Serba Digital, Masyarakat Perlu Tahu Cara Mengelola Keuangan dengan Bijak

Serba Digital, Masyarakat Perlu Tahu Cara Mengelola Keuangan dengan Bijak

Ekonomi | inews | Senin, 31 Agustus 2026 - 19:58
share

JAKARTA, iNews.id – Kemudahan mengakses layanan keuangan membuat masyarakat kini bisa melakukan berbagai transaksi hanya melalui ponsel. Menabung, melakukan pembayaran, mengajukan pinjaman, hingga berinvestasi dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang cukup mengenai cara mengelola keuangan. Tanpa pengetahuan yang memadai, masyarakat justru bisa keliru mengambil keputusan finansial atau tidak memahami risiko dari produk yang digunakan.

Karena itu, literasi keuangan menjadi kemampuan yang semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui cara menggunakan layanan keuangan, tetapi juga perlu memahami manfaat, biaya, risiko, serta kesesuaiannya dengan kondisi keuangan masing-masing.

Literasi keuangan juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Mulai dari membuat anggaran, menentukan prioritas pengeluaran, menyisihkan dana untuk kebutuhan darurat, hingga mempersiapkan tujuan keuangan jangka panjang.

Semakin baik pemahaman seseorang terhadap kondisi keuangannya, semakin besar pula peluang untuk membuat keputusan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan.

Upaya meningkatkan pemahaman tersebut dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk industri jasa keuangan. Salah satunya melalui program Bakti BCA yang sepanjang 2025 telah menjangkau lebih dari 169.000 individu di 35 provinsi.

Program tersebut tidak hanya mengandalkan kegiatan edukasi di satu lokasi. Sebanyak 652 pekerja dilibatkan sebagai Duta Literasi Keuangan, sementara 244 kantor cabang turut menjadi pelaksana program.

Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono mengatakan edukasi keuangan memiliki kaitan erat dengan kemandirian masyarakat.

“Peningkatan literasi keuangan merupakan salah satu fondasi untuk mendorong kemandirian masyarakat sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045,” kata Widodo dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).

Mengapa Literasi Keuangan Penting?

Ada sejumlah alasan mengapa pemahaman finansial perlu dibangun sejak dini.

Pertama, masyarakat dapat lebih mudah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Hal sederhana ini penting karena pengeluaran yang tidak direncanakan dapat mengganggu kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Kedua, literasi keuangan membantu seseorang memahami kemampuan finansial sebelum mengambil keputusan, termasuk ketika menggunakan fasilitas kredit. Dengan begitu, keputusan tidak hanya didasarkan pada kemudahan mendapatkan dana, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan membayar kembali.

Ketiga, pengetahuan finansial membuat masyarakat lebih kritis ketika memilih produk keuangan. Setiap produk memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda sehingga pengguna perlu membaca ketentuan sebelum mengambil keputusan.

Keempat, pemahaman keuangan dapat membantu masyarakat menyiapkan tujuan finansial. Dana darurat, pendidikan, kepemilikan rumah, hingga persiapan masa depan membutuhkan perencanaan yang tidak bisa dilakukan secara mendadak.

Kebutuhan memperluas edukasi tersebut juga tercermin dari perhatian regulator terhadap program literasi keuangan. Dalam KEJAR Award dan Financial Literacy Award 2026, BCA memperoleh empat penghargaan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait implementasi dan program literasi keuangan.

Penghargaan tersebut mencakup Bank Implementasi KEJAR Terbaik Kategori Bank Umum Konvensional, PUJK dengan Program Literasi Keuangan Teraktif Sektor Bank Umum, PUJK Program Literasi Keuangan Terbaik, serta OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia (Peduli) PUJK Terbaik.

Bagi masyarakat, yang lebih penting dari sekadar banyaknya program adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Widodo mengatakan edukasi mengenai keuangan akan terus menjadi bagian dari upaya pihaknya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.

“Kami akan senantiasa berupaya menghadirkan berbagai produk, layanan, dan edukasi bagi masyarakat,” ujarnya.

Pada akhirnya, melek keuangan bukan berarti harus memahami seluruh istilah ekonomi atau menjadi ahli investasi. Hal yang lebih mendasar adalah mampu mengetahui kondisi keuangan sendiri, memahami konsekuensi dari setiap keputusan, serta tidak mudah mengambil keputusan hanya karena tergiur kemudahan atau keuntungan yang ditawarkan.

Topik Menarik