Obesitas Jadi Pasar Menggiurkan, BPOM-Novo Nordisk Ingatkan Bahaya Pelangsing Instan
Maraknya produk penurun berat badan yang menawarkan hasil cepat di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap obesitas menjadi peluang pasar sekaligus tantangan kesehatan. Dokter mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur produk pelangsing yang belum jelas keamanan dan izin edarnya karena penanganan obesitas membutuhkan proses serta pendekatan medis yang tepat.
"Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu," ujar Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya dr Prinindita Artiara Dewi dalam Health Corner bertema "Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal" dikutip pada Sabtu (22/8/2026).
Baca Juga:Novo Nordisk Hadirkan Platform Edukasi Obesitas bagi Perempuan
Menurut Prinindita, diet ekstrem dengan memangkas asupan makanan secara berlebihan bukan cara yang tepat untuk menurunkan berat badan. Tubuh tetap membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, dan mineral, sementara kebutuhan energi dan protein setiap orang berbeda sehingga pola makan perlu disesuaikan secara individual.
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia dr Riyanny Meisha Tarliman mengatakan obesitas tidak semata-mata disebabkan kurangnya disiplin dalam menjaga pola makan dan aktivitas fisik. Obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi berbagai faktor kompleks, termasuk biologis, genetik, lingkungan, penggunaan obat tertentu, serta gangguan hormonal seperti hipotiroid dan sindrom Cushing."Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dan lainnya, dan sering kali membutuhkan konsultasi dengan dokter," kata Riyanny.
Ia menjelaskan penanganan obesitas tidak hanya mengandalkan obat, tetapi dimulai dari perubahan gaya hidup dan dapat dilanjutkan dengan terapi farmakologi apabila diperlukan. Pada kondisi tertentu, tindakan operasi bariatrik juga dapat menjadi pilihan, dengan keputusan terapi mempertimbangkan kondisi tubuh serta penyakit penyerta seperti diabetes dan gangguan kardiovaskular.
Di sisi lain, keinginan memperoleh hasil secara cepat mendorong sebagian masyarakat membeli produk penurun berat badan melalui platform daring dan media sosial. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengingatkan masyarakat tidak menjadikan promosi atau ulasan influencer sebagai satu-satunya dasar memilih produk kesehatan, terutama karena masih terdapat klaim berlebihan atau overclaim.Masyarakat juga diminta memastikan obat penurun berat badan telah memiliki izin edar dan digunakan sesuai ketentuan. Untuk produk yang penggunaannya membutuhkan resep, konsumsi harus dilakukan berdasarkan konsultasi dengan dokter karena penggunaan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Taruna mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip cek 'klik' sebelum membeli obat atau produk kesehatan, yakni memeriksa kemasan, label, izin edar, dan kadaluwarsa. Konsumen juga perlu mewaspadai kode batang atau barcode yang mengarahkan ke laman tidak terkait BPOM karena dapat menjadi indikasi produk yang mencurigakan dan perlu dilaporkan.
Baca Juga:BPOM Temukan 14 Kosmetik Berbahaya, Ini Daftarnya!
Penanganan obesitas juga tidak dapat diharapkan menghasilkan perubahan dalam waktu singkat. Riyanny menekankan pengelolaan obesitas harus berbasis sains, melibatkan tenaga kesehatan, dan mempertimbangkan manfaat serta risiko jangka panjang karena obesitas berkembang dalam proses yang panjang.
Prinindita menambahkan konsistensi menjadi kunci agar penurunan berat badan dapat dipertahankan dan tidak kembali meningkat. Karena itu, masyarakat yang telah berupaya menurunkan berat badan secara mandiri tetapi belum memperoleh hasil disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui faktor penyebab dan menentukan penanganan yang sesuai.









