Mengenal BRICS Pay, Senjata Baru 11 Negara untuk Transaksi Tanpa Dolar AS

Mengenal BRICS Pay, Senjata Baru 11 Negara untuk Transaksi Tanpa Dolar AS

Ekonomi | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 19:34
share

Upaya perlawanan terhadap dominasi ekonomi dan sistem keuangan Barat mencapai babak baru. Usai gelaran KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, kelompok negara-negara berkembang ini secara resmi menegaskan komitmen mereka untuk memperluas transaksi mata uang lokal melalui platform pembayaran lintas negara bernama BRICS Pay.

Sistem ini hadir sebagai jawaban atas rentannya infrastruktur keuangan global yang selama ini dikuasai Barat, terutama setelah sanksi masif yang membekukan akses perbankan Rusia dari jaringan SWIFT pasca-konflik Ukraina.

Apa Itu BRICS Pay dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Diolah dari riset BRICS Business Council sejak 2018 dan disetujui secara resmi pada 2024, BRICS Pay adalah ekosistem pembayaran digital terdesentralisasi. Sistem ini bukan dimaksudkan untuk menciptakan satu mata uang tunggal baru, melainkan menjadi bridge (jembatan) yang menghubungkan sistem pembayaran nasional masing-masing negara anggota.

Baca Juga: Hancurkan Dominasi Dolar AS, Rusia dan India Sepakat Bangun BRICS Pay

Saat ini, BRICS mencakup 11 negara anggota-termasuk Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, UEA, hingga Indonesia. Gabungan negara ini mewakili 49 populasi dunia dan menyumbang sekitar 40 dari total PDB global.

Konektivitas QR & dompet digital, dimana wisatawan atau pebisnis dapat bertransaksi langsung menggunakan aplikasi pembayaran lokal mereka (seperti UPI dari India, Pix dari Brasil, atau QRIS/rupiah digital) saat berada di negara anggota lain.

Lalu ada transaksi B2B bebas dolar, ketika perusahaan dan bank dapat melunasi tagihan perdagangan antar-negara (settlement) menggunakan mata uang nasional tanpa perlu mengonversinya terlebih dahulu ke Dolar AS.

Baca Juga: Saatnya BRICS Patahkan Dominasi Dolar, Pakar Ungkap Potensi Rombak Tatanan Finansial Dunia

Ditambah arsitektur fleksibel, yang ditegaskan oleh CEO BRICS Pay, Andrey Mikhaylishin bahwa sistem ini tidak memaksakan dedolarisasi total. "Jika mereka ingin menggunakan Dolar, mereka tetap bisa. Kami hanya memberikan fleksibilitas dan pilihan pembayaran yang lebih luas," ujarnya.

Mampukah BRICS Pay Menggeser Dominasi SWIFT?

SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) saat ini masih menjadi tulang punggung transaksi keuangan global yang menghubungkan lebih dari 11.000 lembaga keuangan di seluruh dunia. Para analis meyakini bahwa BRICS Pay tidak akan menggantikan SWIFT secara keseluruhan dalam waktu dekat, melainkan memicu fragmentasi arsitektur pembayaran global.

"SWIFT memiliki keunggulan skala, kepercayaan, dan standardisasi yang dibangun berdekade-dekade. Namun, jika BRICS Pay sukses, sistem ini akan mengurangi ketergantungan pada SWIFT di koridor perdagangan tertentu, terutama antar-anggota BRICS," terang Alejandro Reyes, akademisi dari Universitas Hong Kong.

Dengan terhubungnya infrastruktur keuangan 11 negara raksasa ini, masa depan transaksi internasional diprediksi tidak lagi bergantung pada satu sistem terpusat, melainkan beralih ke jaringan multisentris yang lebih aman dari sanksi politik.

Topik Menarik