Indeks acuan S&P 500 naik 0,8 persen dan ditutup pada level 7.654,52 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi menguat 1 persen menjadi 26.333,04 poin, dan indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average naik 1 persen menjadi 52.572,81 poin.

Secara mingguan, S&P turun 0,8 persen, Nasdaq turun 0,7 persen, dan Dow turun 1,6 persen.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan depan melonjak setelah rilis data CPI  Perhatian pada Jumat tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) terbaru.

Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI umum (headline) dan CPI inti masing-masing naik 0,4 persen dan 0,3 persen secara bulanan (month-on-month/M-o-M) pada Agustus. Angka ini dibandingkan dengan estimasi konsensus masing-masing sebesar 0,4 persen dan 0,2 persen, serta menunjukkan percepatan dibandingkan angka Juli yang masing-masing sebesar 0,1 perse dan 0,2 persen.

Secara tahunan (year-on-year/Y-o-Y), CPI umum naik 3,4 persen pada Agustus—tidak berubah dari Juli—sementara CPI inti melambat menjadi 2,4 persen dari 2,5 persen. Kedua angka tersebut sesuai dengan estimasi konsensus.

Data CPI ini semakin meningkatkan peluang Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada pekan depan. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas langkah tersebut melonjak hingga hampir 87 persen. setelah rilis data inflasi, naik dari sekitar 69 persen sebelumnya. Menjelang rilis data CPI Agustus, ekspektasi kebijakan yang lebih ketat (hawkish) perlahan menguat, bermula sejak Juli ketika tiga presiden Fed regional menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan FOMC untuk mempertahankan suku bunga. Ketua Fed Kevin Warsh kemudian menyampaikan pidato yang sangat bernada hawkish pada konferensi tahunan Jackson Hole di akhir Agustus, dengan menyoroti bahwa tren inflasi dasar belum menunjukkan perbaikan.

Sementara itu, indikator ekonomi lainnya semakin memperkuat kemungkinan pengetatan kebijakan moneter, yakni data nonfarm payrolls yang sangat kuat pekan lalu serta laporan indeks harga produsen (PPI) bulan Agustus pada hari Kamis yang menunjukkan percepatan pada angka inflasi utama (headline).

Di sisi lain, lonjakan harga minyak baru-baru ini akibat eskalasi ketegangan antara AS dan Iran telah memperparah kekhawatiran inflasi dan membebani masyarakat AS saat mengisi bahan bakar; harga solar di AS bahkan sempat melampaui angka USD6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis.

Pasar obligasi AS secara khusus mencerminkan peningkatan ekspektasi hawkish tersebut, dengan mengalami aksi jual besar-besaran—terutama pada obligasi tenor panjang—sejak keputusan suku bunga Fed bulan Juli. Lonjakan imbal hasil (yield) yang terjadi kemudian mendorong yield obligasi AS tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam hampir dua dekade dan memicu langkah Departemen Keuangan untuk meningkatkan volume pembelian kembali (buyback) instrumen tenor panjang.

Namun, intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Harga obligasi sebagian besar anjlok pada hari Jumat setelah rilis data CPI; yield acuan tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,974 persen, sementara yield tenor 2 tahun—yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga—naik 8 basis poin menjadi 4,630 persen.

Data CPI ini dianggap sebagai faktor penentu terakhir yang menggeser probabilitas suku bunga secara kuat ke arah kenaikan. Masih harus dilihat apakah FOMC benar-benar akan memperketat kebijakan, mengingat latar belakang politik di mana pada 2026 merupakan tahun pemilihan umum sela (midterm election) serta desakan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini agar suku bunga diturunkan.

"Fed tidak perlu membuktikan independensinya dengan menaikkan suku bunga; mereka perlu membuktikan independensi dengan bersikap konsisten," kata kepala strategi dan mitra di BakerAvenue Wealth Management, King Lip, kepada Investing.com.

Pasar kini telah memperhitungkan kemungkinan besar kenaikan suku bunga, sehingga keputusan untuk menahan suku bunga (pause) akan membuat penjelasan Fed menjadi sorotan tajam.

"Menurut pendapat saya, kredibilitas The Fed lebih penting daripada kenaikan 25 basis poin. Kebijakan moneter tidak mendapatkan pengecualian di tahun pemilihan umum. Ketua Warsh perlu menunjukkan bahwa keputusan didasarkan pada data dan mandat The Fed—bukan pada kalender politik. Data saat ini menuntut adanya kenaikan suku bunga," ujar Lip.

Lebih lanjut, dia mengatakan geopolitik menjadi masalah pasar yang berkepanjangan ketika hal itu berubah menjadi masalah inflasi—dan indikator geopolitik terpenting bagi pasar saat ini adalah harga minyak. Berita utama terkait diplomasi memang menjanjikan, namun investor sebaiknya berfokus pada data volume minyak (dalam barel) dan lalu lintas pelayaran untuk membedakan antara kemajuan diplomasi dan perbaikan nyata dalam arus pasokan energi.

Harga minyak sedikit melandai, namun tetap berada di jalur kenaikan lebih dari 18 persen dalam dua minggu.

Berita utama diplomasi yang dimaksud Lip adalah laporan Financial Times yang menyebutkan bahwa Oman memelopori pertemuan antara negara-negara utama Teluk dan Iran untuk membahas kesepakatan pemulihan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Menurut FT, pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari Senin di kota Salalah, Oman.

Harga minyak turun merespons laporan tersebut, mencerminkan adanya harapan akan meredanya ketegangan konflik di Timur Tengah dan pulihnya arus pasokan minyak.

Namun, harga minyak mentah tetap berada di jalur naik. Harga minyak mencatat kenaikan lebih dari 18 persen dalam dua minggu terakhir, dengan kontrak berjangka minyak mentah Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) AS sama-sama menembus level USD100 per barel minggu ini—kali pertama sejak akhir Mei.

Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh kembali memanasnya ketegangan militer antara AS dan Iran setelah kebuntuan selama berminggu-minggu terkait kendali atas Selat Hormuz. Bentrokan antara kedua pihak dalam beberapa hari terakhir tercatat sebagai yang paling intens sejak konflik bermula pada akhir Februari, sehingga memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan pada arus pasokan energi. (Febrina Ratna Iskana) 

Topik Menarik