19 Negara G20 Kompak Lawan Produk Murah China, Menkeu AS: Merusak Ekonomi Global
Drama geopolitik dan ekonomi kembali mengguncang forum G20 di North Carolina. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent mengungkapkan bahwa 19 dari 20 negara anggota G20 telah sepakat untuk melawan banjir 'ekspor murah' yang dinilai merusak keseimbangan ekonomi global.
Satu-satunya negara yang menolak dan melawan arus kesepakatan tersebut adalah China. Pernyataan menohok ini dilontarkan Bessent usai menutup pertemuan dua hari bersama para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20, di mana AS secara terbuka mengajak negara-negara lain meniru taktik "benteng tarif" ala pemerintahan Donald Trump.
Baca Juga: Boikot Gagal, Trump Sambut Rusia di G20 meski Uni Eropa NgamukBessent menyebutkan lonjakan produk murah dari negara berbasis non-pasar sebagai ancaman nyata yang membunuh sektor manufaktur di berbagai belahan dunia. Menurutnya, negara dengan surplus transaksi berjalan terbesar dan paling tidak berkelanjutan di dunia -Republik Rakyat China- menjadi pihak yang berbeda arah.
Peringatan Gelombang Barang Murah China
Menkeu Bessent mengklaim telah memperingatkan para sekutu AS sejak awal periode kedua Trump bahwa kebijakan tarif impot AS akan membuat barang-barang China berbelok dan membanjiri pasar negara lain."Sayangnya, tebakan saya tepat. Seluruh dunia harus melihat secara serius apa yang perlu mereka lakukan untuk melindungi pekerjaan warga negara dan basis manufaktur mereka," tegasnya.
Isu kapasitas industri berlebih, regulasi kerja paksa, hingga ancaman tarif impor tambahan 7,5 terhadap barang China bakal menjadi menu utama perundingan langsung antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping akhir bulan ini.Baca Juga: Surplus Dagang China Tembus Rp21.191 Triliun, AS Desak G20 Kompak Naikkan Tarif Impor
Selain perdagangan, AS juga menyoroti sektor AI dan mendesak para pengembang teknologi serta laboratorium global untuk tidak membiarkan aktor non-negara membangun model AI berbahaya tanpa pengawasan (guardrails).
Meski memanas di sektor perdagangan, AS dan China mengejutkan publik dengan menemukan titik temu terkait krisis geopolitik di Timur Tengah. Kedua raksasa ekonomi ini sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan pelayaran minyak di Selat Hormuz harus kembali bebas dari gangguan.
Di sisi lain, kekhawatiran pasar terhadap utang global yang menyentuh rekor fantastis USD353 triliun dengan porsi utang AS mencapai USD40 triliun coba ditenangkan oleh Bessent. Ia menegaskan pasar obligasi AS berada dalam kondisi aman dan tidak berada dalam situasi genting.










