Jelang Mandatori SAF 1 di 2027, Pertamina Patra Niaga Percepat Ekosistem
Pertamina Patra Niaga terus mendorong penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan ramah lingkungan guna mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih rendah emisi. Untuk itu, pengembangan ekosistem SAF terus dipercepat.
SAF menjadi salah satu topik utama dalam "3rd Annual Indonesia Aero Summit (IAS) 2026" yang digelar di Jakarta. Forum tahunan yang diselenggarakan oleh Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini mempertemukan regulator, maskapai penerbangan, pelaku industri, penyedia teknologi, hingga perusahaan energi untuk membahas masa depan industri penerbangan Indonesia.
Dalam forum tersebut, Pertamina Patra Niaga sebagai pionir pengembangan SAF di Indonesia, turut membagikan upaya yang telah dijalankan untuk membangun ekosistem SAF nasional. Salah satu agenda dalam forum tersebut adalah panel diskusi bertajuk “Accelerating the SAF Transition: From Feedstock to Flight” yang menghadirkan Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, sebagai narasumber.
Baca Juga: Sustainable Aviation Fuel (SAF) Mengangkasa, Bioavtur Pertamina untuk Penerbangan Ramah LingkunganDalam sesi panel, Joko membagikan berbagai inisiatif perusahaan dalam mengembangkan SAF di Indonesia, mulai dari pengembangan fasilitas produksi, uji coba bersama maskapai, hingga penyiapan pasar guna mempercepat pemanfaatan bahan bakar penerbangan berkelanjutan tersebut.
“Pertamina Patra Niaga menjadi pionir di Indonesia dengan memulai pengembangan SAF sejak lima tahun lalu. Meskipun tantangan komersialnya masih besar, kami memilih memulai lebih awal, tidak menunggu pasar maupun regulasi sepenuhnya siap untuk mulai bergerak. Kami telah melakukan uji coba bersama Garuda Indonesia dan Pelita Air, bahkan tahun ini sudah melakukan kontrak penjualan SAF dengan salah satu maskapai internasional untuk mendukung penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta dan Bali,” papar Joko melalui keterangan pers, Kamis (23/7/2026).
Joko menambahkan, pengembangan SAF membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku (feedstock), fasilitas produksi, pembiayaan, maskapai sebagai pengguna (offtaker), hingga dukungan regulasi.
Ia mengatakan, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan langkah-langkah dalam menyambut penerapan mandat penggunaan SAF yang ditargetkan mulai berlaku pada tahun 2027. Pertamina Patra Niaga, kata dia, terus menyiapkan seluruh ekosistem SAF di dalam negeri.
"Dari sisi produksi, fasilitas di Cilacap sudah siap dan tahun ini kami juga melakukan uji coba co-processing di Dumai dan Balongan. Di saat yang sama, kami membangun pasokan feedstock melalui kemitraan maupun mengembangkan sistem pengumpulan secara internal agar ketersediaannya lebih terjaga. Harapannya, ketika mandat penggunaan SAF sebesar 1 mulai diterapkan tahun depan, Pertamina sudah siap memenuhi kebutuhan pasar,” tegas Joko.Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Dorong Transisi Energi Melalui Pengembangan SAF
Dalam rangkaian Indonesia Aero Summit 2026, PT Pertamina (Persero) bersama PT Pertamina Patra Niaga juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Boeing Indonesia sebagai bentuk kolaborasi untuk mendorong pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Kerja sama ini mencakup pengembangan edukasi SAF, pemetaan potensi bahan baku, penguatan kapasitas, kajian pasar, hingga advokasi kebijakan untuk mendukung implementasi SAF.
“Penandatanganan MoU ini kami harapkan menjadi akselerasi implementasi SAF di Indonesia. Dunia sudah mulai melihat kapabilitas Pertamina dalam memproduksi SAF dan produk kami juga sudah banyak dipakai di pesawat-pesawat Boeing dan sebagainya. Kolaborasi ini diharapkan semakin mengakselerasi ekosistem SAF di Indonesia,” tuturnya.
Didukung kesiapan produksi melalui Green Refinery Cilacap, pengembangan sumber bahan baku, serta kolaborasi lintas sektor, Pertamina Patra Niaga optimistis implementasi SAF di Indonesia akan semakin berkembang. Langkah ini diyakini akan mendorong terbentuknya ekosistem SAF nasional sekaligus mempercepat transisi menuju industri penerbangan yang lebih rendah emisi.









