TBS (TOBA) Pangkas Rugi hingga 83 Persen pada Semester I-2026, Arus Kas Berbalik Positif
IDXChannel - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatat perbaikan kinerja dalam enam bulan pertama 2026. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar USD19,65 juta, berkurang hingga 83 persen dibandingkan posisi semester I-2025 yang rugi sebesar USD115,61 juta.
Laba kotor TBS naik dua kali lipat menjadi USD28,23 juta. Selain itu, kinerja perseroan turut didukung oleh absennya kerugian divestasi entitas anak yang muncul pada 2025 sebesar USD96,87 juta.
Sementara itu, arus kas (cashflow) juga membaik, bahkan berbalik positif. Pada Januari-Juni 2026, arus kas dari aktivitas operasi mencapai USD14,58 juta, berbalik dari semester I-2025 yang negatif USD31,57 juta.
Peningkatan kinerja operasional TBS menunjukkan bahwa transformasi portofolio menuju bisnis infrastruktur berkelanjutan mulai tercermin dalam bauran pendapatan, margin, dan kemampuan TBS menghasilkan kas. Struktur pendapatan TBS yang berasal dari segmen nonbatu bara dalam hal ini pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik mencapai 66,51 persen, sedangkan bisnis batu bara menyumbang 31,4 persen.
Padahal, portofolio TBS pada tahun lalu masih didominasi batu bara. Pergeseran ini sudah terlihat pada kuartal I-2026 dan kontribusi sektor nonbatu bara bertambah pada kuartal II, menandakan perubahan yang bersifat struktural, bukan sekadar musiman.
"Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis nonbatu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan, dan kuartal kedua menunjukkan kami berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi bisnis infrastruktur berkelanjutan," ujar Direktur & Chief Financial Officer (CFO) PT TBS Energi Utama Tbk, Juli Oktarina dalam keterangan resmi, Jumat (28/8/2026).
Dari sisi neraca, kinerja perseroan memasuki semester II-2026 ditandai dengan posisi kas USD94,7 juta per 30 Juni 2026. Utang bank jangka pendek turun 30,9 persen year-on-year (yoy) dan total liabilitas jangka pendek turun 13,5 persen yoy. Refinancing obligasi rupiah 2026 melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II dan III memindahkan utang USD27,5 juta dari jatuh tempo jangka pendek, sehingga memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan.
Selain itu, tingkat leverage juga membaik, dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 5,4x dibanding 5,6x pada keseluruhan tahun 2025. Langkah-langkah ini memperkuat kapasitas Perseroan untuk mendanai program transisinya.
"Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan dan tetap berada di jalur target netralitas karbon 2030. Bisnis-bisnis baru kami sudah menghasilkan kas, utang jangka pendek kami turun signifikan, dan neraca kami memberi ruang untuk terus berinvestasi. Fondasinya
sudah ada, dan kami akan terus membangun di atasnya," katanya.
(Rahmat Fiansyah)








