Wall Street Berakhir Menguat, S&P 500 hingga Dow Jones Kompak Naik
IDXChannel - Wall Street berakhir di rekor tertinggi pada hari Kamis (13/8/2026), didorong oleh saham-saham teknologi yang sensitif terhadap suku bunga menyusul data inflasi produsen yang cenderung moderat yang memicu para pedagang untuk menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Dilansir dari laman Investing Jumat (14/8/2026), imbal hasil (yield) obligasi Treasury turun sebagai respons, sementara penurunan harga minyak juga turut memperbaiki sentimen pasar.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,7 persen dan ditutup pada level 7.799,57 poin, setelah sebelumnya sempat menembus level 7.800 untuk pertama kalinya dan mencatatkan rekor tertinggi intraday sepanjang masa di angka 7.816,79 poin.
Indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi menguat 0,8 persen dan berakhir di posisi 26.803,03 poin. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average naik 0,1 persen dan ditutup pada level 53.840,14 poin.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga telah mereda menyusul perlambatan inflasi, baik pada data CPI kemarin maupun PPI hari ini. Hal ini memicu permintaan yang kuat terhadap saham dan obligasi. Kami melihat tanda-tanda awal kembalinya reli pasar yang lebih luas. Indeks S&P 500 Equal Weight, S&P 400, dan Russell 2000 dipandang sebagai pihak yang akan paling diuntungkan dari sikap Federal Reserve yang tidak terlalu agresif (hawkish)," ujar Michael O’Rourke, Kepala Strategi Pasar di Jones Trading, kepada Investing.com.
Peluang kenaikan suku bunga bulan September kembali melemah setelah rilis data PPI
Sehari setelah laporan inflasi konsumen bulan Juli yang sesuai perkiraan, para investor mencermati data harga produsen untuk periode yang sama.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics), indeks harga produsen (PPI) utama bulan Juli tercatat stagnan secara bulanan (M/M), namun naik 4,7 persen secara tahunan (Y/Y). Pada bulan Juni, PPI utama sempat turun 0,1 persen secara bulanan dan naik 5,5 persen secara tahunan. Angka-angka bulan Juli tersebut lebih rendah daripada perkiraan para ekonom.
Sementara itu, PPI inti bulan Juli naik 0,2 persen secara bulanan (M/M) dan 4,2 persen secara tahunan (Y/Y), dibandingkan dengan perkiraan masing-masing sebesar 0,3 persen dan 4,2 persen. Pada bulan Juni, PPI inti tercatat naik 0,4 persen M/M dan 4,7 persen Y/Y.
Berdasarkan kedua laporan tersebut, angka utama maupun inti dari CPI dan PPI kini telah melambat secara tahunan (Y/Y). Kedua indikator ini banyak dipantau, namun The Fed lebih memilih untuk melacak indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti guna mengukur inflasi. Komponen-komponen dari CPI dan PPI turut menjadi masukan bagi perhitungan PCE.
"Angka PPI inti sesuai dengan perkiraan, namun rinciannya mengindikasikan potensi kenaikan pada PCE inti bulan Juli yang akan dirilis akhir bulan ini. Dalam laporan PPI, biaya layanan pengelolaan portofolio melonjak 6,5 persen secara bulanan dan naik 22,5 persen secara tahunan. Kategori harga ini bergerak sejalan dengan indeks pasar saham, dan pasar telah mencatat kenaikan signifikan selama 12 bulan terakhir. Lonjakan harga layanan pengelolaan portofolio di bulan Juli ini akan turut mendorong inflasi PCE inti pada rilis data berikutnya," ujar Bill Adams, Kepala Ekonom AS di Fifth Third Commercial Bank.
"Bagi The Fed, laporan PPI ini tidak mengubah gambaran besar mengenai inflasi: tingkatannya masih terlalu tinggi, namun inflasi inti lebih rendah dibandingkan inflasi utama dan kondisi keduanya membaik pada bulan Juli. Laporan CPI dan PPI bulan Juli membuka peluang tipis bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap pada keputusan bulan September. Laporan CPI dan PPI bulan Agustus akan dirilis sebelum keputusan tersebut diambil, jadi data hari ini bukanlah penentu akhir," tutur dia.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan September turun menjadi sekitar 34 persen setelah rilis data PPI, sementara peluang The Fed mempertahankan suku bunga tetap naik menjadi hampir 66 persen.
Aset-aset yang sensitif terhadap suku bunga juga bereaksi; imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) turun seiring dengan tingginya minat beli terhadap obligasi. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun turun 5,6 basis poin menjadi 4,636 persen, sedangkan imbal hasil obligasi tenor pendek 2 tahun turun 5,4 basis poin menjadi 4,145 persen. Saham-saham teknologi mengalami kenaikan, dengan sektor teknologi S&P 500 ditutup menguat 1 persen.
Saham Cisco turun, membatasi kenaikan Dow
Berbicara mengenai sektor teknologi, Cisco Systems melaporkan kinerja kuartalan yang kuat, didorong oleh lonjakan permintaan perangkat keras yang diperlukan untuk menopang infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pimpinan tertinggi raksasa peralatan jaringan tersebut, Chuck Robbins, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa perusahaan belum pernah mengalami tingkat permintaan seperti ini di seluruh portofolionya dalam tiga dekade terakhir. Perusahaan telah menerima pesanan bernilai miliaran dolar dari perusahaan-perusahaan teknologi raksasa (megacap) yang terus meningkatkan investasi dana untuk pengembangan sistem AI mereka.
Namun, saham komponen indeks Dow 30 ini justru turun lebih dari 8 persen, sehingga membatasi kenaikan indeks saham unggulan (blue-chip) tersebut. Ekspektasi pasar sangat tinggi menjelang rilis laporan keuangan ini, dan saham tersebut telah mencatat lonjakan lebih dari 60 persen sepanjang tahun berjalan (year-to-date) sebelum laporan diterbitkan.
Kini perhatian beralih ke pemasok peralatan cip AI, Applied Materials, yang akan melaporkan kinerjanya setelah penutupan perdagangan. Sektor semikonduktor secara keseluruhan merupakan salah satu pihak yang paling diuntungkan oleh lonjakan tren AI, di mana Indeks Semikonduktor Philadelphia telah melonjak hampir 80 persen sepanjang tahun berjalan.
(kunthi fahmar sandy)








