Penjualan Domestik Topang Prospek Saham Consumer Staples
IDXChannel - Kinerja emiten sektor consumer staples pada kuartal II-2026 menunjukkan pemulihan yang semakin solid, ditopang kenaikan penjualan domestik terutama dari segmen produk susu.
Meski demikian, analis memperkirakan tekanan terhadap margin laba mulai terasa pada paruh kedua tahun ini seiring kenaikan harga bahan baku dan biaya kemasan.
Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, dalam riset yang diterbitkan pada 4 Agustus 2026 menyebutkan penjualan domestik agregat emiten consumer staples tumbuh 11,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II-2026.
Angka tersebut jauh di atas rata-rata pertumbuhan lima tahun yang hanya sekitar 2,8 persen.
Pendorong utama pertumbuhan berasal dari segmen produk susu. Penjualan susu gabungan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) melonjak 35,6 persen secara tahunan.
Kinerja tersebut diduga turut didukung implementasi yang semakin luas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.893
Selain itu, jumlah hari kerja yang lebih banyak pada kuartal II-2026 akibat perbedaan jadwal pembatasan operasional truk juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan penjualan.
Dari sisi laba, Indo Premier mencatat kinerja ICBP melampaui ekspektasi pasar.
Sementara itu, laba PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan CMRY relatif sesuai dengan konsensus.
Berbeda, laba PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) berada di bawah perkiraan analis.
Pada sisi profitabilitas, MYOR mencatat perbaikan margin laba kotor (gross profit margin/GPM) paling signifikan dengan kenaikan 452 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan tersebut didorong penurunan harga sejumlah bahan baku utama, seperti kopi, gula, dan kakao.
ICBP juga berhasil membukukan ekspansi GPM sebesar 38 basis poin.
Pertumbuhan penjualan konsolidasi yang mencapai 15,7 persen mampu mengimbangi dampak kenaikan harga crude palm oil (CPO).
Sebaliknya, KLBF, CMRY, dan UNVR mengalami penurunan margin laba kotor akibat perubahan bauran produk, kenaikan harga susu skim, penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah, serta meningkatnya biaya kemasan yang dipengaruhi lonjakan harga minyak.
Tekanan terbesar dialami SIDO. Margin laba kotor perseroan turun hampir 10 poin persentase menjadi 50,5 persen setelah penjualan produk herbal, yang memiliki margin lebih tinggi, anjlok 54,8 persen secara tahunan.
Indo Premier memperkirakan tekanan terhadap margin laba semakin terasa pada semester II-2026.
Menurut hasil diskusi dengan sejumlah emiten, dampak kenaikan harga minyak terhadap bahan baku aktif (active pharmaceutical ingredients/API) maupun biaya kemasan belum sepenuhnya tercermin pada kinerja kuartal II karena perusahaan masih menggunakan persediaan dengan biaya yang lebih rendah.
Dengan rata-rata persediaan sektor mencapai sekitar 81 hari, tekanan biaya diperkirakan baru terlihat secara penuh pada kuartal III-2026.
Selain itu, Bogasari telah menaikkan harga tepung terigu domestik sebesar 2 persen pada Mei 2026 dan kembali 1-2 persen pada Juli 2026 akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut diperkirakan semakin menekan margin emiten consumer staples.
Berdasarkan simulasi Indo Premier, setiap kenaikan 5 persen harga gandum maupun minyak mentah berpotensi memangkas proyeksi laba tahun 2026 MYOR dan ICBP masing-masing sebesar 4,3 persen, KLBF 4,5 persen, UNVR 3,9 persen, CMRY 2,2 persen, serta SIDO 0,6 persen.
Meski memperkirakan adanya tekanan margin, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor consumer staples.
Menurut analis, pertumbuhan penjualan domestik yang kuat menjadi katalis utama, sementara risiko kenaikan biaya dinilai sudah mulai tercermin dalam harga saham setelah kapitalisasi pasar agregat sektor ini turun sekitar 18 persen sejak Maret 2026, bertepatan dengan dimulainya perang Amerika Serikat (AS)-Iran.
“Dari sisi positioning dana, investor domestik sudah memiliki posisi yang kuat di sektor ini. Oleh karena itu, pembeli tambahan (incremental buyers) yang berpotensi menopang pergerakan saham diperkirakan berasal dari investor asing,” tulis analis Indo Premier.
Indo Premier juga mempertahankan urutan saham unggulan (top picks), yakni KLBF, MYOR, ICBP, CMRY, UNVR, dan SIDO.
Namun, analis mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah serta pelemahan daya beli masyarakat masih menjadi risiko utama bagi prospek sektor ini. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









