Defisit Neraca Pembayaran Anjlok 90 Persen, BI: Ketahanan Eksternal Indonesia Tetap Solid
JAKARTA – Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2026 tercatat tetap terjaga dan menunjukkan perbaikan nyata di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian global.
Ketahanan sektor eksternal ini ditopang oleh lonjakan surplus transaksi modal dan finansial yang mampu mengimbangi pelebaran defisit transaksi berjalan yang bersifat sementara.
Bank Indonesia melaporkan bahwa ketahanan eksternal perekonomian nasional tetap solid berkat berlanjutnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi domestik. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan II-2026 mencatatkan perbaikan signifikan dengan penyusutan defisit yang ditopang oleh derasnya aliran masuk modal asing.
"Kinerja NPI pada triwulan II-2026 tetap terjaga dengan mencatat defisit 0,9 miliar dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar 9,1 miliar dolar AS. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus yang ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Minggu (23/8/2026).
Kondisi neraca pembayaran yang prima turut menopang posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 yang tetap kokoh sebesar 145,6 miliar dolar AS.
Akumulasi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Di sisi lain, transaksi berjalan pada triwulan II-2026 mencatatkan defisit sebesar 12,5 miliar dolar AS atau setara dengan 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan I-2026 sebesar 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen dari PDB.
Pembengkakan defisit ini dipengaruhi oleh faktor musiman dan kenaikan harga energi global. Sejalan dengan itu, pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipicu oleh lonjakan impor migas dan tingginya kebutuhan pengadaan barang modal untuk aktivitas ekonomi dalam negeri.
Otoritas moneter memprakirakan tekanan pada pos transaksi berjalan ini hanya berlangsung temporer sejalan dengan dinamika siklus perdagangan luar negeri.
"Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia, sedangkan surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat lebih rendah dipengaruhi peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi," kata Denny.
"Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer, sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan capaian triwulan I-2026," imbuhnya.
Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut terkompensasi penuh oleh pembalikan kinerja transaksi modal dan finansial yang mencatatkan surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II-2026. Capaian ini melonjak tajam setelah pada triwulan sebelumnya sempat membukukan defisit sebesar 4,8 miliar dolar AS.
Kinerja positif pos finansial ini disokong oleh kenaikan surplus investasi langsung (Foreign Direct Investment) seiring dengan persepsi positif pemodal terhadap prospek ekonomi serta iklim investasi domestik.
Di saat yang sama, investasi portofolio mencatatkan peningkatan surplus berkat daya tarik imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri, disertai defisit pos investasi lainnya yang tercatat kian menurun.
Pembalikan arah transaksi modal dan finansial menjadi penopang utama yang membentengi stabilitas neraca pembayaran secara menyeluruh. Denny menilai kepercayaan pemodal global terhadap fundamental ekonomi tanah air tetap terjaga dan tercermin dari peningkatan aliran dana masuk.
"Transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II-2026 setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit 4,8 miliar dolar AS," urai Denny.
"Investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi dipengaruhi terjaganya persepsi positif investor terhadap iklim investasi domestik, sementara investasi portofolio meningkat seiring dengan kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik dan investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah," jelas Denny.
Memasuki paruh kedua 2026, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja NPI akan tetap solid dalam menopang ketahanan eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan kembali menyusut seiring dengan membaiknya prospek ekspor komoditas unggulan nasional di pasar global serta berkurangnya beban tarif perdagangan internasional menyusul penurunan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS).
Bank sentral memproyeksikan struktur neraca eksternal Indonesia akan semakin kokoh dengan berlanjutnya arus masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Penguatan bauran instrumen moneter bersama stimulus fiskal pemerintah disiapkan untuk memitigasi potensi rambatan gejolak eksternal.
"Ke depan, prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal, didukung defisit transaksi berjalan yang lebih rendah sejalan dengan perbaikan ekspor, kenaikan harga komoditas global, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal AS. Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," urai Denny.









